Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Kohesi Penting bagi Mahasiswa Vokasi?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Dalam pendidikan vokasi, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu berbahasa Inggris secara umum, tetapi juga menulis teks yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Inilah ranah English for Specific Purposes (ESP), di mana mahasiswa harus mampu menyusun laporan, deskripsi produk, prosedur kerja, atau analisis bisnis secara jelas dan profesional. Salah satu kunci utama kualitas tulisan tersebut adalah “kohesi, kemampuan menghubungkan bagian-bagian teks agar padu dan mudah dipahami.

Penelitian ini mengkaji bagaimana mahasiswa Diploma Bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia menggunakan perangkat kohesi dalam berbagai genre tulisan: cause–effect, comparison–contrast, description, narration, dan procedure. Analisis dilakukan menggunakan kerangka Systemic Functional Linguistics (SFL) dari Halliday dan Hasan, yang membagi kohesi ke dalam lima kategori: reference, substitution, ellipsis, conjunction, dan lexical cohesion.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa paling banyak menggunakan kohesi leksikal, terutama dalam bentuk repetition (pengulangan kata). Misalnya, istilah seperti online shopping, e-commerce, atau nama platform seperti Shopee dan Tokopedia diulang berkali-kali untuk menjaga topik tetap konsisten. Strategi ini memang membantu menjaga kepaduan, tetapi juga menunjukkan keterbatasan variasi kosakata.

Perangkat kohesi kedua yang paling sering muncul adalah reference, khususnya anafora (kata ganti yang merujuk ke unsur sebelumnya, seperti they, this). Dalam teks narasi dan prosedur, referensi eksofora seperti I dan you juga dominan, mencerminkan gaya personal dan instruksional.

Sebaliknya, penggunaan conjunction (kata hubung seperti however, for instance, firstly) relatif terbatas, dan ellipsis (penghilangan unsur yang dapat dipahami dari konteks) sangat jarang. Bahkan, substitution tidak ditemukan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih lebih nyaman menggunakan strategi lokal (pengulangan dan kata ganti) dibanding strategi kohesi yang lebih kompleks dan global.

Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan kohesi bukan sekadar aspek teknis tata bahasa, melainkan kompetensi profesional. Dalam konteks vokasi, teks yang kurang kohesif dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam laporan kerja, instruksi teknis, atau komunikasi bisnis.

Karena itu, pengajaran ESP perlu secara eksplisit melatih variasi dan ketepatan penggunaan perangkat kohesi. Pendekatan berbasis genre dan kesadaran linguistik fungsional dapat membantu mahasiswa tidak hanya “mengulang kata”, tetapi juga membangun teks yang lebih kaya, strategis, dan sesuai dengan tuntutan dunia profesional.

Dengan demikian, penguasaan kohesi menjadi jembatan penting antara keterampilan akademik dan kesiapan kerja lulusan vokasi.

Oleh Lutfi Ashar Mauludin, S.Pd., M.A., M.Pd.

Informasi detail dari artikel ini dapat dibaca lebih lengkap pada publikasi ilmiah berikut : 

Mauludin, L. A., Ardianti, T. M., & Kusumaningrum, W. R. (2026). Developing proficient ESP writers: an in-depth exploration of cohesive devices in vocational education. Cogent Education13(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2026.2617736