Universitas Airlangga Official Website

Marak Investor Asing Hengkang dari Indonesia, Ini Kata Guru Besar FEB

Ilustrasi proyek investasi (Foto: Pexels)
Ilustrasi proyek investasi (Foto: Pexels)

UNAIR NEWS – Hengkangnya perusahaan baterai kendaraan asal Korea Selatan, LG Energy Solution Ltd, dari proyek investasi di Indonesia akhir-akhir ini menjadi sorotan. Proyek senilai 11 triliun rupiah itu batal dilakukan karena adanya perubahan lanskap industri perusahaan baterai kendaraan. Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, Guru Besar Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), memberikan tanggapannya.

Menurut Prof Rossanto, Indonesia memang memiliki prospek tersendiri sebagai tempat proyek investasi perusahaan baterai kendaraan. Hal ini terlihat dari kesediaan bahan baku di Indonesia. Namun, dalam hal investasi, banyak faktor lain yang juga diperhatikan oleh investor asing.

Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) (Foto: dok pribadi)
Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) (Foto: dok pribadi)

“Mereka (investor, red) juga melihat iklim investasi secara makro di Indonesia. Kalau mereka merasa iklim investasi Indonesia kurang support dengan mereka ya lebih baik mereka keluar,” ungkap Rossanto. 

Amerika menurut Rossanto ingin kembali menjadi basis produksi, tidak hanya sebagai pasar. Ini yang mendasari Amerika menetapkan tarif ekspor tinggi ke beberapa negara, termasuk Indonesia yang terkena tarif ekspor hingga 47 persen. Perang dagang ini yang menjadikan iklim investasi semakin keruh. 

“Produk-produk kita otomatis menjadi lebih tidak berdaya saing karena lebih mahal kalau masuk ke pasar Amerika. Padahal kemungkinan LG ini juga menyasar produk Indonesia yang ke Amerika. Nah ini yang juga menjadi pertimbangan,” jelas Rossanto. Walaupun kondisi ekonomi global lebih berpengaruh dalam hal ini, namun masalah domestik di Indonesia juga berperan dalam menurunkan minat investasi.

Indonesia pada dasarnya juga bersaing dengan negara lain untuk mendapatkan investasi asing, terutama dengan negara-negara tetangga. Vietnam salah satunya yang menurut Rossanto memberikan regulasi yang lebih menggiurkan terhadap investor. Misalnya kebijakan tax holiday yang Vietnam berikan akan mampu menjadi daya tarik lebih kepada investor untuk menanamkan modal di Vietnam, alih-alih negara lain. 

Dalam hal industri padat modal, Rossanto menekankan pada kebutuhan high tech labor. Sementara Indonesia sendiri masih belum mampu menyediakan tenaga kerja tersebut. “Sebagian besar tenaga kerja kita itu tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terampil,” ungkapnya. Hal ini yang juga menjadi faktor penentu industri padat modal seperti industri baterai kendaraan untuk berinvestasi di Indonesia.

Selain itu, penegakan hukum di Indonesia juga dinilai lemah. Banyaknya pungutan liar oleh warga sekitar bahkan oknum pemerintahan menyebabkan iklim investasi memburuk. “Mereka (pemerintah, red) tahu itu merugikan investasi tapi kadang-kadang pemerintahnya sendiri tidak berkutik dan aparat penegak hukum tidak berbuat apa-apa,” papar Rossanto.

Penulis: Afifah Alfina

Editor: Yulia Rohmawati