Dispepsia menjadi penyakit yang paling umum kelima pada pasien rawat inap dan menjadi penyakit dengan urutan keenam pada pasien rawat jalan di Indonesia. Kondisi ini sering berhubungan dengan infeksi Helicobacter pylori, patogen lambung yang menyebabkan penyakit gastrointestinal (GI) termasuk gastritis, sel B lambung limfoma, ulkus peptik gastroduodenal, dan lambung adenokarsinoma. Meskipun prevalensi infeksi H. pylori di negara tetangga dan di negara-negara Asia cenderung tinggi, namun Indonesia menjadi berbeda karena tingkat infeksi bakteri ini cenderung rendah pada populasi umum tetapi prevalensi angka kejadian dispepsia tetap tinggi pada populasi umum yang terinfeksi H. pylori. Karena itu, perlu dilakukan pendekatan yang berbeda untuk mengatasi dispepsia dan infeksi H. pylori di Indonesia secara efektif.
Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil review di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Gut Pathogens. Dalam review ini, penulis memberikan gambaran bahwa Dispepsia masih menjadi tantangan utama pada penyakit saluran cerna bagian atas di Indonesia. Penyakit ini sering berkorelasi dengan infeksi Helicobacter pylori. Namun, prevalensi bakteri ini umumnya rendah di Indonesia. Oleh karena itu, beberapa pertimbangan harus dipertimbangkan selama pengelolaan dispepsia dan H.
infeksi pylori. Naskah publikasi ini terdiri dari informasi yang dikumpulkan dari 22 pusat gastroenterologi di seluruh Indonesia. Dalam publikasi naskah ini penulis mengumpulkan pendapat para ahli dari seluruh negara untuk meninjau dan menilai aspek klinis dispepsia dan infeksi H. pylori. Dua puluh delapan ahli gastroenterologi dan dokter melakukan diskusi dalam pertemuan terpadu dan mengembangkan pernyataan-pernyataan dalam konsensus, nilai dari rekomendasi, tingkat bukti, dan alasan untuk manajemen dispepsia dan infeksi H. pylori dalam praktek sehari-hari di Indonesia. Para ahli berkumpul untuk berevolusi konsensus, yang terdiri dari pernyataan, nilai rekomendasi, tingkat bukti, dan alasan untuk dispepsia dan manajemen infeksi H. pylori untuk praktik klinis sehari-hari. Laporan tersebut menjelaskan beberapa aspek dari memperbarui informasi epidemiologi untuk terapi manajemen yang komprehensif. Setelah para ahli bekerja sama dalam menyusun semua pernyataan dalam rekomendasi, hasilnya disajikan dengan kesepakatan akhir sebagai konsensus untuk membantu klinisi dalam memahami, mendiagnosis, dan merawat pasien dispepsia dan infeksi H. pylori dalam praktik klinis sehari-hari
di Indonesia. Selain itu, pedoman konsensus ini berisi topik khusus tentang manajemen dispepsia pada pasien dengan COVID-19. Dalam consensus terdapat salah satu rekomendasi yang kuat dalam manajemen dyspepsia yang menyatakan bahwa pasien dengan dispepsia harus menjalani pengobatan awal dengan terapi pompa proton inhibitor (PPI) dengan atau tanpa prokinetik jika tidak ada tanda gejala. Alasan pernyataan tersebut adalah terapi PPI dianggap lebih unggul daripada terapi plasebo atau antasida dalam mengobati Dispepsia. Strategi test and treat mungkin dapat menghemat biaya apabila diterapkan pada daerah-daerah di Indonesia dengan prevalensi infeksi H. pylori yang tinggi. Terapi yang diikuti dengan olahraga harus digunakan dengan hati-hati dan pada dosis efektif terendah (misalnya, metoclopramide selama <12 minggu, dosis domperidone≤30 mg setiap hari.
Konsensus baru untuk Indonesia ini dikembangkan untuk meringkas teori dan perspektif saat ini pada dispepsia dan infeksi H. pylori dari beberapa pedoman dan selanjutnya disesuaikan dengan kondisi Puskesmas di Indonesia. Di masa depan, dengan frekuensi minimal 5 tahun sekali, laporan consensus seperti ini akan diperbarui sebagai pengetahuan dan pemahaman tentang dispepsia dan infeksi H. pylori yang meningkat.
Penulis: Muhammad Miftahussurur
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada link artikel berikut :
https://gutpathogens.biomedcentral.com/articles/10.1186/s13099-023-00551-2





