Peningkatan infeksi bakteria gram negatif yang resistan terhadap banyak obat di seluruh dunia merupakan masalah kesehatan global yang penting. Asia Tenggara memiliki prevalensi Bakteri MDR gram negatif yang tinggi, termasuk yang resistan terhadap beberapa obat seperti P. aeruginosa.
P. aeruginosa merupakan patogen oportunistik yang memerlukan nutrisi minimal untuk kelangsungan hidupnya, sehingga mudah beradaptasi dan bertahan hidup pada lingkungan dengan kondisi ekstrim, seperti lingkungan rumah sakit. Bakteri Ini umumnya ditemukan pada permukaan abiotik seperti peralatan medis, ruangan, dan pancuran, dan bahkan dapat mencemari air suling, dan tersebar luas, terutama pada pasien dengan sistem imun lemah, pasien yang dirawat di ICU, atau pasien dengan penyakit penyerta yang parah. Oleh karena itu, P. aeruginosa umumnya dikaitkan dengan infeksi terkait layanan kesehatan. P. aeruginosa memiliki resistensi bawaan terhadap beberapa antibiotik, seperti ampisilin, amoksisilin, ampisilin-sulbaktam, asam amoksisilin-klavulanat, sefotaksim, sefriaxon, ertapenem, tetrasiklin, dan tigesiklin.
Carbapenem adalah antibiotik β-laktam spektrum luas dengan aktivitas penghambatan sintesis dinding sel bakteri. Karbapenem memiliki potensi yang sangat tinggi terhadap bakteri Gram-negatif dan Gram positif di antara obat β-laktam lainnya. Selain itu, karbapenem merupakan obat lini terakhir untuk menangani kasus pasien infeksi patogen MDR, termasuk P. aeruginosa. Penyebab P. aeruginosa (CRPA) resisten karbapenem umumnya didapat karena mutasi kromosom yang menyebabkan hilangnya atau inaktivasi porin OprD (Outer membran protein D) dan/atau ekspresi berlebih dari pompa efluks. Resistensi terhadap karbapenem juga dapat diperoleh melalui perolehan transfer gen horizontal (HGT) dari gen penyandi karbapenemase. Enzim B-laktamase yang dihasilkan bakteri pseudomonas ini mampu menetralisir karbapenem dan memberikan resistensi terhadap semua antibiotik β-laktam.
Infeksi CRPA menjadi alasan dilakukannya penelitian untuk mengetahui pola prevalensi dan kerentanan CRPA di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Januari hingga Desember 2021.
Peneliti menggunakan studi deskriptif observasional dari data sekunder dengan sampel isolat pertama P. aeruginosa per spesimen per pasien yang telah di identifikasi oleh sistem identifikasi otomatis dari spesimen urin, darah, cairan steril, nanah, jaringan, dan dahak yang secara fenotip resisten terhadap antibiotik meropenem atau imipenem, diperiksa di Unit Mikrobiologi Klinik RSUD Dr Soetomo Surabaya
Kesimpulan penelitian adalah isolat CRPA menunjukkan sensitivitas tertinggi terhadap amikasin, dan distribusi kejadian CRPA tertinggi terdapat di unit perawatan intensif.
Penulis Agung Dwi Wahyu Widodo
https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4098





