Universitas Airlangga Official Website

Menerapkan Terapi Seksual pada Pria Berbasis Digital: Apakah Efektif?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Tren peningkatan teknologi semakin marak, informasi seputar dunia kesehatan juga semakin mudah didapatkan. Ini juga menjadi sinyal positif bagi masyarakat untuk lebih peduli dengan masalah kesehatan termasuk masalah yang sensitif seperti kesehatan seksual. Belum lagi, budaya dan norma, sering sekali menggarisbawahi bahwa pria adalah pribadi yang kuat dan tangguh, bermasalah dengan kehidupan seksual adalah sebuah “red flag” sehingga pria enggan berobat.

Masalah disfungsi seksual pada pria seperti disfungsi ereksi, ejakulasi dini, atau penurunan hasrat seksual bukan sekadar persoalan fisik. Kondisi ini sering kali berdampak luas, mulai dari menurunnya kepercayaan diri, gangguan psikologis, hingga meretakkan hubungan dengan pasangan. Selama ini, terapi medis dan konseling tatap muka menjadi pilihan utama, tetapi pilihan ini memiliki sedikit masalah. Pria enggan kelihatan berobat ke dokter, apalagi hingga ketahuan oleh orang yang mereka kenal. Namun, perkembangan teknologi kini membuka jalan baru: terapi seksual berbasis digital. Pendekatan yang mungkin dianggap lebih pribadi dan rahasia.

Sebuah tinjauan sistematis terbaru mengkaji berbagai bentuk intervensi digital, seperti terapi kognitif perilaku berbasis internet (internet-based cognitive behavioral therapy/ICBT), edukasi seksual daring, hingga konseling berbasis web. Studi ini mengumpulkan data dari berbagai penelitian yang sudah dimulai sejak 2007 hingga 2024 dan menemukan bahwa pendekatan digital memiliki potensi besar dalam membantu mengatasi disfungsi seksual pada pria.

Salah satu temuan utama adalah bahwa terapi berbasis internet dapat meningkatkan fungsi ereksi dan kepuasan seksual. Program-program ini umumnya berlangsung selama 6–12 minggu dan sering dilengkapi dengan umpan balik dari terapis atau sistem otomatis. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20–30% pria mengalami perbaikan signifikan atau “remisi” dari disfungsi ereksi setelah mengikuti terapi digital.Tidak hanya itu, manfaat lain juga terlihat pada aspek psikologis. Banyak peserta melaporkan penurunan kecemasan performa seksual serta peningkatan kepercayaan diri. Hal ini menunjukkan bahwa terapi digital tidak hanya bekerja pada gejala fisik, tetapi juga menyasar faktor psikologis yang bisa jadi menjadi akar masalah seksual.

Aksesibilitas adalah salah satu alasan, menjadikan terapi ini menarik dan cukup menjanjikan. Banyak pria enggan mencari bantuan karena stigma, rasa malu, atau keterbatasan waktu dan biaya. Di sisi lain platform digital menawarkan privasi, fleksibilitas, dan kemudahan akses, sehingga lebih sesuai dengan preferensi sebagian pria yang cenderung memilih solusi anonim. Selain itu, terapi berbasi digital memungkinkan pria berkonsultasi jarak jauh sehingga bisa meningkatkan kepatuhan dan keteraturan terapi meski mungkin terpisah jarak atau waktu dengan tenaga profesional.

Namun, bukan berarti tanpa tantangan. Studi ini juga jusrtru menemukan bahwa tingkat kepatuhan (adherence) pengguna terhadap terapi digital masih menjadi masalah besar. Akses yang mudah dengan mengandalkan tekonologi ternyata tidak membuat pria patuh sepenuhnya dalam terapi. Banyak peserta tidak menyelesaikan program, dengan tingkat putus di tengah jalan (dropout) yang bisa mencapai lebih dari 50%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mudah diakses, terapi digital tidak selalu mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

Dalam hal psikoedukasi dan terapi group online, kualitas informasi di dunia digital juga sangat bervariasi. Tidak semua platform berbasis bukti ilmiah. Beberapa bahkan dapat menyebarkan informasi yang menyesatkan atau memperkuat kecemasan seksual. Misalnya, forum online tertentu dapat menciptakan persepsi yang tidak realistis tentang performa seksual atau mempromosikan pendekatan yang tidak terbukti secara ilmiah.

Karena itu, peran tenaga kesehatan tetap sangat penting. Terapi digital sebaiknya tidak digunakan secara sembarangan, melainkan sebagai bagian dari pendekatan yang terstruktur dan terintegrasi dengan layanan medis profesional. Dengan kata lain, platform digital idealnya “diresepkan” oleh tenaga kesehatan, bukan sekadar ditemukan secara acak oleh pasien di internet.

Ke depan, terapi seksual digital memiliki masa depan yang menjanjikan, tetapi masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut. Penelitian lanjutan diperlukan untuk meningkatkan kualitas intervensi, memperbaiki tingkat kepatuhan, serta memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang.

Pada akhirnya, teknologi bukanlah pengganti hubungan terapeutik, melainkan alat yang dapat memperluas akses dan memperkaya pendekatan dalam menangani masalah seksual. Tantangan utamanya bukan lagi apakah terapi bisa dilakukan secara digital, tetapi bagaimana merancangnya agar tetap manusiawi, efektif, dan berbasis bukti ilmiah.

Penulis: Arya Srisadono, Muhammad Adamas, Cennikon Pakpahan, Camil C Branco,

Detil tulisan ini dapat dilihat di: Internet-based cognitive behavioral therapy, web-based counseling, and online/digital psychoeducation for male sexual dysfunction: a systematic review, Sexual Medicine Reviews, Volume 14, Issue 2, April 2026, qeag020, https://doi.org/10.1093/sxmrev/qeag020