Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa UNAIR Bawakan Solusi Perdagangan Karbon dengan Teknologi Blockchain

Tim Wismilak mendapatkan juara pertama saat pengumuman pemenang Business Case Pre-Event Olimpiade Geografi dan Geosains (OGG). (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Mahasiswa UNAIR berhasil menjuarai lomba business case pre-event Olimpiade Geografi dan Geosains (OGG). Acara tersebut diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung pada Minggu (16/4/2023).

Dalam kesempatan itu, Tim “Wismilak” beranggotakan Tegar Bayu Laksmana, Brian Errando Limanjaya, dan Michelle Sebastiani Chang dari prodi Manajemen 2021. Mereka berhasil mempresentasikan karyanya dengan judul “Carbon Marketplace Based on Blockchain Technology for Indonesia Bright Future”. 

Alasan Tegar dan kawan-kawan mengikuti lomba business case adalah sebagai bentuk bonding agar ke depannya mereka bisa lebih siap untuk berkompetisi dan membangun proyek jangka panjang. Mulanya, mereka tidak menargetkan untuk menjadi juara, tetapi ide yang mereka bawa berhasil meyakinkan juri sehingga membawa mereka menjadi juara pertama. 

Perdagangan Karbon Berbasis Teknologi Blockchain

“Awal mula dari ide ini sebenarnya cukup sederhana. Jadi kami mau bikin aplikasi yang memfasilitasi perdagangan karbon gitu. Namun, karena kami rasa terlalu sederhana, akhirnya kami tambahkan teknologi blockchain buat meyakinkan juri,” ujar Tegar saat wawancara secara daring pada Kamis (20/4/2023). 

Tim Wismilak saat mempresentasikan proposal pada sesi final Business Case Pre-Event Olimpiade Geografi dan Geosains (OGG). (Foto: SS Zoom)

Konsep perdagangan karbon yang merupakan gagasan tim Wismilak bertujuan agar pemilik perusahaan atau industri besar yang menghasilkan karbon dapat membayar kepada UKM yang bergerak pada bidang energi baru terbarukan. Uang hasil kompensasi itu akan dibuat untuk mendanai proyek energi baru terbarukan, misal pembuatan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pebangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan lain sebagainya. 

Namun, Tegar dan kawan-kawan menyadari kelemahan dari perdagangan karbon adalah duplikasi sertifikat karbon. Hal itu dapat digunakan oleh korporat yang nakal untuk mengurangi biaya kompensasi. Oleh karena itu, mereka mengadopsi teknologi blockchain di mana setiap transaksinya memiliki kode unik yang tidak bisa diduplikasi.

“Jadi perdagangan karbon itu ada dua, perdagangan karbon compliance market dan volunteer market. Kalau compliance market itu buat antara perusahaan dengan pemerintah, sedangkan volunteer market buat perusahaan dengan UKM. Kami sendiri pakai yang volunter market untuk mendanai proyek yang bisa mengurangi karbon sehingga bisa mendukung upaya transisi energi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” terang mahasiswa Manajemen UNAIR tersebut. 

Pengalaman Berharga

“Untuk kendala sendiri tentu ada. Kalau proses pembuatan proposal itu ya cari waktu senggangnya karena kebetulan nabrak sama jadwal UTS. Kalau sesi presentasi sendiri itu jujur kami kurang percaya diri waktu jawab pertanyaan dari juri,” ungkap Tegar. 

Pada tahap final, tim Wismilak harus melakukan presentasi di hadapan dua juri, yaitu Prof Dr Aswan ST MT selaku Guru Besar di Bidang Paleontologi dan Geologi Kuarter dan Clint Gunawijaya selaku pengusaha dan lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB.

“Jujur ikut OGG ini mahal di feedback dan masukan dari para juri. Masukan dari para juri sangat membantu kami buat menyempurnakan proyek perdagangan karbon yang kami rancang. Rencananya, proyek perdagangan karbon ini akan kami lombakan lagi di kompetisi yang akan datang,” imbuh Tegar sembari menutup wawancara.

Penulis: Adil Salvino Muslim

Editor: Nuri Hermawan