Universitas Airlangga Official Website

Mengapa Terapi Menopause yang Diterima Perempuan Berbeda-beda?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan yang ditandai dengan berhentinya menstruasi akibat dari menurunnya sex steroid hormon yang dihasilkan ovarium. Proses ini merupakan proses biologis yang nomal. Biasanya perempuan akan mengalami gejala yang bervariasi seperto hot flushes (sensasi panas mendadak), gangguan tidur, perubahan suasana hati, kekeringan vagina, hingga masalah seksual yang dapat berujung pada penurunan kualitas hidup secara signifikan. Berdasarkan nature dari kondisi ini, penurunan hormon yang terjadi alaminya perlu diganti untuk mendukung fungsi fisiologis perempuan. Terapi ini dikenal dengan istilah menopausal hormone therapy (MHT) atau terapi hormon menopause.

Namun pada faktanya, perempuan dengan keluhan yang mirip sering sekali menerima penanganan yang berbeda-beda dari dokter yang berbeda. Mengapa demikian?

Baru-baru ini survey dilakukan terhadap 361 dokter anggota European Society of Gynecology (ESG) dari berbagai negara di Eropa. Penulis yang merupakan salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bergabung dalam survei ini. Ada beberapa temuan yang diperoleh dari hasil survei ini.

Mayoritas dokter berpendapat bahwa hot flushes sebagai gejala yang paling memengaruhi kehidupan mereka. Keluhan lain seperti iritabilitas, gangguan tidur, dan gejala pada area genital adalah gejala lain yang juga dilaporkan. Dari survei ini juga dipeorleh dokter berpendapat keengganan pasien serta kekhwatiran terhadap risiko kanker, terutama kanker payudara membuat mereka tidak meresepkan hormon sebagai terapi menopause.

Meski demikian, analisis lebih mendalam menemukan bahwa ketakutan ternyata bukan faktor utama yang membedakan pola peresepan oleh dokter. Sebaiknya sistem pelayanan kesehatan tempat dokter bekera lah yang menjadi faktor utama peresepan ini. Dokter yang berpraktek dalam sistem kesehatan swasta lebih cenderun meresepkan hormon dibandingkan yang bekerja dalam sistem kesehatan nasional. Temuan ini menjadi bukti bahwa keputusan kinis tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, preferensi dokter atau bahkan panduan klinis yang ada, tetapi konteks ekonomi, akses layanan, dan karakteristik sistem kesehatan turut andil besar.

Berdasarkan temuan ini, survei ini juga membagi tiga tipe dokter yang meresepkan hormon dalam manajemen menopause, antara lain:

  1. Dokter Pro-aktif: dokter ini cenderung mengikuti domain ilmiah terbaru dengan penggunaan terapi hormon yang cukup sering,
  2. Dokter Pragmatis: dokter tipe ini lebih cenderung pragmatis dan menyeimbangkan penggunaan hormonal dan non-hormonal,
  3. Dokter Konservatif: tipe ini ini lebih sering menghindari penggunaan terapi hormonal dan lebih menyukai terapi non-hormonal.

Temuan ini menjadi referensi bahwa menopause bukan sekadar persoalan hormon. Penanganannya dipengaruhi oleh berbagai interaksi antara bukti ilmiah, persepsi risiko, sistem kesehatan, dan preferensi pasien sendiri. Oleh karena itu, peningkatan edukasi bagi tenaga kesehatan dan masyarakat menjadi penting agar perempuan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan memperoleh pelayanan menopause yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu keterlibatan sistem kesehatan menjadi bukti bahwa struktur dan regulasi turut ambil besar dalam penanganan penyakit. Pada akhirnya, tujuan utama bukan hanya mengurangi gejala, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup perempuan selama menjalani transisi menopause.

Referensi:

Pakpahan C, Castelo-Branco C. Heterogeneity and clinician typologies in menopause management: Insights from a European survey and latent class analysis. Maturitas. 2026;210:108995. Available from: https://doi.org/10.1016/j.maturitas.2026.108995