Universitas Airlangga Official Website

Memanfaatkan HIV Self-Testing untuk Mencapai Target UNAIDS 2025 di Wilayah Asia Selatan dan Tenggara

ilustrasi HIV-AIDS (sumber:siloam hospitals)

HIV Self-Testing (HIVST) adalah proses mengumpulkan sampel sendiri menggunakan kit HIV self-test, melakukan tes, dan menginterpretasi hasilnya. HIVST memungkinkan pengguna untuk menguji sesuai dengan preferensi dan kebutuhan mereka sendiri. Beberapa studi di Asia Selatan dan Tenggara mengaitkan HIVST dengan penerimaan dan peningkatan pengujian yang tinggi di kalangan populasi kunci, mengingat kemampuannya untuk menawarkan kerahasiaan, privasi, dan kenyamanan dibandingkan dengan pengujian berbasis fasilitas, serta membantu mengatasi hambatan yang terkait dengan stigma dan diskriminasi. Oleh karena itu, HIVST dapat membantu meningkatkan jumlah dan frekuensi pengujian HIV, termasuk di kalangan populasi kunci yang sering terlewatkan oleh layanan pengujian HIV yang ada.

Sebuah uji coba acak di Myanmar di antara pria yang berhubungan seks dengan pria dan wanita transgender melaporkan bahwa sekitar 90% dari mereka yang diberi akses ke layanan pengujian HIV berbasis fasilitas akan menguji lebih sering jika mereka memiliki akses ke HIVST. Studi Awal Pengujian dan Pengobatan di Indonesia menemukan bahwa implementasi HIVST di atas pengujian berbasis fasilitas meningkatkan rata-rata jumlah pria yang berhubungan seks dengan pria yang melakukan tes HIV setiap bulan sebesar 52%. Sebagian besar peserta lebih memilih HIVST daripada rujukan ke pengujian berbasis fasilitas. Pengambilan HIVST dan jangkauannya di kalangan populasi yang sulit dijangkau dapat lebih diperkuat melalui strategi pengiriman berbasis komunitas dan virtual yang inovatif yang dirancang untuk populasi kunci.

Model distribusi sekunder, di mana individu mendistribusikan kit HIVST kepada orang-orang dalam jaringan sosial mereka, telah terbukti efektif dalam menjangkau penguji pertama kali, seperti yang ditunjukkan dalam Inisiatif STAR III di India di mana 68,6% peserta yang dijangkau melalui distribusi sekunder melaporkan bahwa mereka adalah penguji pertama kali. Kit HIVST berbasis darah dan oral telah menunjukkan kinerja klinis dan kegunaan yang tinggi, menjadikannya cocok untuk digunakan oleh pengguna awam secara aman, andal, dan akurat. Sebuah studi di Vietnam di kalangan pengguna awam tanpa pengalaman atau pelatihan dalam pengujian sendiri menemukan bahwa kit HIVST berbasis darah dengan akurat mengidentifikasi 96,4% sampel HIV-positif dan 99,9% sampel HIV-negatif. Makalah ini memberikan komentar mengenai status implementasi, manfaat yang terbukti, hambatan, dan faktor pendukung HIVST di Asia Selatan dan Tenggara serta membahas langkah-langkah selanjutnya untuk melewati “mil terakhir” dari target UNAIDS 95-95-95 di wilayah ini.

Selain itu, seorang ahli global dan ko-penulis, serta para ahli dari Taiwan dan Afrika Selatan, memberikan perspektif dan pembelajaran kunci di luar Asia Selatan dan Tenggara. Negara-negara Asia Selatan dan Tenggara, terutama di kalangan populasi rentan seperti remaja yang berisiko terinfeksi HIV, dapat memperoleh manfaat besar dari pendekatan HIVST.

Penggunaan platform digital seperti aplikasi pesan, media sosial, dan situs pencarian pasangan dapat membantu meningkatkan jangkauan, menghubungkan dengan populasi kunci, serta meyakinkan mereka untuk mengatasi keraguan terhadap HIVST. Meskipun WHO telah merekomendasikan adopsi HIVST sebagai pendekatan pengujian tambahan sejak 2016, sebagian besar negara di Asia Selatan dan Tenggara masih menghadapi tantangan dalam implementasi.

Mengatasi skeptisisme di kalangan pemerintah dan praktisi serta mengatasi hambatan regulasi untuk pendaftaran kit HIVST adalah langkah krusial untuk menetapkan HIVST sebagai praktik kesehatan masyarakat yang standar. Pendanaan pemerintah memainkan peran penting dalam keberlanjutan program HIVST dan keterjangkauan bagi pengguna, yang merupakan faktor penting yang memengaruhi keputusan populasi kunci untuk melakukan tes sendiri. Banyak pengguna mengharapkan layanan HIVST ditanggung oleh pemerintah atau penyandang dana lainnya, yang menyebabkan preferensi terhadap kit HIVST yang disubsidi sebagian atau sepenuhnya.

Model pengiriman HIVST yang universal tidak dapat secara efektif mengatasi tantangan geografis dan infrastruktur yang beragam di wilayah ini, atau memenuhi preferensi pengguna yang bervariasi dan kesiapan untuk membayar. Inisiatif STAR III di India menunjukkan pentingnya memberikan opsi kepada pengguna yang sesuai dengan preferensi mereka dalam perjalanan pengujian mandiri mereka. Pendekatan ini telah mencapai tingkat penerimaan yang luar biasa, yang dilaporkan sebesar 96% di kalangan populasi kunci.

Selain itu, pendekatan digital dan opsi pengiriman ke rumah berpotensi menjangkau individu di daerah terpencil.

Penulis: Prof Dr Aryati

Dipublikasikan pada jurnal Journal of The International AIDS Society 

Dan bisa di akses pada laman : https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/jia2.26357