Dalam perkembangan mengejutkan, mitos umum baru-baru ini digugat oleh studi yang dilakukan oleh Dr. Miguel A. Esquivias, seorang peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Airlangga dan Dr Shahidan Shaari dari Universiti Malaysia Perlis. Studi ini menggali hubungan antara tingkat pendidikan tinggi dengan kejadian kejahatan harta benda di Malaysia, mengungkapkan wawasan menarik yang meruntuhkan asumsi yang berlaku.
Pandangan umum adalah bahwa semakin banyak orang menerima pendidikan tinggi, semakin sedikit orang yang terdorong untuk melakukan kejahatan. Namun, studi Dr. Esquivias menggali lebih dalam, didorong oleh keprihatinan bahwa individu-individu dengan pendidikan tinggi yang kurang dibayar mungkin beralih ke kejahatan harta benda karena kesulitan ekonomi. Kombinasi faktor-faktor seperti pengangguran pemuda, gaji rendah, ketidaksesuaian pekerjaan, tekanan yang meningkat di pasar tenaga kerja, dan penurunan kualitas pekerjaan dapat mendorong individu-individu beralih ke tindakan kejahatan.
Studi ini menjadi relevan khususnya untuk Malaysia, sebuah negara yang telah mengalami kemajuan signifikan dalam pendidikan, perkembangan ekonomi, dan kedewasaan institusional. Secara paradoks, meskipun memiliki pendapatan per kapita yang lebih tinggi, ekonomi yang stabil, dan indeks pembangunan manusia yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asia yang sebanding, Malaysia menghadapi tingkat kejahatan yang signifikan. Pada tahun 2023, indeks keselamatan dan indeks kejahatan Malaysia menggambarkan situasi yang mencemaskan, menunjukkan lingkungan yang kurang aman dan tingkat kejahatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara seperti China, Brunei, Thailand, Filipina, Vietnam, India, dan Indonesia (Tabel 1). Yang lebih mengkhawatirkan, indeks kejahatan dan indeks keselamatan Malaysia mengalami penurunan antara tahun 2014 dan 2023, berbanding terbalik dengan negara-negara Asia lainnya.
Tingginya angka kejahatan perampokan bukan hanya mengancam keselamatan publik, tetapi juga menghambat kemajuan ekonomi dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Meskipun penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi faktor-faktor seperti pengangguran, pendapatan, daya cegah, dan pengaruh sosial terhadap kejahatan, pengaruh pendidikan tinggi dan partisipasi tenaga kerja perempuan terhadap tingkat kejahatan masih relatif belum banyak dikaji. Studi ini mencoba mengisi celah ini dengan menyelidiki dampak pendidikan tinggi pada tingkat kejahatan harta benda di konteks negara berkembang seperti Malaysia.
Hubungan antara pendidikan dan kejahatan sangat kompleks. Meskipun pendidikan umumnya dihubungkan dengan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas legal dan mengurangi insentif untuk terlibat dalam perilaku kriminal, studi ini mengungkapkan dinamika yang beragam. Pendidikan tinggi bisa memperluas peluang kerja, tetapi juga dapat meningkatkan kejahatan akibat kurangnya peluang pekerjaan yang sesuai. Selain itu, studi ini menyoroti hubungan positif antara partisipasi tenaga kerja perempuan yang lebih tinggi dengan tingkat perampokan. Selain itu, pendapatan per kapita juga terbukti menjadi faktor kontribusi lain terhadap kejahatan harta benda. Semakin tinggi pendapatan per kapita, semakin banyak individu yang terdorong untuk melakukan kejahatan.
Secara menarik, studi ini juga mempertanyakan pandangan umum bahwa hukuman penjara berfungsi sebagai pencegah kejahatan harta benda. Temuan studi menunjukkan bahwa meskipun tingkat penahanan meningkat, hal ini tidak menghalangi calon pelaku kejahatan, menunjukkan kompleksitas perilaku manusia.
Implikasi dari penelitian ini sangat signifikan, menekankan pentingnya meningkatkan kualitas pekerjaan, memastikan upah yang adil, mempromosikan pencocokan pekerjaan yang sesuai, dan menciptakan lingkungan kerja yang seimbang. Secara luas, langkah-langkah ini dapat memainkan peran kunci dalam mencegah individu berpendidikan tinggi dari terlibat dalam kejahatan. Temuan dari penelitian ini tidak hanya relevan untuk Malaysia, tetapi juga untuk negara-negara berkembang lainnya yang menghadapi tantangan serupa akibat lonjakan pendidikan tinggi, pertumbuhan pendapatan yang lambat, dan partisipasi tenaga kerja perempuan yang rendah.
Oleh Dr. Miguel Angel Esquivias
Jurnal: Debunking conventional wisdom: Higher tertiary education levels could lead to more property crimes in Malaysia





