Lele kepala besar (Clarias macrocephalus) merupakan salah satu ikan asli Asia Tenggara yang memiliki nilai ekonomi tinggi karena dagingnya yang lembut dan cita rasanya yang khas. Ikan ini secara alami hidup di sungai, saluran air, dan sawah yang tergenang di wilayah Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, populasinya mengalami penurunan drastis akibat degradasi habitat, meningkatnya aktivitas manusia, dan masuknya spesies lele asing yang lebih adaptif. Akibatnya, C. macrocephalus kini dikategorikan sebagai spesies “Hampir Terancam” (Near Threatened) oleh IUCN. Untuk menjaga kelestarian spesies ini sekaligus mendukung produksi akuakultur yang berkelanjutan, para peneliti berupaya mengembangkan teknik pemijahan buatan di lingkungan terkendali.
Masalah utama yang dihadapi dalam penangkaran lele kepala besar adalah kegagalan induk betina untuk memijah secara alami. Meskipun ikan ini dapat mencapai kematangan gonad dalam waktu satu tahun, proses pematangan telur sering terhenti sebelum ovulasi sehingga pemijahan tidak terjadi. Berbagai pendekatan hormonal telah dicoba selama beberapa dekade terakhir, mulai dari penggunaan ekstrak kelenjar hipofisa hingga hormon manusia seperti human chorionic gonadotropin (hCG), namun hasilnya sering kali tidak konsisten. Kondisi ini mendorong munculnya penelitian baru untuk menemukan kombinasi hormon sintetis yang lebih efisien dan stabil dalam memicu pemijahan.
Sebuah penelitian kolaboratif yang melibatkan ilmuwan dari Vietnam, Indonesia, dan Hungaria berhasil menemukan kombinasi hormon yang paling efektif untuk menginduksi pemijahan lele kepala besar di penangkaran. Penelitian ini dilakukan oleh Nguyễn Ngọc Quyến, Nguyễn Thị Trúc Quyên, Thạch Anh Pha, dan Nguyễn Thanh Tâm dari Nonglam University (Vietnam); Tamás Müller, dan József Horváth dari Hungarian University of Agricultural and Life Sciences (Hungary); serta Darmawan Setia Budi dari Universitas Airlangga, (Indonesia). Mereka menguji penggunaan hormon sintetis LHRH-A3 (Luteinizing Hormone Releasing Hormone A3) yang berperan menstimulasi pelepasan hormon gonadotropin alami pada ikan, dikombinasikan dengan metoclopramide (MET), yaitu penghambat reseptor dopamin yang dapat memperkuat efek kerja hormon reproduksi.
Sebanyak 66 ekor induk betina lele kepala besar digunakan dalam percobaan ini, yang dibagi ke dalam sebelas kelompok perlakuan dengan kombinasi dosis berbeda antara LHRH-A3 dan MET. Kelompok kontrol hanya disuntik dengan larutan garam fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang hanya menerima suntikan garam atau metoclopramide tidak mengalami ovulasi sama sekali. Sebaliknya, ikan yang disuntik dengan kombinasi hormon menunjukkan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Kombinasi dosis 20 mikrogram LHRH-A3 dengan 10 miligram MET per kilogram berat tubuh menghasilkan tingkat ovulasi 100 persen, dengan tingkat pembuahan telur mencapai 98 persen, tingkat penetasan 96 persen, dan kelangsungan hidup larva mencapai 97 persen. Menariknya, kombinasi ini juga terbukti lebih efisien secara ekonomi dibandingkan dosis hormon yang lebih tinggi, tanpa mengurangi kualitas telur dan larva yang dihasilkan.
Keberhasilan ini memiliki implikasi besar bagi sektor pembenihan ikan di Asia Tenggara. Dengan penerapan dosis hormon yang tepat, para pembudidaya dapat memproduksi benih lele kepala besar berkualitas tinggi secara konsisten dan efisien tanpa bergantung pada induk tangkapan dari alam. Selain mendukung produktivitas ekonomi, teknik ini juga berperan penting dalam konservasi plasma nutfah ikan lokal. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan fisiologis dalam pengelolaan reproduksi ikan dapat menjadi solusi nyata untuk mewujudkan budidaya berkelanjutan sekaligus pelestarian spesies asli perairan tropis.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi hormon sintetis LHRH-A3 dan metoclopramide dapat digunakan secara efektif untuk merangsang pemijahan lele kepala besar di lingkungan penangkaran. Dosis 20 mikrogram LHRH-A3 dan 10 miligram MET per kilogram berat badan direkomendasikan sebagai formula optimal karena menghasilkan tingkat keberhasilan tertinggi dengan efisiensi biaya yang baik. Temuan ini tidak hanya menjadi acuan teknis bagi hatchery dan petani ikan, tetapi juga memperkuat peran riset ilmiah dalam mendukung pembangunan perikanan berkelanjutan dan ketahanan pangan berbasis sumber daya hayati lokal di Asia Tenggara.
Sumber:
Nguyễn Ngọc Quyến, Nguyễn Thị Trúc Quyên, Darmawan Setia Budi, Thạch Anh Pha, Nguyễn Thanh Tâm, József Horváth, dan Tamás Müller. Hormonal induction of the bighead catfish (Clarias macrocephalus): Viable protocols for luteinizing hormone releasing hormone A3 and metoclopramide. Aquaculture Reports (2025), Vol. 45, 103159.
https://doi.org/10.1016/j.aqrep.2025.103159
Oleh. Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si.





