
Stunting, atau kegagalan pertumbuhan linear, menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia yang berdampak serius pada masa depan generasi muda. Stunting menyebabkan gangguan perkembangan fisik dan otak, menurunkan kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung di kemudian hari. Salah satu kelompok yang rentan mengalami stunting adalah balita yang diasuh oleh ibu tunggal. Menurut data terbaru dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, sekitar 20% balita dengan ibu tunggal mengalami stunting, sebuah angka yang menggambarkan tantangan besar dalam upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga yang rentan ini.
Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa stunting pada balita dengan ibu tunggal sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor sosial dan ekonomi. Balita yang tinggal di daerah pedesaan lebih berisiko mengalami stunting jika dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya akses ke layanan kesehatan dan sumber daya yang memadai di wilayah pedesaan. Selain itu, usia ibu juga memegang peranan penting. Ibu muda lebih berisiko mempunyai anak yang stunting karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman dalam memenuhi kebutuhan gizi anak. Pendidikan ibu yang rendah dan ketidakmampuan secara ekonomi juga menjadi pemicu utama stunting dalam kelompok ini.
Temuan lain yang menarik adalah soal perbedaan risiko antara jenis kelamin anak. Balita perempuan ditemukan lebih rentan terhadap stunting dibandingkan laki-laki, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan perhatian dan pembagian makanan dalam keluarga yang masih dipengaruhi oleh budaya patriarki. Selain itu, ibu tunggal yang tidak mendapat perawatan antenatal secara optimal selama kehamilan atau tidak melakukan pemeriksaan kesehatan rutin memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak dengan status gizi buruk.
Mengatasi masalah ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan multisektoral. Peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, terutama di wilayah pedesaan, menjadi kunci utama. Program-program kesehatan harus didesain agar bisa menjangkau ibu tunggal dengan lebih efektif, termasuk penyediaan edukasi nutrisi, pemeriksaan kehamilan yang lengkap, dan pemantauan tumbuh kembang anak yang rutin. Di samping itu, dukungan ekonomi sangat dibutuhkan untuk membantu ibu tunggal memenuhi kebutuhan dasar keluarga, termasuk gizi yang baik untuk anak-anak mereka.
Pemberdayaan sosial dan ekonomi ibu tunggal harus menjadi bagian dari strategi nasional untuk menekan angka stunting. Pemerintah disarankan mengembangkan kebijakan yang memberikan peluang pendidikan dan pekerjaan bagi ibu tunggal, serta memberikan bantuan sosial yang memadai. Kolaborasi lintas sektor seperti sektor kesehatan, sosial, pendidikan, dan pemerintahan daerah sangat penting agar program yang dijalankan lebih efektif dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, studi ini membuka mata kita tentang kerentanan balita yang diasuh oleh ibu tunggal dan menegaskan perlunya intervensi khusus yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, dari layanan kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi ibu. Dengan perhatian dan dukungan yang
tepat, kita tidak hanya membantu menurunkan angka stunting, tetapi juga membangun masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak Indonesia yang paling membutuhkan.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Sumber: Sandra, C., Wulandari, R. D., Laksono, A. D., Ningsi, N., Tumaji, T. (2025). Establish The Policy Target to Reduce Stunting Among Indonesian Toddlers with Single Mothers. Unnes Journal of Public Health. 2025; 14 (2):161-172. https://doi.org/10.15294/ ujph.v14i2.20644
DOI: https://doi.org/10.15294/ ujph.v14i2.20644





