Universitas Airlangga Official Website

Menguak Rahasia Pengeringan Optimal Bunga Kenanga

Ilustrasi Bunga Kenanga (Sumber : Wikimedia Commons)

Cananga odorata, atau yang lebih dikenal sebagai bunga kenanga, bukanlah sekadar tanaman hias beraroma harum. Sejak lama, bunga ini telah dimanfaatkan dalam berbagai tradisi pengobatan, aromaterapi, hingga industri kosmetik karena kandungan senyawa bioaktifnya yang melimpah. Namun, potensi luar biasa dari bunga kenanga ini sangat ditentukan oleh satu faktor penting yang sering kali diabaikan: metode pengeringan.

Pengeringan menjadi kunci utama dalam mempertahankan kualitas bunga kenanga pasca-panen. Dalam dunia industri, kesalahan dalam proses pengeringan dapat berujung pada kerusakan senyawa aktif, penurunan kadar antioksidan, hingga hilangnya aroma khas yang menjadi nilai jual utama. Sayangnya, metode tradisional seperti pengeringan matahari yang lazim digunakan masih menyimpan banyak kelemahan—dari segi ketidakstabilan suhu, paparan debu dan serangga, hingga ketidakmampuan untuk menjaga konsistensi mutu.

Menjawab tantangan inilah, tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Universitas Airlangga, dan University of Benin (Nigeria) melakukan riset mendalam dengan pendekatan ilmiah modern. Dalam studi yang telah dipublikasikan di South African Journal of Chemical Engineering, mereka mengupas tuntas tentang bagaimana pengeringan bunga kenanga dengan metode oven-assisted drying pada suhu terkendali 50°C dapat dioptimalkan secara matematis untuk menjamin mutu hasil akhir.

Riset ini tidak hanya sekadar mengamati proses pengeringan, tetapi juga membongkar mekanisme kinetika pengeringan melalui beberapa model matematis: Lewis, Page, dan Henderson & Pabis. Ketiganya merupakan model semi-teoretis yang kerap digunakan dalam kajian pengeringan lapisan tipis (thin-layer drying). Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kadar air dalam bunga kenanga menurun seiring waktu, dan bagaimana proses ini dapat dimodelkan secara akurat demi efisiensi energi dan mutu produk.

Hasilnya sangat mencengangkan. Model Page terbukti menjadi representasi paling akurat dari perilaku pengeringan bunga kenanga. Dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9970 dan nilai error terkecil dibanding model lainnya, model ini mampu menggambarkan penurunan kadar air secara presisi—mengidentifikasi dua fase penting: fase awal pengeringan cepat (fast drying period) dan fase lambat (slow drying period). Dalam fase awal, penguapan air berlangsung sangat cepat dari permukaan luar bunga. Namun seiring waktu, penguapan melambat karena air harus berdifusi dari bagian dalam jaringan bunga menuju permukaan.

Lebih lanjut, studi ini juga menyoroti efisiensi energi dan retensi kualitas dari metode oven-assisted drying dibanding metode lain seperti pengeringan matahari dan freeze drying. Meskipun freeze drying dikenal unggul dalam mempertahankan senyawa bioaktif, biaya operasional dan waktu pengeringan yang tinggi menjadikannya kurang cocok untuk aplikasi industri berskala besar. Sementara itu, pengeringan oven-assisted drying—meski berisiko merusak senyawa aromatik jika suhu terlalu tinggi—menawarkan keseimbangan terbaik antara efisiensi waktu, kontrol suhu, dan skalabilitas industri.

Tak hanya memberikan rekomendasi praktis, penelitian ini juga menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data dan model matematis dalam proses pengolahan bahan alam. Dengan dukungan metode ilmiah yang tepat, industri pengolahan herbal Indonesia dapat melangkah lebih jauh—menghadirkan produk berkualitas tinggi, bersaing di pasar global, dan tetap menjaga warisan kearifan lokal yang berakar pada tanaman asli Nusantara seperti bunga kenanga.

Penelitian ini bukan sekadar pengeringan bunga. Ini adalah langkah strategis menuju optimalisasi nilai tambah tanaman obat Indonesia, penguatan sektor bioindustri, dan pengembangan teknologi berbasis potensi lokal. Di tengah gempuran produk asing dan tantangan mutu industri herbal nasional, temuan ini menjadi harapan baru bahwa dengan inovasi dan presisi, sumber daya tropis kita bisa mendunia.

Penulis : Dr. Handoko Darmokoesoemo, Drs., DEA

Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

Tutik Muji Setyoningrum, Heri Septya Kusuma, Salsabila Hana Umamah, Naftalisda Elveta Salsabila, Handoko Darmokoesoemo, Andrew Nosakhare Amenaghawon, 2025, Analysis of moisture content and drying kinetics model for drying of Cananga odorata flowers, South African Journal of Chemical Engineering, 52, 292-299, DOI: 10.1016/j.sajce.2025.03.006

Jurnal dapat diakses pada link: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1026918525000290