Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Investor Peduli dengan Risiko Keberlanjutan, Tata Kelola Perusahaan, dan Perilaku Investor

ilsustrasi perusahaan (foto; dok istimewa)

Dalam dunia investasi modern, pertimbangan terhadap faktor keberlanjutan semakin menjadi fokus utama. Investor tidak lagi hanya melihat laporan keuangan semata, tetapi juga mempertimbangkan risiko keberlanjutan (sustainability risk) dan kualitas tata kelola perusahaan (corporate governance quality). Istilah risiko keberlanjutan yang merujuk pada potensi dampak negatif pada suatu organisasi, investasi, atau aktivitas karena faktor lingkungan, sosial, atau tata kelola (ESG), telah sering dibahas karena memiliki dampak langsung pada pengambilan keputusan perusahaan (Arslan dan Alqatan, 2020; Melina et al., 2016; Raian et al., 2022; Seddighi dan Ahmadi-Javid, 2015; Hajmohammad dan Vachon, 2016; Torinelli dan Silva Júnior, 2021; Zhou dan Yuen, 2024). Hal ini menjadi perhatian yang signifikan dalam praktiknya sejak pemerintah Indonesia menetapkannyawajib bagi beberapa perusahaan: perusahaan sektor keuangan dan perusahaan tercatat (aturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 51/POJK.03/2017), semua perusahaan yang kegiatannya memanfaatkan sumber daya alam (Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas), dan semua perusahaan besar yang melakukan kegiatan berdampak signifikan terhadap lingkungan hidup (UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup)

Risiko keberlanjutan mengacu pada potensi dampak negatif dari faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) terhadap suatu perusahaan. Faktor-faktor ini dapat berupa perubahan iklim, kebijakan lingkungan, hingga dampak sosial akibat aktivitas perusahaan. Beberapa perusahaan di sektor keuangan dan yang terdaftar di bursa bahkan diwajibkan oleh peraturan pemerintah untuk mengelola risiko keberlanjutan mereka dengan baik (Suryawati et al., 2025).

Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat risiko keberlanjutan yang rendah lebih menarik bagi investor dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki risiko tinggi. Investor cenderung menghindari perusahaan yang memiliki potensi dampak negatif besar terhadap lingkungan atau masyarakat karena risiko ini dapat berdampak pada stabilitas keuangan dan reputasi perusahaan di masa depan (Suryawati et al., 2025).

Selain risiko keberlanjutan, investor juga memperhatikan kualitas tata kelola perusahaan. Corporate Governance Quality (CGQ) atau tata kelola yang baik merupakan salah satu aspek yang dapat mengurangi asimetri informasi bagi perusahaan dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengambilan keputusan (Jensen, dan Meckling, 1976; Mcwilliams, 2016). CGQ dapat digunakan sebagai salah satu bentuk pengawasan dan pengelolaan perusahaan yang akuntabel sehingga kinerja perusahaan secara keseluruhan dapat memenuhi target yang dicapai. Pedoman tata kelola perusahaan menjadi hal yang mendasar bagi para pemangku kepentingan untuk menilai apakah perusahaan tersebut memiliki kualitas dan transparansi dalam pengelolaan perusahaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan investor. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan tata kelola perusahaan yang lebih kuat, yang ditunjukkan oleh faktor-faktor seperti pengawasan dewan direksi yang efektif, pemisahan CEO-chair, dan hak-hak pemegang saham, cenderung memiliki risiko jatuhnya harga saham yang lebih rendah (Choi, Choi, Choi, & Chung, 2020). Sebaliknya, apabila kualitas implementasi dan pengungkapan CGQ lemah, maka dapat diinterpretasikan bahwa asimetri informasi yang dihasilkan akan tinggi sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan (Landi, Iandolo, Renzi, & Rey, 2022).

Penelitian eksperimental yang dilakukan oleh Suryawati et al (2025) menunjukkan bahwa investor lebih memilih perusahaan dengan tata kelola yang berkualitas tinggi meskipun perusahaan tersebut memiliki risiko keberlanjutan yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa tata kelola yang baik dapat menjadi faktor mitigasi bagi risiko keberlanjutan, memberikan kepercayaan lebih kepada investor. 

Perilaku Investor dalam Pengambilan Keputusan

Perilaku investor memainkan peran penting dalam keputusan investasi. Faktor psikologis, pengalaman investasi, serta tingkat kepercayaan terhadap perusahaan menjadi elemen kunci dalam menentukan alokasi dana. Investor yang lebih berhati-hati cenderung memilih perusahaan dengan risiko keberlanjutan yang rendah dan tata kelola yang baik. Sebaliknya, investor yang lebih berani mungkin tetap berinvestasi di perusahaan dengan risiko tinggi jika imbal hasil yang ditawarkan cukup menarik.

Hasil penelitian Suryawti et al (2025) juga menunjukkan bahwa investor yang memiliki pengalaman lebih luas dalam pasar keuangan lebih cenderung mempertimbangkan tata kelola perusahaan sebagai faktor utama dibandingkan dengan investor pemula yang lebih fokus pada risiko keberlanjutan saja..

Implikasi bagi Dunia Bisnis

Bagi perusahaan, hasil penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa mengelola risiko keberlanjutan, meningkatkan kualitas tata kelola, adalah penting dan mempengaruhi perilaku investor. Perusahaan tidak hanya perlu mematuhi regulasi, tetapi juga menerapkan praktik terbaik dalam manajemen keberlanjutan dan tata kelola agar lebih kompetitif di pasar.

Sebagai investor, memahami dan mempertimbangkan faktor risiko keberlanjutan, tata kelola perusahaan, serta perilaku investor dapat membantu dalam mengambil keputusan investasi yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Dengan begitu, investasi yang dilakukan tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan sosial yang lebih baik.

Penulis: Rindah Febriana Suryawati*, Amaliyah, Arif Widyatama, dan Mazni Abdullah