Secara historis orientasi medis yang berkembang dalam masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perkembangan peradaban pemikiran dan kebudayaan masyarakat. Kontestasi sistem pengobatan kesehatan terus berlangsung sampai saat ini. Sistem pengobatan yang berlandaskan pada sistem kepercayaan dan tradisi di mana penjelasan persoalan kesehatan selalu dikaitkan dengan dunia non material dan sistem pengobatan yang bersifat supranatual masih eksis (Murray,P and Murray, L; 1963). Di sisi lain sistem pengobatan yang mendasarkan prinsip rasionalitas dan perkembangan ilmu pengetahuan (science) dengan mengandalkan teknologi medis modern terus diintroduksikan pada masyarakat oleh rezim medis. Abad pencerahan (Age of Enlightenment) yang bercirikan kemandirian/individualism, cara berpikir rasional dan kemajuan teknologi diagnostik, sistem pengobatan mengalami perkembangan ke arah sistem medis modern, sehingga memungkinkan tubuh manusia dapat dipelajari sebagai obyek sains kedokteran. Perkembangan teknologi diagnostik yang terjadi sejak abad pencerahan tersebut kemudian membawa kemajuan sains bidang kedokteran dan memiliki fungsi penting sebagai instrumen medis dalam menjelaskan segala sesuatu yang sedang terjadi dalam tubuh manusia. (Tan Shot Yen; 2009).
Sistem institusi pengobatan medis modern ternyata masih mengidap kelemahan (patologi modernitas) baik dalam aspek pengelolaan/manajerial maupun performance pelayanan. Selain adanya pelayanan adminitrasi medis dan tenaga medis yang tidak profesional dan arogan, rumitnya birokrasi medis modern, pelayanan yang tidak adil (diskriminatif), waktu tunggu yang terlalu lama dan harus mengantre serta efektivitas kesembuhan yang masih diragukan. Sistem pengobatan medis modern juga masih belum mampu memberikan garansi sepenuhnya atas kesembuhan pasien. Sistem pengobatan modern yang tidak efektif /tidak cocok dan tidak masuk akal telah melahirkan kesadaran kritis bahwa penggunaan peralatan medis modern yang canggih dengan obat-obatan yang mahal ternyata tidak menjamin efektivitas pengobatan, bahkan pengobatan medis modern yang diakses masyarakat justru memberikan efek perluasan beban penyakit baru (iastrogenesis klinis).
Dalam praktek sosial dunia medis mekanisme panoptikon dipraktekkan rezim medis dalam 2 (dua) ranah yakni pertama, mekanisme panoptikon sebagai praktek dominasi kekuasaan yang didemonstrasikan rezim medis pada masyarakat luas (level makro) dan kedua, praktek dominasi kekuasaan yang berlangsung dalam proses pengobatan modern yang dapat diamati melalui relasi antara dokter dengan warga masyarakat sebagai pasien. Sementara itu dalam tataran makro mekanisme panoptikon dilakukan melalui piranti regulasi atau peraturan baik termasuk Undang-Undang, Peraturan Daerah, kebijakan dan program kesehatan produk rezim medis/pemerintah termasuk mengembangkan strategi pendisiplinan dengan cara membangun praktik diskursif melalui jargon, slogan, brosur/pamflet kesehatan, film, iklan, poster, penyuluhan atau sosialisasi kesehatan, spanduk, kunjungan lapangan dan sebagainya yang dikuatkan dalam proses internalisasi oleh struktur diskursif rezim medis seperti; institusi dan aparatus medis, aparat pemerintah di tingkat RT, RW, Kelurahan/desa, Kecamatan dan Kabupaten, perusahaan farmasi serta institusi sosial yang berbasis dari kondisi sosial budaya lokal.
Penelitian ini menemukan bahwa proses governmentality medis modern melalui hegemony dan panopticism ternyata tidak selalu dipatuhi dan diikuti masyarakat sesuai kehendak dan otoritas rezim medis tetapi justru telah melahirkan resistensi sebagai produk kesadaran kritis. Resistensi berlangsung dipicu oleh berbagai kondisi antara lain; (a). adanya skeptism dan melemahnya kepercayaan (distrust) atas sistem pengobatan modern termasuk otoritas negara (birokrasi medis) dan ideologi medis modern serta health professional; (b). kuatnya dominasi kuasa rezim medis yang terlihat dalam relasi asimetris yang terbentuk dalam proses pengobatan dengan basis otoritas ilmiah atau profesi dan pengetahuan; (c). terbatasnya daya jangkau masyarakat dalam mengakses pengobatan modern akibat masuknya industri medis serta (d). adanya jaringan informal dan kuatnya peran figure sosial kultural lokal dalam mengarahkan pilihan system pengobatan bagi masyarakat.
Resistensi yang dilakukan masyarakat terwujud dalam karakter yang khas yakni; mengembangkan teknik low profile dengan menghindar, menarik diri, fatalis dan pasif sesuai dengan ciri struktur kelas bawah. Bentuk resistensi lain yang dikembangkan masyarakat bersifat personal dan spontan serta ekspresif dan cenderung bersifat manifest yang merefleksikan adanya kesadaran kritis yang tumbuh di kalangan masyarakat. Dalam konteks tindakan resistensi masyarakat terwujud dalam 3 (tiga) bentuk yakni; (a). tetap bertahan mengakses pengobatan modern tetapi diimbangi dengansikapskeptisisme dan kritisisme atas pengobatan modern yang diakses; (b). mengembangkan orientasi medis berpola pluralistik atau kombinatif (c). masyarakat ada yang memutuskan keluar (exit) dan membangun diskursus alternative/wacana lain (otherness) tentang system pengo batan sesuai otonomi kehendak dan kuasa yang dimilikinya.
Penulis: Septi Ariadi
Jurnal: The Mechanism of Panopticism and Society’s Resistance to the Modern Healthcare System: A Study on Reactions to Power Relations in the Medical World





