Akses terhadap layanan kesehatan merupakan hak asasi manusia yang fundamental. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa banyak masyarakat di seluruh dunia, terutama di negara berkembang, masih menghadapi tantangan besar dalam mengakses layanan kesehatan yang layak. Artikel ini mengangkat isu aksesibilitas layanan kesehatan di daerah pedesaan Lesotho, sebuah negara kecil yang terkurung daratan di Afrika, yang selama ini dilanda masalah kemiskinan dan kekurangan layanan kesehatan yang memadai.
Lesotho memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi, dengan sekitar 70% populasi hidup dalam kondisi miskin. Situasi ini diperparah oleh pandemi COVID-19, yang telah memperlihatkan kelemahan dalam sistem kesehatan negara tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan kesehatan di Lesotho sangat dipengaruhi oleh beberapa dimensi, yaitu keterjangkauan, ketersediaan, keterima, dan aksesibilitas.
Salah satu temuan utama penelitian adalah bahwa keterjangkauan menjadi hambatan signifikan dalam akses layanan kesehatan. Masyarakat di pedesaan Lesotho sering kali tidak mampu membayar biaya perawatan kesehatan, baik itu biaya pengobatan maupun biaya transportasi untuk mencapai fasilitas kesehatan. Dalam konteks ini, banyak pasien yang harus mengorbankan kebutuhan dasar lainnya hanya untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan. Keterjangkauan menjadi isu yang mendesak, terutama bagi mereka yang sudah berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Selain keterjangkauan, ketersediaan layanan kesehatan juga menjadi masalah kritis. Banyak fasilitas kesehatan di Lesotho, terutama yang berada di daerah pedesaan, kekurangan tenaga medis yang terlatih, peralatan medis yang memadai, dan stok obat-obatan yang cukup. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa banyak pasien merasa fasilitas kesehatan tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka, baik dari segi kualitas maupun kuantitas layanan. Keterbatasan ini menyebabkan pasien sering kali harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan mereka.
Penerimaan terhadap layanan kesehatan juga menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa baik masyarakat dapat mengakses layanan yang tersedia. Banyak pasien merasa bahwa layanan yang mereka terima tidak sesuai dengan harapan mereka, baik dari segi sikap tenaga medis maupun kesesuaian layanan dengan kebutuhan mereka. Misalnya, faktor budaya dan bahasa sering kali menjadi penghalang dalam interaksi antara pasien dan tenaga medis, yang dapat mengurangi kepercayaan dan kenyamanan pasien.
Aksesibilitas fisik terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi isu sentral. Di banyak daerah pedesaan, jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan dan infrastruktur transportasi yang buruk membuat pasien kesulitan untuk mendapatkan layanan kesehatan tepat waktu. Hal ini terutama berdampak pada pasien dengan kondisi kesehatan darurat yang memerlukan penanganan segera.
Berdasarkan temuan tersebut, penulis menyarankan beberapa langkah strategis yang dapat diambil oleh pembuat kebijakan di Lesotho. Pertama, perlu adanya peningkatan investasi dalam infrastruktur kesehatan, termasuk pembangunan fasilitas kesehatan yang lebih banyak di daerah pedesaan. Kedua, pelatihan tenaga medis dan peningkatan kualitas layanan harus menjadi prioritas agar masyarakat merasa dihargai dan mendapatkan layanan yang sesuai. Ketiga, penting untuk mengembangkan program subsidi atau asuransi kesehatan yang dapat membantu meringankan beban biaya yang ditanggung oleh pasien. Meskipun tantangan yang dihadapi Lesotho dalam hal akses kesehatan sangat besar, ada harapan untuk perbaikan di masa depan. Dengan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan dari masyarakat internasional, Lesotho dapat mengatasi masalah-masalah ini dan memastikan bahwa semua warganya, terutama mereka yang tinggal di daerah pedesaan, memiliki akses yang adil dan setara terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. Melalui upaya bersama, kita bisa mewujudkan cita-cita Universal Health Coverage (UHC) yang menjamin akses layanan kesehatan bagi semua tanpa terkecuali.
Penulis: Dr. Ernawaty, drg., M.Kes
Informasi lengkap dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di: Dick-Sagoe, C., Ernawaty, E. & Odoom, D., Access to Decentralised Public Healthcare Service Delivery in Rural Areas of Lesotho. Journal of Asian and African Studies., August 2024. https://doi.org/10.1177/00219096241270684
Baca juga: Manfaat Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Mental





