Penyebaran virus corona yang terjadi pada tahun 2019 mulai dari china hingga keseluruh dunia termasuk Indonesia. Mirip dengan cepat dan luasnya penyebaran virus corona, banyak informasi terkait corona yang menyebar secara online melalui jejaring sosial. Informasi tersebut beragam mulai dari informasi yang benar hingga informasi palsu yang kebenarannya tidak dapat diverifikasi. Fenomena misinformasi dan disinformasi terkait corona ini memang harus menjadi concern sehingga banyak peneliti yang kemudian menyebutnya dengan infodemic. Nassir dkk. (2021) menyatakan bahwa misinformasi dan disinformasi dapat menyebabkan kecemasan pada pasien covid-19 yang sedang menjalani proses peerawatan karantina atau isolasi mandiri. Penderita covid-19 yang melaksanakan isolasi mandiri ternyata sangat bergantung pada informasi yang akurat karena harus mengatur diri sendiri dengan bantuan anggota keluarga tanpa ada pengawasan langsung dari ahli kesehatan. Informasi yang tidak akurat dan palsu bukan hanya dapat merugikan penderita covid-19, namun juga akan merugikan anggota keluarganya (Sari, Sholihah, dan Atiqoh, 2020).
Misinformasi dan Dampaknya
Misinformasi merupakan informasi palsu yang disebarkan secara tidak sengaja (tanpa mengetahui informasi tersebut benar atau salah) dan tanpa ada maksud untuk merugikan siapapun, sedangkan disinformasi adalah informasi palsu yang sengaja disebarkan (Wardle & Derakhsan (2020). Informasi palsu dapat memberikan pemahaman yang salah yang berujung pada seseorang memiliki pemahaman yang salah dan beraktivitas dengan keyakinannya tersebut yang mungkin saja dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Penyebaran informasi palsu seringkali hanya ingin memperoleh viralitas dimana website maupun akun yang menyebarkannya ingin agar banyak yang mengakses dikarenakan semakin banyak yang mengakses maka akan semakin tinggi keuntungan yang dimiliki oleh pemilik website ataupun akun.
Konsep Isolasi Diri Penyintas Covid-19
Isolasi atau karantina mandiri adalah memisahkan pasien dengan gejalan penyakit menular dari individu yang sehat dengan tujuan mempersempit penyebaran dan agar pasien dapat memperoleh perawatan medis agar gejala cepat membaik (Farooq, Laato, & Islam (2020). Karantina atau isolasi seharusnya dialkukan ditempat yang diatur oleh otoritas kesehatan seperti rumah sakit. Namun, dikarenakan banyaknya pasien pada fase pendamik, isolasi atau karantina di lokasi seperti yang disebutkan di atas bisa dibilang sulit dilakukan. Puluhan ribu orang per-hari terinfeksi selama puncak wabah COVID-19 di Indonesia. Karena keadaan ini, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan keputusan yang mewajibkan semua orang yang terinfeksi yang belum mencapai ambang batas fatal untuk melakukan isolasi mandiri atau karantina mandiri di rumah masing-masing. Bersamaan dengan itu, pedoman atau protokol kesehatan selama isolasi mandiri atau karantina mandiri di rumah telah dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan utama manual ini adalah untuk mempercepat pemulihan pasien COVID-19 sekaligus membatasi kemampuan virus untuk menginfeksi populasi umum.
Sumber Pencarian Informasi
Para penyintas COVID-19 rata-rata melakukan isolasi mandiri selama lebih dari 10 hari dan isolasi mandiri dilakukan di rumah. Internet merupakan alat yang paling sering digunakan untuk mendapatkan informasi pencegahan COVID-19 dan menjadi kebutuhan untuk memperoleh informasi ketika melaksanakan isolasi mandiri. Penyintas covid-19 lebih memilih untuk mengakses informasi terkait penanganan COVID-19 dari berbagai sumber, antara lain Halodoc dan aplikasi terkait kesehatan lainnya, media sosial, dan akun resmi dinas kesehatan. Sumber informasi yang paling mudah tersedia untuk masyarakat umum terkait COVID-19 adalah media sosial. Informan juga mengatakan mereka lebih memilih informasi dari sumber resmi pemerintah karena lebih dapat dipercaya. Seperti informasi dari Kementerian Kesehatan Indonesia lebih diutamakan daripada dari sumber lain, terutama yang ditemukan di media sosial. Informan mengatakan mereka juga membaca berita di media sosial, namun meragukan kebenaran dan kualitasnya dari informasi. Mereka menambahkan bahwa mereka bingung dengan beberapa informasi yang mereka temukan di media sosial karena kontradiktif.
Dampak Setelah Memanfaatkan Informasi
Efek penggunaan informasi Informasi yang diperoleh dari jalur resmi pemerintah memang sangat positif. Hampir semua informan menginformasikan bahwa mereka berhasil sembuh total karena mereka patuh terhadap pedoman yang diberikan. Efek positif ini tidak hanya pada diri mereka sendiri, tetapi bahkan pada anggota keluarga dekat mereka. Keluarga dekat tidak tertular meskipun mereka berada di rumah yang sama. Beberapa informan mengatakan bahwa karantina mandiri atau self isolation ini benar-benar mencegah COVID-19 semakin parah.
Ada pula informan yang menyatakan bahwa mengikuti anjuran yang diberikan pemerintah tidak terlalu membantu untuk cepat sembuh. Dia juga menyatakan bahwa meskipun telah mengikuti hampir semua protokol isolasi mandiri yang disarankan tetapi tetap memerlukan waktu yang cukup lama untuk sembuh. Beberapa informan juga menyatakan karena jumlah informasi yang diperoleh terlalu banyak, baik dari sumber resmi pemerintah atau dari sumber media sosial, hal itu menyebabkan mereka kewalahan.
Tantangan dalam Mencari Informasi
Mayoritas responden setuju bahwa situs web atau portal resmi adalah sumber informasi yang paling dapat dipercaya. Sebagian besar informan menyatakan hambatan yang dihadapi dalam mencari informasi adalah biaya untuk membeli paket data internet dan gadget yang digunakan terkadang tidak dapat menampilkan keseluruhan informasi.
Selanjutnya, permasalahan yang dihadapi penyintas adalah informasi yang diberikan kepada masyarakat seringkali menggunakan pendekatan untuk keluarga “ideal”, yaitu keluarga yang memiliki rumah nyaman dengan beberapa kamar dan memiliki kemampuan ekonomi yang baik untuk membeli data seluler dan alat kesehatan, seperti: masker dan hand sanitizer. Untuk keluarga yang tidak memenuhi ciri-ciri “ideal” tersebut akan mengalami kesulitan untuk melaksanakan apa yang dianjurkan pemerintah.
Kendala lain yang dikemukakan oleh beberapa informan adalah terkait kesehatan emosional dan mental. Kurangnya informasi yang diberikan tentang bagaimana COVID-19 pasien dapat mengatasi masalah emosional dan mental yang mereka hadapi. Hampir semua informan menyatakan bahwa mereka dihadapkan pada situasi putus asa atau putus asa ketika terinfeksi COVID-19. Beberapa juga menyatakan bahwa mereka dan anggota keluarganya juga terkena depresi ketika terinfeksi COVID-19. Informasi terkait cara mengatasi kecemasan ini tidak diberikan secara memadai kepada penyintas.
Penulis: Dr. Tri Soesantari, Dra., M.Si.
Jurnal: https://ebpj.e-iph.co.uk/index.php/EBProceedings/article/view/4122





