Universitas Airlangga Official Website

Mengenal Linguistik Forensik, “Senjata” Andalan Saksi Ahli Bahasa di Persidangan

Ilustrasi linguistik forensik (Foto: viva.co.id)

Selama ini kita tahu bahwa untuk menangkap pelaku kejahatan perlu adanya bukti-bukti yang kuat. Namun, apakah kalian tahu bahwa bahasa juga bisa menjadi bukti yang kuat untuk mengungkap pelaku kejahatan? Ya, bahasa yang kita ucapkan sehari-hari maupun yang kita ketik di media sosial bisa saja loh membuat kita terjerat hukum. Konsekuensinya, kita akan diadili berdasarkan bukti berupa hasil analisis bahasa kita yang sudah dilakukan oleh saksi ahli bahasa atau ahli bahasa. Saksi ahli yang didatangkan pun bukan sembarangan orang. Mereka adalah orang-orang terpilih yang telah menguasai salah satu cabang ilmu dalam linguistik, yaitu linguistik forensik.

Apa itu linguistik forensik? Siapa itu saksi ahli bahasa atau ahli bahasa? Bagaimana linguistik forensik membantu saksi ahli dalam mengungkap pelaku kejahatan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlintas di pikiran kita. Maka dari itu, mari kita berkenalan dengan linguistik forensik terlebih dahulu serta siapa dan bagaimana ahli bahasa menggunakan “senjata” tersebut untuk mengungkap pelaku kejahatan.

Sebelum kita melangkah masuk ke pengertian linguistik forensik, alangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu tentang linguistik dan forensik. Apa itu linguistik? Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa, mulai dari bunyi bahasa, struktur bahasa, hingga makna bahasa. Linguistik perlu bagi para peneliti bahasa untuk menganalisis bahasa, baik bahasa ibu, bahasa lokal, bahasa asing, maupun bahasa yang sudah kuno sekalipun. 

Di sisi lain, forensik adalah penerapan dari berbagai ilmu pengetahuan untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Kemudian dihadirkan di dalam sidang pengadilan. Forensik menjadi kebutuhan dalam penyelidikan untuk membuktikan ada atau tidaknya suatu tindak pidana.

Setelah kita mengetahui arti dari kedua kata tersebut, maka kita bisa menyimpulkan bahwa linguistik forensik adalah ilmu bahasa yang berhubungan dengan ilmu forensik dan konteks hukum. Linguistik forensik berperan sebagai alat bedah untuk menganalisis bukti berupa data bahasa dalam berbagai media. Seperti rekaman audio, teks, wawancara, dan bahkan ketikan seseorang di media sosial. Tujuan dari linguistik forensik ini sendiri adalah untuk membantu mengidentifikasi bentuk kejahatan yang melibatkan bahasa dalam proses penyelidikan dan persidangan. Selain itu, linguistik forensik juga bisa mengidentifikasi kebenaran dari pernyataan dan mendapatkan informasi lainnya yang dapat membantu dalam proses investigasi.

Sebelum kita mengenal siapa itu saksi ahli bahasa atau ahli bahasa, alangkah baiknya jika kita berkenalan terlebih dahulu tentang siapa itu saksi ahli. Siapa itu saksi ahli? Mungkin beberapa orang belum mengetahui siapa itu saksi ahli. Jadi, saksi ahli adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, atau pengalaman khusus di bidang keilmuan tertentu dan memberikan keterangan atau pendapat dalam proses hukum untuk membantu pengadilan memahami masalah teknis atau ilmiah yang kompleks. Sesuai dengan pengertiannya, saksi ahli bisa berasal dari seseorang yang menguasai bidang linguistik. Saksi ahli ini bisa disebut sebagai ahli bahasa.

Dalam persidangan, ahli bahasa hadir untuk menganalisis bukti berupa data bahasa dan menyajikan pendapat terkait hasil analisis bukti. Di sinilah peran linguistik forensik muncul. Jika data bahasa berasal dari rekaman suara, ahli bahasa bisa menentukan identitas seseorang melalui suara yang direkam dan membandingkan suara tersebut dengan rekaman lain untuk mengidentifikasi kemiripan atau perbedaan. Ia juga dapat menentukan karakteristik seseorang dalam rekaman seperti kebohongan atau kecemasan, atau untuk mengidentifikasi pembicara yang tidak dikenal. 

Jika bukti bahasa berupa teks, ahli bahasa bisa menganalisis struktur dan makna teks, untuk mengidentifikasi karakteristik atau pola bahasa tertentu yang mungkin bisa mengungkapkan informasi tambahan atau sesuatu yang mencurigakan. Ia juga dapat menentukan apakah data bahasa dalam teks tertulis adalah asli atau sudah mengalami pemalsuan. 

Penulis: Ahza Riga Falimbani

Editor: Yulia Rohmawati, Ragil Kukuh Imanto