UNAIR NEWS – Di Desa Pemuteran, Kabupaten Karangasem, Bali,sebagian besar warga masih menggunakan penampungan air hujan sebagai sumber air. Anak-anak tumbuh dengan keterbatasan akses belajar yang layak. Di tengah ketimpangan ini, 53 mahasiswa dari berbagai belahan dunia datang, bukan sekadar berkunjung, tetapi hadir dan bergerak bersama dalam Global MedAction 2026.
Kolaborasi Dua Organisasi, Satu Tujuan
Global MedAction 2026 lahir dari kolaborasi antara Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) dan Perhimpunan Kedokteran Luar Negeri Indonesia Tiongkok (Perluni Tiongkok). Keduanya bersatu dengan satu visi yakni membawa pelayanan nyata ke masyarakat yang membutuhkan.
Jauh sebelum hari-H, tim panitia turun langsung melakukan survei. Berdiskusi dengan warga, memetakan kebutuhan nyata, dan meletakkan pijakan untuk merancang intervensi dalam pengabdian masyarakat. Puskesmas dan tenaga medis ahli dirangkul untuk bersama-sama memberikan intervensi kesehatan berupa penyuluhan, cek kesehatan, dan konsultasi.
Dari Halaman Sekolah Jadi Klinik Dadakan
Pada 31 Januari 2026, halaman dan ruang kelas SDN 05 Pempatan berubah menjadi pusat layanan kesehatan dadakan. Warga antri untuk mendapatkan pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, dan banyak lagi secara gratis. Dr. Johannes Tanaka atau yang biasa dikenal sebagai dokter Jota memberikan edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang bijak serta kesehatan kulit kepada warga.
Tak berhenti di sana, tim kemudian berpencar ke gang-gang desa untuk melakukan home visit. Di sana mereka melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta memberikan multivitamin kepada keluarga sasaran. Bagi warga yang terdata sebagai keluarga tidak mampu, sembako juga turut diserahkan dari pintu ke pintu bersama dengan pemeriksaan kesehatan gratis.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3, yakni memastikan kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.
Ruang Kelas Darurat
Esok harinya, 1 Februari 2026, anak-anaklah yang menjadi bintang utama. Di rumah Ibu Made, seorang warga lokal dengan tangan terbuka menyediakan ruangnya sebagai ruang kelas darurat. Decak tawa dan semangat belajar memenuhi suasana pagi hari. Di sini, anak-anak diajarkan membaca, berhitung, dan bahasa Inggris.
Gambar 2. Intervensi Pendidikan di Rumah Bu Made
Yang berkesan adalah sesi drama motivasi. Panitia menyuguhkan sebuah pentas pendek untuk memantik imajinasi anak-anak, bahwa cita-cita besar bukan hanya milik anak-anak kota. Edukasi kesehatan juga diselipkan dalam pentas ini.
Kegiatan ini menjadi wujud kecil dari SDG 4 tentang pendidikan berkualitas. Setiap anak, di mana pun ia berada, berhak atas pengalaman belajar yang bermakna dan menginspirasi.
Belajar dari Rumah Sakit Kelas Dunia
Kunjungan ke Bali International Hospital pada 2 Februari 2026 turut melengkapi perjalanan ini. Para peserta menyaksikan langsung kecanggihan peralatan kedokteran hasil kolaborasi internasional — kemitraan dengan Jepang di bidang kardiologi dan Australia di bidang onkologi.
Gambar 3. Kunjungan ke Bali International Hospital
Kontras yang muncul antara fasilitas rumah sakit bertaraf dunia dengan kondisi desa yang baru saja mereka tinggalkan menjadi pengingat diam-diam: bahwa kemajuan tidak selalu merata, dan di situlah justru peran mahasiswa kedokteran paling dibutuhkan.
Lebih dari Sekadar Pengabdian Masyarakat
Secara keseluruhan, Global MedAction 2026 tidak hanya menyuguhkan sertifikat atau pengalaman, tetapi juga perspektif tentang ketimpangan yang masih ada dan betapa besar peran yang bisa dimainkan oleh satu orang bila memilih untuk bergerak. Kegiatan ini membuktikan bahwa universitas adalah jembatan antara ilmu dan kehidupan, mahasiswa dan masyarakat, cita-cita dan realita.
Di atas kertas, ini adalah program pengabdian masyarakat hasil kolaborasi. Dalam kenyataannya, ini adalah bukti bahwa komitmen terhadap SDG 3 dan SDG 4 tidak harus menunggu kebijakan besar, tetapi cukup dimulai dari langkah kaki menuju yang membutuhkan.





