Masih banyak penderita diabetes melitus (DM) yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. Perawatan mandiri diperlukan untuk mengontrol kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan manajemen perawatan diri diabetes dengan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2 (T2DM). Penelitian ini menggunakan desain korelasional. Data dikumpulkan dari Poliklinik Penyakit Dalam RS William Booth Surabaya. Variabel terikatnya adalah glukosa darah dan variabel bebasnya adalah manajemen perawatan diri diabetes. Responden yang berjumlah 99 orang tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi adalah pasien DMT2, berusia antara 45 dan 64 tahun. Kami menggunakan ringkasan aktivitas perawatan diri diabetes untuk menilai manajemen perawatan diri dan kadar gula darah diukur menggunakan tes glukosa darah kapiler. Chi-square digunakan untuk menghitung hubungan antara manajemen perawatan diri diabetes dan kadar glukosa darah. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan manajemen perawatan diri diabetes yang baik memiliki kadar gula darah yang baik dan terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen perawatan diri diabetes dengan kadar gula darah pada pasien DMT2 (p<0,05). Peningkatan manajemen perawatan mandiri diabetes pada pasien T2DM diperlukan untuk mengontrol kadar glukosa darah.
Diabetes mellitus (DM) masih menjadi masalah di seluruh dunia [1], dan meningkat di negara-negara berkembang [2]. Diabetes merupakan suatu kondisi kronis akibat peningkatan kadar glukosa darah akibat pankreas tidak dapat memproduksi insulin secara memadai [2]. Fungsi insulin adalah mengatur gula darah. Selain itu, masih banyak penderita DM yang kadar gula darahnya tidak terkontrol. Kondisi ini dipicu oleh faktor genetik dan gaya hidup atau manajemen perawatan diri diabetes yang buruk. Manajemen perawatan diri diabetes yang buruk berdampak pada peningkatan kadar gula darah [3]. Data menunjukkan bahwa secara global di seluruh dunia terdapat 425 juta orang atau 8,8% orang yang diperkirakan menderita DM. Keadaan ini diperkirakan akan meningkat menjadi 629 juta orang pada tahun 2045. Sedangkan jumlah penderita DM di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2017 sebanyak 159 juta orang dan diperkirakan juga akan meningkat sebesar 15% atau sekitar 183 juta orang pada tahun 2045 [4 ]. Indonesia menduduki peringkat ke-6 dari 10 negara dengan jumlah penderita DM terbanyak. Terdapat 10.3 ISSN: 2252-8806 Int J Public Health Sci, Vol. 12, No.3, September 2023: 1165-1170 1166 juta orang menderita DM pada tahun 2017. Prevalensi DM di Indonesia meningkat menjadi 2,0% dari 1,5% pada kelompok usia >15 tahun. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur, penderita DM setiap tahunnya mengalami peningkatan, khususnya di Kota Surabaya. Faktor yang mempengaruhi tingginya kadar glukosa darah pada pasien DM adalah manajemen perawatan diri diabetes yang buruk [5]. Manajemen perawatan diri diabetes mengacu pada manajemen penyakit pasien, yang terdiri dari kepatuhan pengobatan, diet, latihan fisik, kontrol glukosa darah, perawatan kaki, dan berhenti merokok [6] – [8]. Manajemen perawatan diri memungkinkan orang untuk mencegah, mengenali, dan mengelola penyakit. Kondisi ini mengurangi komplikasi jangka panjang, meningkatkan hasil kesehatan, kualitas hidup, serta kesejahteraan [9], [10]. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa manajemen perawatan diri diabetes dapat mengontrol kadar gula darah dan juga mengurangi faktor risiko komplikasi pada penderita DM [9], [10] Memahami hubungan antara manajemen perawatan diri diabetes dan kadar glukosa darah dapat digunakan sebagai bukti untuk intervensi di masa depan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan manajemen perawatan diri diabetes dengan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 (T2DM).
Salah satu penatalaksanaan untuk mengendalikan kadar glukosa darah adalah diet karbohidrat, hal ini berpengaruh terhadap kadar glukosa darah [18]. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa asupan rendah karbohidrat berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien T2DM [19,20]. Selanjutnya, kebiasaan makan juga berpengaruh pada sindrom metabolik dan kadar glukosa darah [21,22]. Olah raga merupakan salah satu strategi dalam manajemen perawatan diri diabetes. Dapat mengontrol kadar glukosa darah dan meningkatkan sensitivitas insulin [23]. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa latihan fisik seperti yoga dapat mengontrol kadar glukosa pada ibu hamil dengan DM gestasional [24]. Kepatuhan minum obat merupakan bagian dari manajemen perawatan diri diabetes untuk mengendalikan gula darah. Banyak pasien kesulitan untuk mengikuti pengobatan yang direkomendasikan [25]. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan minum obat dengan kadar glukosa darah [26]. Kepatuhan pengobatan dalam perawatan diri diperlukan untuk mencegah ISSN: 2252-8806 Int J Public Health Sci, Vol. 12, No.3, September 2023: 1165-1170 1168 komplikasi. Pemantauan diri juga diperlukan dalam manajemen perawatan diri diabetes. Pemantauan mandiri meliputi pengendalian glukosa darah, perawatan kaki, dan pengukuran berat badan [27]–[29]. Pemantauan mandiri dapat mengurangi komplikasi, seperti ulkus kaki diabetik [30]. Selain itu, berhenti merokok juga menjadi strategi untuk mengontrol kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi [31]. Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini dipertimbangkan, seperti durasi penyakit dan penyakit penyerta. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mempertimbangkan faktor-faktor pendiri ini. Selain itu diperlukan studi longitudinal, karena penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Meski demikian, penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen perawatan diri diabetes dengan kadar gula darah pada pasien DMT2.
Penulis: Erika Untari Dewi, Ni Putu Widari, Nursalam Nursalam, Mahmudah Mahmudah, Esti Yunita Sari, Yohana Fransiska Ning Susiana
Link Artikel:
Link Scopus:





