Universitas Airlangga Official Website

Membedah Budaya Populer 90-an lewat Kajian Sastra dan Budaya

Sesi penyampaian materi oleh kedua pembicara dipandu oleh moderator
Sesi penyampaian materi oleh kedua pembicara dipandu oleh moderator (Foto: Dokumentasi Panitia)

UNAIR NEWS – Fenomena budaya populer bernuansa era 90-an di kalangan Generasi Z menjadi fokus dalam seminar kolaborasi bertajuk Kilas Balik 90-an: Fenomena Budaya Populer Bernuansa Era 90-an di Kalangan Generasi Z Melalui Perspektif Kajian Sastra dan Budaya. Acara tersebut merupakan kolaborasi antara HIMA Magister Kajian Sastra dan Budaya dan HIMA Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) yang terlaksana pada Jumat (24/10/2025) di Moh Hatta Hall Gedung Panjalu Kampus Dharmawangsa-B.

Acara tersebut menghadirkan dua narasumber yang merupakan mahasiswa magister Kajian Sastra dan Budaya FIB. Fatikha Mayani, salah satu pembicara, memaparkan materi tentang “Estetika Nostalgia: Tren Fashion Kembali ke Era 90-an”. Menurutnya, kembalinya tren fashion 90-an seperti baggy jeans, crop top, flanel, dan jaket jeans didorong oleh Gen Z sebagai digital native yang terpapar budaya digital sejak lahir. “Anak muda bilang, fashion 90-an adalah sesuatu yang menarik dan patut dihidupkan melalui sentuhan digital,” ungkapnya.

Pembukaan acara seminar kolaborasi oleh ketua pelaksana (Foto: Dok. Panitia)
Pembukaan acara seminar kolaborasi oleh ketua pelaksana (Foto: Dok. Panitia)

Fatikha menganalisis bahwa revitalisasi fashion ini menggunakan Teori Hibriditas dari Homi Bhabha (1994), di mana gaya lama di reinterpretasi dan berpadu dengan unsur modern. Selain itu, Teori Glokalisasi menjelaskan adaptasi tren global ini ke konteks lokal, misalnya melalui thrifting.

Pembicara kedua, Zulia Khikmatul Maulidia membahas mengenai “Rekontekstualisasi ABBA di TikTok: Praktik, Makna, dan Emosi Nostalgia”. Zulia berfokus pada ABBA, grup pop asal Swedia yang terbentuk pada 1972 yang lagu ikoniknya seperti Dancing Queen dan The Winner Takes It All kembali populer di TikTok. Lagu-lagu seperti Angel Eyes dan Gimme! Gimme! Gimme! menjadi populer karena reinterpretasi kreatif pengguna melalui video humor dan kisah pribadi.

Zulia mencatat, lagu-lagu ABBA direkontekstualisasi oleh pengguna menjadi simbol emosi bersama, menyatukan generasi berbeda melalui praktik kreatif digital. Nostalgia ini terbagi dalam dua pola yakni nostalgia performatif, yang melibatkan kegiatan kreator seperti menyanyi, menari, atau lipsync lagu ABBA. Kemudian, nostalgia berorientasi pada lirik, di mana lirik memicu perasaan dalam ingatan, mulai dari sekadar momen hingga perasaan rindu. “Tidak hanya membawa nostalgia masa lalu, tetapi menghidupkan kembali emosi lama,” pungkasnya.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia Rohmawati