Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa UNAIR Tawarkan Strategi Forklift Berbasis Transisi Energi

Potret Mahasiswa UNAIR Raih Juara 3 Business Case Competition Azmiyah Tsauroh (kiri), Izza Widiafikri (tengah), dan Renaldi Setiawan (kanan). (Foto:Istimewa).
Potret Mahasiswa UNAIR Raih Juara 3 Business Case Competition Azmiyah Tsauroh (kiri), Izza Widiafikri (tengah), dan Renaldi Setiawan (kanan). (Foto:Istimewa).

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan daya saingnya di tingkat nasional. Kali ini, Renaldi Setiawan, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, berhasil meraih juara tiga Business Case Competition. Pada ajang NBCC Young Entrepreneur Day (YED) UI 2025, bersama dua rekannya dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 

Kompetisi itu diikuti lebih dari 150 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, sehingga persaingan berlangsung ketat dan menantang. Penganugerahan pemenang berlangsung pada Sabtu (20/12/2025).

Dalam kompetisi tersebut, tim mengangkat studi kasus PT Bina Pertiwi, anak perusahaan Astra International yang bergerak sebagai distributor resmi Komatsu Forklift. Perusahaan ini menghadapi tantangan besar akibat masuknya produk forklift asal Tiongkok yang harganya jauh lebih murah, serta perubahan pasar yang mulai beralih ke forklift listrik dan rendah emisi.

Menjawab tantangan tersebut, tim menawarkan solusi bertajuk 3S with Forklift Strategy. “Strategi ini mengombinasikan segmentasi sumber energi, skema pembiayaan yang fleksibel, dan rencana transisi energi jangka panjang. Pendekatan ini kami rancang agar mampu menjawab tekanan pasar sekaligus selaras dengan agenda keberlanjutan dan target Net Zero Emission,” jelas Renaldi.

Renaldi menjelaskan bahwa permasalahan utama yang diangkat adalah dilema pemilihan sumber energi forklift mulai dari lead acid, lithium-ion, hingga hydrogen fuel cell yang harus mempertimbangkan biaya, kesiapan infrastruktur, keamanan, dan kebijakan lingkungan di Indonesia.

“Solusi kami tidak memaksakan satu teknologi, tetapi menyesuaikan jenis energi dengan karakteristik industri, total cost of ownership (TCO), dan kesiapan pasar. Ini membuat strategi lebih aplikatif dalam konteks Indonesia yang heterogen,” ujarnya.

Proses analisis dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemetaan masalah menggunakan SCQ framework, hingga analisis SWOT, Porter’s Five Forces, McKinsey 7S, serta simulasi emisi gas rumah kaca (GHG). Rekomendasi akhir disajikan lengkap dengan rencana implementasi dan proyeksi dampak bisnis.

Sebagai tim lintas kampus, pembagian peran dilakukan berdasarkan keahlian. Renaldi berfokus pada analisis pasar dan strategi bisnis, sementara anggota dari ITS mendalami aspek teknologi, energi, keselamatan, dan emisi. 

Menurut Renaldi, pembelajaran paling berharga dari kompetisi ini adalah pentingnya menghadirkan solusi bisnis yang berbasis data, kontekstual, dan dapat diimplementasikan. “Isu keberlanjutan dan transisi energi kini bukan lagi pelengkap, melainkan inti dari strategi bisnis masa depan,” tuturnya.

Ke depan, tim berharap dapat terus mengembangkan kompetensi di bidang bisnis strategis dan transisi energi, serta melanjutkan kolaborasi lintas kampus untuk menghasilkan solusi nyata bagi industri di Indonesia. (*)

Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia