Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa setiap makhluk di langit, di bumi, dan di antara keduasanya senantiasa bertasbih dan memuji Tuhan Yang Maha Esa. Namun sayangnya sebagian besar manusia tidak mampu mendengar dan mengetahui pujian para makhluk tersebut kepada Sang Pencpitanya. Manusia juga memiliki kesadaran dan apresiasi terhadap tumbuhan, dengan segala ketidakmampuannya dalam mengerti bahasa tumbuhan. Manusia sadar bahwa manusia membutuhkan tumbuhan dan sebaliknya. Kisah hubungan antara manusia dengan hewan ini diungkap dalam Lontar Juwarsah.
Lontar Juwarsah tergolong masih muda. Manuskrip yang ditulis disalin oleh Suhaimi ini berusia 56 stahun. Suhaimi memulisnya berdasarkan paparan lisan dari eyang buyutnya, Mbah Jannah, seorang tokoh masyarakat di daerah Cungking Banyuwangi. Lontar ini ditulis dalam bahasa Jawa dalam huruf pegon, atau Arab Jawa. Manuskrip Lontar Juwarsah ini kemudian dialih-mediakan menjadi naskah digital oleh DREAMSEA yang diberi kode DS 003900001.
Manuskrip ini sebetulnya mencertikan kisah percintaaan antara Juwarsah dengan kekasihnya Sinarahwulan. Kisah Juwarsan dan Sinarahwulan ini pernah merakyat di daerah pantai utara pulau Jawa, di Bali, dan di Lombok. Kisah percintaan ini juga terdapat dalam Kentrung Sinarahwulan dari Tuban. Di samping kisah percintaan yang sudah menyebar di berbagai tempat tersebut, Lontar Juwarsah juga menyimpan kisah tentang hubungan antara mausia dan tumbuhan.
Hubungan antara manusia dan tumbuhan terdapat dalam tradisi literatur timur maupun barat. Kisah-kisah tersebut, misalnya, menyebutkan tentang ketakjuban, personifikasi, dan fantasi tumbuhan. Ada pula yang menunjukkan bahwa spiritualitas manusia dapat terbentuk melalui kemampuannya dalam memaknai bahasa dan gesture tumbuhan. Semua karya tersebut menunjukkan adanya kesadaran manusia bahwa tumbuhan itu pun makhluk hidup, sama seperti hewan, sehingga perlu diwujudkan dalam berbagai kisah agar kesadaran tersebut meluas.
Dalam tradisi Jawa, terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dipercaya memiliki kekuatan magis, di antaranya pohon Sawo Kecik, pohon Beringin, dan daun Kelor. Pohon Sawo kecik diyakini memiliki aura kewibawaan. Pohon Beringin dipercaya menjadi tempat hunian makhluk halus. Daun kelor diyakini mampu menangkal santet. Salah satu babakan dari kisah dalam Lontar Juwarsah ada yang mengaitkan dengan salah satu pohon yang dianggap memiliki kekuatan magis tersebut.
Peristiwa yang mengaitkan hubungan manusia dengan tumbuhan tersebut terdapat pada adegan ketiga, yakni ketika Sinarahwulan berubah menjadi lelaki dengan menyembunyikan identitas kewanitaannya. Dia menitipkan buah dadanya pada pohon Cangkring, sementara rambutnya pada pohon Beringin. Pada adegan sebelumnya, Sinarahwulan menggunakan kulit pohon kayu (babakan) untuk menghidupkan kembali Juwarsah dan Raden Galuh. Setelah Sinarahwulan menjadi lelaki, ia menyatakan keinginannya pada buah dari pohon Elo pada seorang brahmana.
Secara menyeluruh, relasi manusia dengan tumbuhan pada manuskrip ini ialah antara manusia dengan padi, manusia dengan kulit pohon, manusia dengan pohon elo, serta manusia dengan pohon Cangking dan pohon Beringin. Hubungan-hubungan yang terjadi antara manusia dengsn berbagai tumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pada prinsipnya keduanya memiliki hubungan yang saling membutuhkan dan mutualistis. Padi merupakan bahan pangan bagi manusia, meskipun padi juga membutuhkan peran manusia untuk melangsungkan hidupnya. Kulit kayu dapat dijadikan sebagai bahan pengobatan untuk atau mempertahankan hidup manusia, pohon Elo yang tumbuh tinggi menjadi simbol kesucian dan dapat melindungi manusia. Pertukaran ciri kewanitaan Sinarahwulan dengan pohon Cangkring dan pohon Beringin menunjukkan bahwa pohon tersebut mampu menjadi pelindung bagi manusia. Konversi jenis kelamin tersebut justru berakibat pada terselamatkannya Sinarahwulan dari ancaman yang dihadapinya sebagai perempuan.
Kisah hubungan manusia degan tumbuhan pada Lontar Juwarsah ini merefleksikan bahwa bagaimanapun manusia dan tumbuhan itu memiliki hubungan saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Tumbuhan tidak dapat dilihat sebagai representasi dari makhluk mati karena tidak mampu menghasilkan suara sebagaimana hewan,. Namun, dengan caranya sendiri tumbuhan menawarkan berbagai bentuk keuntungan bagi manusia, sehingga selayaknya manusia harus memahami tumbuhan, dan menjaga kelangsungan hidupnya. Kelangsungan hidup tumbuhan berarti kelangsungan hidup manusia.
Penulis: Johny Alfian Khusyairi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Atavisme, 26 (1), 2023, 39-53
http://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/view/860/pdf





