Akhir perang Rusia vs Ukraina belum bisa dipastikan. Apa yang terjadi di medan tempur bukan satu-satunya indikator dinamika pertarungan kekuatan yang sebenarnya, karena di balik pintu tertutup pun berlangsung diplomasi tingkat tinggi yang boleh jadi lebih menentukan hasil konflik.
Bagaimana perang era modern dilakukan terus berubah dengan dukungan teknologi dan ilmu pengetahuan. Berbagai lembaga think-tank internasional sudah lama memprediksi bentrokan fisik antara pasukan bersenjata akan menjadi semacam ‘entertainment’ saja, sedangkan konfrontasi yang lebih mematikan berada di ruang siber. Dengan demikian tugas pertahanan negara semakin kompleks. Di satu sisi harus mampu mempertahankan kualitas operasional unit-unit militer, dan di sisi lain harus mahir berdiplomasi serta menguasai seluk beluk mandala virtual.
Perang yang digelar Presiden Rusia Vladimir Putin kecil kemungkinan akan meluas ke Asia-Pasifik atau Indo-Pasifik, sebab China dan India memilih pasif dan tidak merespon provokasi agen-agen pro-Barat (Amerika Serikat dan sekutu NATO). Tetapi situasi yang secara kasat mata relatif stabil justru perlu lebih dicermati. Seperti pepatah bijak bilang air tenang menghanyutkan.
Coba kita tinjau perkembangan geopolitik Indo-Pacifik paling tidak lima tahun terakhir. Negara-negara bermiliter terkuat di Eropa mengintensifkan kehadiran mereka dan berebut pengaruh di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Presiden Emmanuel Macron menyebut Indo-Pasifik adalah prioritas utama kebijakan global Perancis. Pernyataan Macron diikuti oleh peningkatan diplomasi pertahanan dan kerja sama keamanan Perancis bersama 42 negara Asia dan Pasifik Selatan. Inggris tidak mau ketinggalan lewat formasi AUKUS (Australia-United Kingdom-United States) memperbarui pilar-pilar coalition of the willing yang sejak Presiden Amerika Serikat Bill Clinton telah menjadi semboyan aliansi Washington-London. Dengan AUKUS Australia tambah eksis menggandeng mitra adi daya, padahal sejak Perang Dingin Canberra punya ANZUS (Australia-New Zealland-United States), sebuah payung pertahanan trisula yang menjamin perlindungan Amerika Serikat untuk Australia dan Selandia Baru. Dengan merangkul AUKUS dan ANZUS berarti Australia merasa butuh sandaran yang lebih tebal dan kokoh, sekaligus isyarat rasa ketidakamanan yang meningkat.
Dari perspektif Asia, India juga demikian. Sekutu tradisional New Delhi adalah Moskwa. Namun, kini India aktif di dalam the Quad bersama Australia, Jepang dan Amerika Serikat. India dan Jepang menolak jika mereka disebut tengah membangun aliansi militer, dan lebih suka menyebut kolaborasi ekonomi komprehensif. Faktanya, intensitas latihan gabungan militer keempat negara terus ditingkatkan, bahkan di periode pandemi 2020 dan 2021 diadakan operasi komando berskala besar di perairan Laut China Selatan. Walhasil China dan Rusia meradang dan membalas dengan latihan perang darat, laut dan udara tepat di koordinat berseberangan dengan lokasi tentara the Quad berlatih. Perlu dicatat, acara pamer kekuatan tidak sekadar mengenai jumlah personel dan jenis peralatan tercanggih, namun mereka juga menguji keefektifan teknologi pendukung militer yang menjangkau sektor-sektor non-militer, seperti energi, finansial dan perubahan iklim.
Lalu apa urusannya dengan Indonesia? Toh, lingkungan geostrategis kita aman dan damai, setidaknya begitu kesan yang diperlihatkan dari Jakarta. Justru itu masalahnya. Posisi Indonesia dimana dan apa yang sudah dilakukan? Australia, China dan India adalah tetangga dekat, kapasitas ekonomi dan kapabilitas militer mereka lebih besar daripada Indonesia, dan mereka saja begitu tanggap menyikapi perkembangan Indo-Pasifik. Sewaktu agenda ambisius poros maritim masih ada, pemerintah mengklaim Indo-Pasifik adalah kawasan dimana Indonesia bakal jadi kekuatan ekonomi, politik dan militer disegani, pemain yang berpengaruh dan dihormati. Program aksi telah dibuat beriringan dengan peremajaan alat-alat pertahanan dan keamanan negara. Terlepas dari bagaimana kemajuan implementasi doktrin maritim dan modernisasi pertahanan, kini jangkar visioner poros maritim pun tiada. Kembali lagi ke agenda teknokrasi developmentalis memperkuat kerja sama ekonomi dan peran kepemimpinan di lembaga-lembaga multilateral kelas dunia.
Oke-oke saja kalau sekarang Indonesia mau dibawa jadi pewacana reformasi tatanan ekonomi global melalui institusi seperti G-20. TETAPI, politik luar negeri tanpa relevansi geopolitik adalah nonsense.
Para pendiri republik sangat menguasai geopolitik. Politik luar negeri bebas aktif dicetuskan dengan pertimbangan geopolitik. Dan sekarang ketika Eropa memanas, Timur Tengah mereposisi diri dan Indo-Pasifik bak api dalam sekam, apa yang harus diperbuat Indonesia?
Intinya siapa yang harus mengamankan Indo-Pasifik; kita atau mereka? Bila kita, maka persiapkan modalitas dan instrumen yang dipunyai, tingkatkan peluang mobilisasi sumber daya diplomasi serta bangun relasi yang lebih berprospek. Konsekuensi pertama opsi ini adalah redesain strategi implementasi bebas aktif. Bebas berarti tidak mau didikte kekuatan eksternal apapun untuk membuat keputusan demi kepentingan nasional dan aktif memperjuangkan kepentingan bangsa di panggung dunia. Untuk itu, bebas aktif tidak harus non-blok, bergerak ke segala arah dan terbuka berteman dengan siapa saja yang penting Indonesia untung. Yang ini namanya pragmatis. Bebas aktif kebalikannya, yakni berprinsip. Bebas aktif membutuhkan pemimpin yang berani mengambil sikap tegas, bukan yang jago basa basi diplomasi.
Jadi Indonesia mau kemana ke depan? Arena perang Rusia dan Ukraina bisa berubah drastis kapan saja, dan resonansi strategis perubahan yang terjadi masih samar. Sekarang Indonesia dikepung oleh pemain-pemain dengan kemampuan konvensional dan nonkonvensional jauh di atas. Perhitungkanlah skenario terburuk bila geopolitik keos siapa yang akan menolong Indonesia dan masih bergunakah politik tanpa fokus yang jelas untuk dilanjutkan. Sederhana saja, kalau paham pengertian esensial bebas aktif, maka pertimbangkan untuk mengambil langkah progresif. Kemungkinan di masa mendatang Indonesia butuh aliansi.
Penulis: I Gede Wahyu Wicaksana
After all these years, Indonesia tentu tidak mau Indo-Pasifik dikontrol oleh pihak luar.
Sumber lengkap WICAKSANA, I. Gede Wahyu; KARIM, Moch Faisal. Approaches to Indonesia’s Foreign Policy: Area Studies, FPA Theory, and Global IR. JAS (Journal of ASEAN Studies), 2022, 10.2.





