UNAIR NEWS – Mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan program kerja bertajuk Leaf to Life: Kelor untuk Hidup Sehat pada Kamis (16/1/2026) di Balai RW 5 Kalijudan V. Program ini hadir sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan melalui pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar.
Program kerja tersebut berangkat dari permasalahan kesehatan yang ditemukan di wilayah Kalijudan V. Banyaknya pedagang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjual jajanan cepat saji menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya risiko penyakit tidak menular di wilayah tersebut.
“Setelah kami observasi lebih lanjut. Kami menemukan bahwa di desa ini lebih banyak penyakit yang tidak menular, seperti penyakit jantung, kolesterol, ataupun gula darah. Dari sini kami melakukan riset mendalam terkait penyebab dan solusi apa yang bisa mengatasi permasalahan tersebut,” ungkap Alda selaku penanggung jawab program kerja.
Daun Kelor sebagai Solusi Alami
Lebih lanjut, Alda menjelaskan bahwa tim BBK 7 berfokus pada solusi sederhana yang dapat langsung diimplementasikan oleh warga. Tanaman kelor menjadi pilihan utama karena ketersediaannya yang melimpah serta manfaatnya yang baik bagi kesehatan tubuh.
“Riset kami menemukan bahwa tanaman kelor merupakan tanaman superfood. Semua bagiannya dapat dimanfaatkan dan kaya akan kandungan mineral, vitamin, serta antioksidan tinggi. Kami merasa tanaman kelor sangat pas untuk kami sosialisasikan untuk mendorong pemanfaatannya,” jelasnya.
Pemilihan kelor untuk diolah menjadi teh bertujuan agar manfaat kandungannya dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Proses pengolahan teh kelor pun terbilang sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri oleh warga.
“Tanaman kelor ini memiliki bau yang cukup menyengat. Tanaman ini biasanya diolah menjadi makanan, seperti sayur kelor. Namun, bila diolah seperti itu maka tidak bisa dipanaskan secara berulang sehingga pemanfaatannya hanya satu kali saja. Jadi kami berpikir, bila dijadikan teh maka bisa digunakan kapan saja,” imbuhnya.
Fokus SDGs 3 dan 4
Program edukasi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDGs 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik) dan SDGs 4 (Pendidikan yang Berkualitas). Selain memberikan sosialisasi mengenai manfaat kelor, tim BBK 7 juga mengedukasi warga terkait dampak konsumsi kelor apabila dikonsumsi secara berlebihan.
“Kami sosialisasikan juga bahayanya kelor kalau dikonsumsi berlebihan. Kelor juga kurang disarankan untuk ibu yang sedang mengandung. Jadi selain kami berikan pelatihan terkait pemanfaatan serta membagikan bibit tanaman kelor untuk keberlanjutan, kami juga berikan pamflet tentang informasi seputar tanaman kelor,” paparnya.
Melalui program ini, BBK 7 berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya memanfaatkan sumber daya alam di sekitar untuk menunjang kesehatan keluarga, sehingga tercipta keluarga yang sehat di wilayah Kalijudan V.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia





