Ameloblastoma adalah tumor kepala dan leher yang sangat jarang ditemukan. Kasus ini lebih sering ditemukan pada individu yang berusia 30-40 tahun. Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, tetapi inflamasi, trauma kronis dan kemungkinan infeksi HPV yang sangat kuat diduga menjadi faktor munculnya ameloblastoma. Penyakit ini dapat menyebabkan disabilitas berat, mempengaruhi struktur anatomi jalur napas yang biasanya secara langsung mempengaruhi ventilasi dan teknik intubasi. Ameloblastoma diatasi dengan tindakan operasi, proses ini membutuhkan anestesi yang penuh tantangan bagi anestesiologis. Tumor ini juga dapat menyebabkan kesulitan dalam membuka mulut (trismus) dan penyebaran ke dalam mulut (intraoral extension) yang dapat mengakibatkan sumbatan jalan napas dan kesulitan dalam melihat pita suara saat intubasi.
Seorang wanita berusia 36 tahun, dengan berat badan 50 kg dan tinggi badan 151 cm (BMI 21,92) didiagnosa ameloblastoma. Pasien datang mengeluhkan kesulitan membuka mulutnya. Keluhan yang ada terjadi sejak empat bulan sebelumnya, yang diikuti dengan keluhan lain yaitu kesulitan mengunyah, kekakuan dan nyeri pada rahang bawah setelah operasi ameloblastoma pada tahun 2021. Pasien menjalani operasi reseksi mandibular kiri, rekonstruksi dengan pelat dan cangkok tulang pada Maret 2021 di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Pasien tidak mengeluhkan demam, keluarnya darah dan nanah, serta menyatakan tidak memiliki riwayat penyakit tertentu dan tidak ada riwayat alergi obat. Sebelum tindakan operasi, pasien menjalani pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya deformitas wajah, dan pasien hanya mampu membuka mulut dengan lebar maksimum 1,5 cm.
Hasil foto toraks polos dan EKG dalam batas normal. Foto panoramik menunjukkan bahwa terlihat lesi amputasi pada korpus mandibula kiri hingga korpus mandibula kanan dengan fiksasi internal terpasang. Pada pasien ini ditemukan pelat mandibula yang terbuka, riwayat reseksi mandibula kiri, rekonstruksi pelat, cangkok tulang, dengan etiologi ameloblastoma mandibula kiri. Adapun tindakan yang direncanakan adalah pengangkatan pelat. Disamping itu pasien ini memiliki status ASA 3, dengan tantangan jalan napas sulit. Sehingga tindakan yang direncanakan adalah intubasi sadar menggunakan fiberoptic laryngoscope.
Awake intubation dipilih sebagai pendekatan yang paling sesuai untuk mengelola jalan napas karena memenuhi kriteria pertama dari intubasi sadar pada pasien ini. Pada kasus ameloblastoma, tantangan muncul akibat deformitas wajah dan keberadaan massa besar yang membuat pemasangan masker wajah atau intubasi menggunakan laringoskopi langsung menjadi tidak efektif. Dalam situasi dimana pengelolaan jalan napas sulit, pasien diharuskan mempertahankan pernapasan spontan, sehingga penggunaan pelemas otot menjadi tidak tepat. Oleh karena itu, penting untuk memastikan pemahaman dan kerja sama pasien selama proses intubasi.
Studi kasus ini menunjukkan penanganan jalan napas yang mahir pada pasien dengan ameloblastoma berukuran besar, menggunakan awake nasal fiberoptic laryngoscopy (FOL). Penggunaan FOL menjadi alternatif yang aman untuk mendapatkan akses visual ke jalan napas pada pasien dengan kondisi jalan napas yang sulit, terutama ketika penggunaan laringoskopi langsung tidak memungkinkan.
Pasien menjalani intubasi melalui jalur nasal menggunakan endotracheal tube (ETT) non-kinking. Keputusan untuk menggunakan jalur nasal didasarkan pada keberadaan massa besar yang menghalangi rongga mulut dan dasar mulut pasien. Massa tersebut bersifat rapuh, sehingga intubasi melalui jalur oral berpotensi mengganggu area operasi bagi dokter bedah. Pemilihan ETT non-kinking dilakukan karena tabung ini memiliki fleksibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan ETT yang rentan mengalami kinking (tekukan). Penggunaan ETT non-kinking bertujuan untuk mengurangi risiko komplikasi jalan napas akibat kinking, seperti gangguan ventilasi, penyumbatan lendir, bronkospasme, blokade ETT, intubasi bronkial yang tidak disengaja, pneumotoraks, atau kondisi paru-paru lainnya. Dengan pendekatan ini, pengelolaan jalan napas pasien dilakukan secara aman dan efektif, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan operatif dan kenyamanan pasien.
Identifikasi yang akurat terhadap pasien dengan kesulitan jalan napas merupakan elemen penting dalam menentukan keberhasilan proses intubasi di ruang operasi. Dalam kasus ini, operasi berjalan lancar, pasien tetap bernapas secara spontan, berhasil diekstubasi, dan berada dalam kondisi sadar penuh setelah tindakan. Hal ini mencerminkan pentingnya pemilihan metode yang sesuai untuk pengelolaan jalan napas pada kondisi kompleks, seperti ameloblastoma, demi menjamin keamanan dan kenyamanan pasien selama prosedur.
Penulis: Dr. Maulydia, dr., SpAn-TI., Subsp.TI (K)
Link: https://www.pjlss.edu.pk/pdf_files/2024_1/5210-5217.pdf
Baca juga: Kelainan Kulit yang Dapat Menjadi Petanda Adanya Tumor pada Organ Dalam





