Dalam studi ini penulis mencoba mendalami bagaimana hubungan antara maskulinitas wajah CEO dan keterbacaan laporan diskusi dan analisis manajemen (MD&A). Lebih lanjut, penelitian ini menguji interaksi antara kesibukan CEO dan usia dalam hubungan tersebut. Peran Chief Executive Officer (CEO) dalam suatu organisasi sangatlah penting, karena mereka memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan finansial dan non-finansial (Bouaziz et al., 2020). Pada gilirannya, karakteristik seorang CEO memainkan peran penting dalam menentukan informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan, serta apa yang masih disembunyikan oleh perusahaan. Salah satu karakteristik yang mempengaruhi perilaku CEO adalah maskulinitas pada fitur wajah mereka. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku seseorang terkait dengan kadar testosteronnya melalui mekanisme saraf (Dabbs & Mallinger, 1999; Mehta & Beer, 2010). Maskulinitas wajah CEO berfungsi sebagai proksi untuk faktor internal, seperti kadar testosteron dan pengaruhnya selanjutnya terhadap perilaku melalui mekanisme saraf, kesibukan bertindak sebagai proksi untuk faktor eksternal dalam diri CEO. Dengan mengkaji karakteristik CEO ini, kita dapat memperoleh wawasan tentang gaya kepemimpinan mereka dan dampaknya terhadap perusahaan.
Penelitian telah menghubungkan perilaku dengan tingkat testosteron, menunjukkan bahwa karakteristik biologis seorang CEO, terutama maskulinitas wajah, dapat mempengaruhi kebijakan dan kinerja keuangan perusahaan. Ciri-ciri CEO lain yang dapat diamati, seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pengalaman militer, dan kesibukan, juga mempengaruhi strategi keuangan perusahaan (Bonsall & Miller, 2017; Boubaker et al., 2019; Habib & Hasan, 2018; Hesarzadeh & Rajabalizadeh, 2019; Lo et al., 2017; Luo et al., 2018; Xu et al., 2018). Penelitian ini memperkenalkan perspektif baru dengan fokus pada maskulinitas wajah CEO sebagai proksi untuk karakteristik pribadi mereka, menekankan relevansinya dalam bidang ekonomi, khususnya akuntansi. Penelitian ini juga menggabungkan kesibukan dan usia CEO sebagai variabel moderasi, menunjukkan bahwa CEO yang sibuk mungkin menghasilkan laporan yang kurang mudah dibaca karena keterbatasan waktu, sementara CEO yang lebih tua, dengan lebih banyak pengalaman, mungkin menyajikan informasi dengan lebih jelas.
Metode dan Hasil
Sampel awal dalam penelitian ini berjumlah 5.710 firm-years yang berasal dari perusahaan non- keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010 – 2019. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan mengeluarkan 4.141 variabel firm-year yang tidak lengkap, dan perusahaan dengan jenis kelamin CEO adalah seorang wanita. Sampel akhir yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 1.569 observasi: Hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh CEO berwajah maskulin terbukti signifikan secara statistik dalam meningkatkan keterbacaan laporan MD&A, sehingga memudahkan mereka untuk membaca dan memahami. Namun, temuan kami juga menunjukkan bahwa kesibukan dan usia CEO melemahkan hubungan antara maskulinitas wajah CEO dan keterbacaan laporan MD&A.
Penulis : Yulianti Raharjo, Iman Harymawan, Yani Permatasari, dan Khairul Anuar Kamarudin
Jurnal:
Reading the CEOs Face: The Effect of Facial Masculinity on the Readability of MD&A Reports





