Kebutuhan akan protein hewani, khususnya daging, semakin meningkat seiring bertambahnya populasi dan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang. Memilih jenis hewan yang tepat untuk produksi daging adalah kunci dalam mencapai hasil maksimal. Pada akhirnya berkontribusi pada keamanan pangan. Penelitian terbaru mengkaji dan membandingkan beberapa parameter osteometri tengkorak domba. Ras domba yang menjadi objek penelitian adalah Balami, Uda, dan Yankasa untuk memahami lebih lanjut potensi produksi mereka.
Penelitian ini melibatkan 60 domba dari masing-masing ras. Macam-macam ras tersebut antara lain Balami, Uda, dan Yankasa, dengan pembagian yang seimbang antara jantan dan betina dewasa. Tengkorak domba-domba ini dimaserasi menggunakan teknik air panas untuk memisahkan jaringan lunak dan tulang, kemudian diukur menggunakan kaliper digital. Pengukuran tujuh parameter utama antara lain tinggi foramen magnum (FMH), lebar foramen magnum (FMW), dan indeks foramen magnum (FMI), serta panjang dental (DL), panjang palatal oral (OPL), panjang baris molar atas (LUM), dan panjang baris premolar atas (LUP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi foramen magnum (FMH) tertinggi ditemukan pada domba Balami (2,1 ± 0,1 cm). Sedangkan domba Uda dan Yankasa memiliki FMH masing-masing 1,9 ± 0,1 cm dan 1,8 ± 0,0 cm. Lebar foramen magnum (FMW) serupa pada domba Balami dan Uda, namun lebih lebar dibandingkan pada domba Yankasa (1,8 ± 0,1 cm). Indeks foramen magnum (FMI) menunjukkan pola yang berlawanan dengan FMH, di mana domba Yankasa memiliki nilai tertinggi.
Parameter panjang dental (DL), panjang palatal oral (OPL), dan panjang baris molar atas (LUM) tertinggi ditemukan pada domba Balami dan terendah pada domba Yankasa. Sedangkan panjang baris premolar atas (LUP) tertinggi pada domba Balami dan terendah pada domba Uda. Menariknya, pada domba Balami, nilai DL, OPL, LUM, dan LUP lebih tinggi pada jantan dibandingkan betina, sedangkan pada domba Uda dan Yankasa, nilai-nilai ini lebih tinggi pada betina.
Temuan dan Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa nilai craniometrik, termasuk foramen magnum dan osteometri dental, dapat berguna untuk membandingkan domba lokal Nigeria dengan ras lainnya, serta di antara mereka sendiri. Pengetahuan ini tidak hanya membantu dalam melakukan bedah mulut pada domba, tetapi juga membantu mengidentifikasi ras domba melalui studi perbandingan.
Penelitian ini memberikan wawasan baru dalam dunia peternakan, khususnya dalam pemilihan dan pemuliaan domba untuk produksi daging. Dengan memahami karakteristik osteometri tengkorak, peternak dapat membuat keputusan yang lebih baik dalam mengelola ternaknya. Pada akhirnya, akan meningkatkan produktivitas dan keamanan pangan.
Penulis: Tantri Dyah Whidi Palupi, drh., M.Si.
Link: https://e-journal.unair.ac.id/JMV/article/view/46245
Baca juga: Mengungkap Rahasia Kesuburan Sapi Madura melalui Pendekatan Proteomik





