Universitas Airlangga Official Website

Manfaat Alga Coklat  sebagai Biosorbsi Limbah Timbal dari Perairan Gresik

Foto oleh biolib.cz

Gresik merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang memiliki potensi besar di sektor perikanan. Wilayah perairan Kabupaten Gresik sebsar 5.773,80 km2 dan sektor perikanannya memiliki nilai produksi sebesar 287.206.353 ton. Namun, potensi perikanan di Gresik terancam oleh limbah industri, terutama timbal (Pb). Beberapa metode telah diterapkan untuk menurunkan kandungan logam berat dalam air seperti absorpsi, deposisi, dan pertukaran ion. Di antara metode tersebut, bisorpsi yang paling umum digunakan karena lebih sederhana dan lebih ekonomis. Salah satu sumber penyerap yang menjanjikan adalah rumput laut alga coklat (Sargassum crassifolium) karena ketersediaannya dan harganya yang murah. Hal ini dikarenakan sebagian besar permukaan rumput laut bermuatan negatif, sehingga memiliki afinitas yang besar terhadap kation logam. Proses biosorpsi ini dapat terjadi karena adanya bahan biologis yang disebut bio absorben dan adanya larutan yang mengandung logam berat sehingga mudah terikat pada bio absorben. Penelitian ini akan bertujuan untuk mengetahui penyerapan ion logam berat oleh Sargassum crassifolium dalam bentuk basah, kering dan alginat.

Metode dan Hasil

Sampel air diperoleh dari Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik (Titik 1: 6o85’8.43”LS, 112o60’44.27”BT, Titik 2: 6o84’1.55”LS, 112o64’21.93”BT, Point 3: 6o87’9.05”S, 112o63’1.55”S). Alga coklat (S. crassifolium) didapat dari Pulau Talango, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura (7o08’87.15”LS, 114o01’3.12”BT). Alga coklat digunakan dalam bentuk basah, kering, dan alginat. Pengukuran logam berat menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (AAS). Efektivitas ketiga perlakuan tersebut diuji berdasarkan waktu kontak dan biomassa. Berdasarkan waktu kontak, masing-masing perlakuan dibandingkan dengan waktu kontak yang berbeda, yaitu 1, 7, dan 14 hari dengan massa 10 g per perlakuan. Sedangkan berdasarkan biomassa, masing-masing perlakuan dibandingkan dengan berat yang berbeda (10, 20, dan 30 g) dalam rentang waktu penelitian 7 hari. Berdasarkan waktu kontak, hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu 14 hari, bentuk alginat dari S. crassifolium memiliki daya serap yang paling tinggi yaitu 1,370±0,0034 mg.L-1 dengan persentase  timbal yang diserap mencapai 100%. Berdasarkan biomassa, 10 g alginat memberikan hasil terbaik dengan serapan timbal sebesar 1,364±0,0028 mg.L-1 dan nilai serapan 99,71%. Penelitian ini menunjukkan bahwa 10 g alginat S. crassifolium dalam 14 hari efektif sebagai bioabsorben logam berat timbal.

Penulis: Muhammad Browijoyo Santanumurti, S.Pi., M.Sc.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ijms/article/view/44908/pdf

Mas’ Ud, F., Santanumurti, M. B., Gabr, M. H., Jamal, M. T., Fanni, N. A., & Saad, M. (2022). Lead (Pb) Biosorption by Intact Biomass and Alginate Extract of Sargassum crassifolium Originated from Gresik Regency Waters. Indonesian Journal of Marine Sciences/Ilmu Kelautan27(2), 159-168. https://doi.org/10.14710/ik.ijms.27.2.159-168