Universitas Airlangga Official Website

Menelisik Tiga Hikmah Pelajaran Ibadah Puasa dalam Kehidupan

Dr Habib Abdurrahman Ahmad Agil dalam Kajian Senin Spesial. (Dok Panitia)

UNAIR NEWS – Tidak terasa ibadah puasa telah berhasil terlampaui selama satu bulan penuh. Tentu banyak pelajaran yang didapat selama menjalani ibadah puasa Ramadan. Kali ini, remaja masjid Ulul Azmi Universitas Airlangga menggelar acara Kajian Senin Spesial pada (16/5/2022).

Kajian mengundang Dr Habib Abdurrahman Ahmad Agil dengan membawakan materi mengenai pelajaran yang bisa diambil setelah menjalani ketaatan amal ibadah di bulan suci Ramadan. Terlebih untuk menghadapi kehidupan di bulan-bulan selanjutnya yakni bulan Syawal.

Menurut ustaz Habib, Syawal masuk ke dalam tiga bulan yang dikhususkan untuk kita memulai pelaksanaan amal ibadah haji. Pada kesempatan ini ustaz Habib memaparkan tiga pelajaran yang patut dilakukan setelah menjalani amal ibadah puasa untuk menyongsong kehidupan selanjutnya.

Pertama, konsisten dalam ketaqwaan kepada sang pencipta yakni Allah SWT. Istiqomah dalam menjalani apa saja yang diperintahkan oleh sang pencipta, Allah SWT. Sekaligus, menjauhi segala larangan-Nya.

“Selama puasa secara umum tentunya yang mengarahkan kita untuk bisa mengikuti dan mentaati apa saja yang diperintah Allah. Kita ingin diri kita mampu mengamalkan segala perintah Allah dan itu adalah cerminan bagi hamba Allah yang bertaqwa,” ujarnya kepada Jamaah di Aula Masjid Ulul Azmi UNAIR.

Ustad Habib juga menyampaikan bahwa dalam firman Allah SWT pada surat Al-Baqarrah ayat 41 menyebutkan untuk senantiasa menjadi dasar dalam bertindak termasuk menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

“Sehingga untuk itulah Allah menyebutkan dalam firmannya dalam surah Al-Baqarah ayat 41 yang menjelaskan bahwasanya berimanlah kalian semua kepada Allah dengan apa-apa yang menjadi pembenaran dari keimanan kalian terhadap yang diturunkan dalam tuntunan ayat-ayat suci Allah,” ucapnya.

Lebih jauh, ustaz Habib menuturkan jika tujuan dari hamba Allah menjalankan ibadah puasa yakni menjadi hamba yang bertaqwa yang betul menjalani perintah Allah semampunya sekaligus menjauhi segala larangan-Nya.

Kedua, mengendalikan hawa nafsu. Menurut ustaz Habib tentang hawa nafsu pada setiap hamba Allah sejatinya jika tidak dikelola atau dikendalikan akan menjerumuskan ke dalam kesesatan dengan tidak memandang baik hamba yang kaya maupun yang miskin.

Hawa nafsu yang dimiliki oleh hamba Allah sampai kapanpun tidak dapat hilang dari diri. Namun, dapat dikelola dan dikendalikan agar dapat menjalankan kegiatan atau tindakan hawa nafsu yang terarah.

“Nafsu tidak untuk dihilangkan, tetapi nafsu untuk dikuasai dan dikendalikan,”  ujarnya.

Selanjutnya ustaz Habib memberikan penegasan bahwa hawa nafsu sulit untuk dikuasai. Menurut Sayyidina Usman bin Affan ketika ditanya perihal hawa nafsu, hal itu dapat dikalahkan dengan senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan bekal ketika masuk ke alam kubur.

Ketiga, meningkatkan jalinan silaturahmi. Sebagaimana seorang hamba Allah selain memiliki hubungan yang khusus dengan Allah, sejatinya juga memiliki tali hubungan yang sangat dekat dengan hamba Allah lainnya. Momentum di bulan Syawal dan Idulfitri merupakan salah satu bulan yang penuh keberkahan.

Hal ini lantaran pada bulan ini salah satunya banyak keluarga yang saling mengunjungi antara satu dengan yang lainnya. Segala kesalahan dan kekhilafan dilebur dalam bulan Idulfitri. Menurut ustaz Habib, menjalin tali silaturahmi dengan sanak saudara maupun keluarga dekat maupun jauh juga merupakan tuntunan dari Allah SWT sebagai hamba Allah yang taat.

“Jika ketaatan amal ibadah dengan sang pencipta Allah SWT, selanjutnya adalah kita juga tidak lepas untuk menjalin hubungan yang erat dengan sanak keluarga dan sanak saudara atau yang disebut dengan istilah habluminanas (hubungan sesama hamba Allah) yang juga diperintahkan oleh Allah,” tambahnya.

Ketiga hikmah setelah menjalani ibadah puasa Ramadan sebaiknya tetap dilakukan dengan konsisten, menahan hawa nafsu, maupun tetap menjalin tali silaturahmi antara sesama. (*)

Penulis: Septiana Wulandari

Editor: Binti Q. Masruroh