Habitat mangrove merupakan daerah pasang surut penting yang ditemukan di lokasi tropis dan subtropis. Mangrove menunjukkan tingkat produktivitas primer yang sangat tinggi, yang menopang berbagai spesies dan menawarkan layanan ekosistem penting bagi masyarakat pesisir, termasuk sumber daya perikanan dan peluang pariwisata. Mangrove berfungsi sebagai penghalang yang efektif terhadap masuknya air laut dan berfungsi sebagai pertahanan alami terhadap banjir. Lebih jauh lagi, hutan mangrove berfungsi sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) dan karenanya memiliki peran penting dalam membantu upaya untuk mengurangi perubahan iklim.
Pada tahun 2013, wilayah pesisir Pulau Flores di Indonesia, yang membentang dari Ende hingga Sikka, direboisasi dengan bibit mangrove asli seperti Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Ceriops tagal dan lain-lain. Inisiatif ini, yang didukung oleh Amsterdam Institute for International Development, bertujuan untuk meregenerasi ekosistem mangrove. Proyek reboisasi ini dilakukan melalui upaya kolaboratif dengan penduduk setempat. Sejak tahun 2015 dan seterusnya, evaluasi wajib dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup tanaman muda setelah tumbuh. Penilaian upaya restorasi di Indonesia biasanya hanya berlangsung selama 2 tahun dan terutama berfokus pada tingkat kelangsungan hidup, mengabaikan untuk memeriksa kemanjuran pemulihan ekosistem atau mengevaluasi keuntungan jangka panjangnya. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan dan evaluasi yang luas dan berkelanjutan untuk memastikan keberhasilan ekosistem dalam jangka waktu yang lama. Indikator digunakan untuk mengautentikasi dampak reboisasi yang berkelanjutan terhadap pemulihan hutan bakau, khususnya dalam bidang pelestarian keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim, dan kemajuan energi terbarukan.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.





