Universitas Airlangga Official Website

Memprediksi Risiko Tuberkulosis pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2

Foto oleh liakouparaskevi.gr

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit penyebab kematian utama di dunia. Penyakit tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat ditularkan melalui udara. Penyakit ini telah menginfeksi setidaknya seperempat penduduk dunia, termasuk masyarakat Indonesia.  Bahkan, Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi setelah India dan China.

Salah satu faktor risiko tuberkulosis adalah diabetes melitus (DM). Pasien DM memiliki sistem imun yang rendah sehingga berkembangnya tuberkulosis laten (tanpa gejala) menjadi tuberkulosis aktif (bergejala) lebih tinggi. Pasien DM memiiki 2 hingga 3 kali risiko untuk menderita tuberkulosis dibanding orang tanpa DM. Diabetes mellitus adalah penyakit kronis tidak menular yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Jumlah kasus dan prevalensi diabetes telah meningkat selama beberapa dekade akibat perubahan pola makan dan gaya hidup. Secara umum, DM dibagi menjadi 2 jenis yakni DM tipe 1 yang disebabkan karena pankreas tidak memproduksi hormon insulin sama sekali dan DM tipe 2 yang disebabkan karena insulin yang dihasilkan tubuh tidak mencukupi kebutuhan.

Menurut artikel oleh Isfandiari dkk, terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis pada pasien DM tipe 2. Beberapa faktor tersebut dapat digolongkan menjadi faktor biologis, sosial, lingkungan, serta kesejahteraan psikologis. Faktor biologis yang dimaksud adalah usia 55 tahun ke bawah, jenis kelamin laki-laki, Indeks Massa Tubuh (IMT) yang kurang dari 18.5 kg/m2, dan kontrol glikemik yang buruk (HbA1c >7%) akibat pola makan yang tidak terjaga, memiliki 3 gejala klinis tuberkulosis atau lebih (batuk berdahak, penurunan berat badan >3 kg, penurunan nafsu makan, nyeri dada, dahak campur darah, keringat malam hari tanpa aktifitas, demam), serta durasi menderita DM tipe 2 selama 10 tahun atau lebih. Faktor sosial meliputi riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis. Faktor lingkungan yakni luas ventilasi kurang dari 10% luas lantai tempat tinggal sehingga menyebabkan kondisi lembab dan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang bertahan hidup lebih lama. Adapun faktor kesejahteraan psikologis yang dimaksud adalah kondisi psikologis yang buruk.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Isfandiari dkk menyusun sebuah indeks prediktif tuberculosis pada pasien Diabetes Mellitus tipe 2 Dengan indeks prediktif ini, diharapkan petugas kesehatan khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan primer (Puskesmas) dapat memanfaatkannya untuk pemeriksaan terjadinya tuberkulosis pada penderita DM tipe 2 sejak dini. Hasil penemuan kasus berdasarkan pemeriksaan ini dapat digunakan oleh petugas kesehatan untuk memperkirakan risiko TB pada pasien di wilayah kerjanya. Mengingat Kesehatan mental penderita Diabetes Mellitus  merupakan salah satu indikator risiko terjadinya tuberkulosis pada penderita DM tipe 2, selain Indeks Massa Tubuh, lingkungan rumah yang sehat, terutama Ketika Diabetes sudah diderita setidaknya 10 tahun, maka petugas kesehatan diharapkan dapat menjaga Kesehatan mental pasien DM tipe 2 selain juga mengedukasi mereka untuk menjaga berat badan dan lingkungan rumah yang sehat melalui pemberian edukasi tentang kesehatan, edukasi makanan dengan menu seimbang dan edukasi rumah sehat.

Penulis: Muhammad Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes

Link: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35628010/