Universitas Airlangga Official Website

Manfaatkan Serai Lokal, Tim BBK 7 Dorong Pencegahan DBD Jadi Nilai Ekonomi

Praktik langsung pembuatan spray anti nyamuk oleh tim KKN BBK-7 Lasem
Praktik langsung pembuatan spray anti nyamuk oleh tim KKN BBK-7 Lasem (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Musim hujan yang disertai pancaroba saat ini memicu meningkatnya populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Merespons situasi tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi pemanfaatan tanaman serai sebagai pembasmi nyamuk alami.

Dalam memperkenalkan inovasi itu, mahasiswa BBK 7 Lasem menyelenggarakan kegiatan sosialisasi bahaya penyebaran DBD hingga cara pencegahan dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Berlangsung pada Kamis (15/1/2026) di Balai Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik yang menghadirkan kader PKK dan masyarakat setempat. 

“Karena ibu-ibu kader dan PKK memiliki jaringan sosial yang luas untuk menyebarluaskan ilmu. Selain itu, kami memilih warga gang 4 karena wilayah ini memiliki potensi tanaman serai yang melimpah,” tutur Raudhah Nisrina Qurrota Aini salah satu anggota tim. 

Adanya permasalahan tersebut, juga potensi tanaman serai yang melimpah di Desa Lasem, Nisrina dan tim mengajari cara pencegahan melalui praktik langsung pengolahan tanaman serai menjadi spray anti nyamuk. Praktik itu mereka berikan mulai dari pengolahan hingga cara pengemasan produk. 

“Kami jelaskan juga alat dan bahan hingga cara pembuatannya. Menindaklanjuti itu kami memberi materi terkait manfaat ekonomi dan analisis SWOT terhadap produk spray serai anti nyamuk,” ujar Nisrina. Dari hal tersebut, mereka harapannya dapat menerapkannya sendiri di rumah dan memberikan nilai jual dalam penghasilan masyarakat setempat. 

Sosialisasi bahaya DBD kepada masyarakat di Balai Desa Lasem
Sosialisasi bahaya DBD kepada masyarakat di Balai Desa Lasem (Foto: Dok. Narasumber)

Nisrina menambahkan bahwa tantangan dalam pelaksanaan kegiatan ini tidak bersifat teknis lapangan. Melainkan pada tahap prosedur dan teknis produksi, mengingat inovasi ini merupakan hal baru bagi tim maupun masyarakat.

Nisrina menjelaskan juga sosialisasi itu menuai respons dari peserta yang sangat antusias. Hal tersebut yang dapat ia lihat dari keaktifan audiens dalam sesi diskusi, termasuk pertanyaan seputar daya tahan spray serai dan estimasi biaya produksi. Antusiasme ini menunjukkan ketertarikan masyarakat untuk mengaplikasikan inovasi tersebut secara mandiri.

Melalui program ini, mahasiswa BBK-7 berharap peserta yang hadir dapat menjadi agent of change bagi lingkungan sekitar. “Semoga cara pembuatan spray alami ini bisa diajarkan kembali ke keluarga dan tetangga terdekat. Sehingga seluruh warga Desa Lasem bisa bersama-sama mencegah DBD dengan cara yang mudah dan murah,” pungkasnya. 

Penulis: Adinda Octavia Setiowati

Editor: Yulia Rohmawati