Universitas Airlangga Official Website

Menakar Profesionalisme Tenaga Kesehatan di Tengah Gempuran Artificial Intelligence

Sesi penyampaian materi oleh Dr. dr. Niko Azhari Hidayat Sp BTKV Subsp VE(K), FIATCVS
Sesi penyampaian materi oleh Dr. dr. Niko Azhari Hidayat Sp BTKV Subsp VE(K), FIATCVS (Foto: Tangkapan layar zoom)

UNAIR NEWS – Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dalam sektor kesehatan membawa angin segar bagi efisiensi dunia medis. Namun, di balik kecanggihan tersebut, isu etika, kerahasiaan data pasien, hingga batasan profesionalisme tenaga medis menjadi tantangan krusial yang harus segera dijawab oleh para praktisi kesehatan saat ini.

Hal tersebut dikupas tuntas dalam seminar nasional bertajuk “Unlocking the Potential of Artificial Intelligence towards Patient Care”. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR). Acara yang berlangsung secara hybrid pada Sabtu (20/12/2025) ini menghadirkan Dr dr Niko Azhari Hidayat Sp BTKV Subsp VE(K) FIATCVS. Dalam kegiatan tersebut, ia membedah peran teknologi dalam transformasi klinis.

Dalam paparannya, Niko menegaskan bahwa kehadiran AI di dunia medis bukan lagi sekadar wacana masa depan. “Nyatanya, AI itu adalah kenyataan, bukan lagi keniscayaan. Terutama dalam dunia kesehatan, integrasi teknologi ini memiliki tujuan utama untuk memastikan penanganan klinis pasien berjalan lebih efektif dan efisien,” ungkapnya. 

Niko menyoroti bahwa implementasi AI memerlukan navigasi moral yang kompleks. Ia menekankan tiga pilar utama yang menjadi tantangan besar, yaitu privasi data, bias algoritma, dan akuntabilitas. Menurutnya, menjamin kerahasiaan data pasien adalah harga mati, sebab kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan bergantung pada keamanan informasi medis mereka.

Pelaksanaan seminar nasional “Unlocking the Potential of Artificial Intelligence towards Patient Care” via zoom (Foto: Tangkapan layar zoom)

Salah satu bukti nyata keberhasilan AI yang ia garisbawahi adalah masifnya penggunaan telemedicine. Layanan yang mulai meledak sejak pandemi COVID-19 ini membuktikan bahwa teknologi mampu memangkas jarak antara dokter dan pasien tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Namun, ia memberikan catatan penting. “AI memang pintar dalam segala hal teknis. Namun, ia tidak akan pernah bisa menggantikan intuisi dan pengetahuan kesehatan mendalam yang manusia miliki,” jelasnya.

Meskipun AI unggul dalam mengolah data besar untuk memberikan rekomendasi perawatan yang personal, Niko mengingatkan bahwa teknologi tetaplah alat kolaborasi, bukan pengganti peran dokter. Keputusan medis akhir harus tetap berada di tangan manusia melalui clinical judgment yang tajam.

“Tenaga medis harus mempertahankan penilaian klinis mereka untuk menginterpretasikan setiap rekomendasi yang diberikan oleh mesin. Sinergi ini bertujuan agar aspek humanis dan kebutuhan personal pasien tetap menjadi prioritas utama yang dihormati,” tambahnya. Sebagai penutup, ia mengajak civitas academica UNAIR untuk terus memperbarui kode etik dan mengikuti pendidikan berkelanjutan. Sehingga, tetap relevan dalam menjaga standar profesionalisme di era digital yang terus berevolusi.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra

Editor: Yulia Rohmawati