Universitas Airlangga Official Website

Mengenal Bahaya Tingginya Gula Darah pada Anak

Ilustrasi pengecekan gula darah. (sumber: klikdokter.com)

Selama ini, mungkin kita lebih sering dengar tentang diabetes atau gula darah tinggi. Tapi ternyata, ada kondisi darurat yang bisa terjadi akibat gula darah yang terlalu tinggi, yaitu Hyperglycemic Hyperosmolar State atau disingkat HHS. Kondisi ini bisa sangat berbahaya—dan yang mengejutkan, bisa juga dialami oleh anak-anak. HHS adalah kondisi serius yang terjadi saat kadar gula darah seseorang sangat tinggi, tubuhnya kekurangan cairan parah (dehidrasi), dan darahnya menjadi sangat “pekat”. Yang membuat HHS berbeda dari kondisi diabetes berat lainnya, seperti diabetic ketoacidosis (DKA), adalah tidak ada banyak keton dalam tubuh. Padahal, biasanya tubuh menghasilkan keton saat kekurangan insulin.

Dalam sebuah kasus di Surabaya, ada seorang anak perempuan usia 7 tahun 9 bulan yang dibawa ke rumah sakit karena sesak napas. Selama sebulan sebelumnya, dia sering buang air kecil dan terlihat kurus. Saat diperiksa, dia tampak sangat haus, bibirnya kering, dan matanya cekung—tanda-tanda tubuhnya kekurangan cairan. Hasil tes laboratorium menunjukkan gula darahnya sangat tinggi: 1126 mg/dL (normalnya di bawah 200), darahnya sangat asam (pH 6,97), dan ada sedikit keton dalam urinnya, tapi tidak banyak. Awalnya, dokter di rumah sakit sebelumnya mengira ini adalah DKA dan memberikan pengobatan seperti biasanya. Tapi karena sebenarnya ini bukan DKA, melainkan HHS, pengobatan itu tidak efektif dan dehidrasinya belum tertangani dengan baik.Yang menarik, meskipun si anak tidak gemuk dan tidak ada tanda-tanda diabetes tipe 2 seperti kulit menghitam di leher atau ketiak, hasil tes C-peptide-nya menunjukkan kalau tubuhnya masih bisa memproduksi insulin. Ini mengarah pada kemungkinan diabetes tipe 2, yang jarang terjadi pada anak-anak.

Sekilas, DKA dan HHS punya gejala yang mirip, tapi cara menanganinya beda. DKA biasanya muncul pada penderita diabetes tipe 1, dan ditandai dengan banyak keton di tubuh. Sedangkan HHS lebih sering terjadi pada diabetes tipe 2, dengan gula darah jauh lebih tinggi dan dehidrasi berat, tapi tanpa banyak keton. Karena itu, salah mendiagnosis bisa berbahaya. Penanganannya harus disesuaikan agar pasien cepat pulih dan terhindar dari komplikasi. Kasus ini mengingatkan kita bahwa diabetes pada anak bisa muncul dengan cara yang tidak biasa. Jika anak sering buang air kecil, cepat haus, lemas, atau terlihat sangat kurus, jangan anggap sepele. Segera periksakan ke dokter. Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan anak bisa pulih dengan baik.

Penulis: Dr. Nur Rochmah, dr., Sp.A(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://learning-gate.com/index.php/2576-8484/article/view/4683