Universitas Airlangga Official Website

Membaca Praktik Translanguaging dalam Kehidupan Multibahasa Indonesia

Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Beyond Borders: New Frameworks for Translanguaging in a Globalized City (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Beyond Borders: New Frameworks for Translanguaging in a Globalized City. Acara ini menghadirkan dua narasumber ahli dalam bidang linguistic, yakni Prof Dr Setiono Sugiharto dari Universitas Katolik Atma Jaya dan Noerhayati Ika Putri PhD dari Universitas Airlangga.

Dalam paparannya, Prof Dr Setiono Sugiharto menyampaikan materi berjudul Beyond Linguistic Borders: Rethinking Translanguaging as Everyday Spaces of Otherwise. Ia menekankan bahwa translanguaging tidak hanya dilihat sebagai fenomena akademis atau konsep abstrak, melainkan sebagai praktik keseharian Masyarakat.

I don’t think so deh. Menurut gue better lo tanya dia aja. Siapa tahu kita salah, who knows kan?”, Prof Setiono mendemostrasikan. Pencampuran bahasa antara Indonesia dan Inggris secara natural tersebut merupakan contoh translanguaging practice dalam kehidupan nyata.

Prof Setiono menjelaskan bahwa translanguaging bisa mendorong linguistic citizenship. Maksudnya dengan translanguaging, masyarakat bisa lebih bebas dan percaya diri untuk memakai bahasa campuran sesuai kebutuhan, konteks, dan identitas mereka.

Sementara itu, Noerhayati Ika Putri PhD memaparkan hasil penelitiannya mengenai “Translanguaging in Linguistic Landscape of Cultural and Historical Places in Surabaya.” Ia mengkaji tiga kawasan bersejarah di Surabaya yakni Kembang Jepun (Kya-Kya), Kota Lama, dan Ampel.

Noerhayati Ika Putri PhD memaparkan hasil penelitiannya mengenai “Translanguaging in Linguistic Landscape of Cultural and Historical Places in Surabaya” (Foto: Istimewa)

Tiga Kawasan bersejarah di Surabaya memiliki keunikan dalam lanskap linguistik yang menarik. Melalui papan nama toko, rambu jalan, dan elemen visual lainnya di Kembang Jepun (Kya-Kya), Kota Lama, dan Ampel menjadi ruang translanguaging yang dinamis. Bahasa Indonesia, asing (Inggris, Mandarin, Arab), dan simbol-simbol visual berpadu membentuk praktik komunikasi yang cair dengan multimodal yang beragam.

Dengan terselenggaranya seminar nasional ini, program studi Bahasa dan Sastra Inggris UNAIR ini menegaskan perannya sebagai pusat kajian bahasa dan budaya yang responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus realitas sosial di masyarakat. Prof Setiono dan Ika juga membuka ruang diskusi dan kolaborasi riset untuk civitas academica UNAIR bidang Bahasa dan budaya.

Penulis: Almira

Editor: Yulia Rohmawati