Universitas Airlangga Official Website

Mengungkap Perilaku Pencarian Pengobatan Gangguan Jiwa Di Indonesia Berdasarkan Sudut Pandang Keluarga Sebagai Caregiver Perawatan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kesehatan jiwa sering kali masih menjadi topik yang sensitif di masyarakat. Banyak orang yang takut, malu, atau bahkan menolak jika keluarganya dikatakan memiliki anggota dengan gangguan jiwa. Akibatnya, banyak pasien tidak segera mendapatkan pertolongan medis yang dibutuhkan. Dalam kondisi seperti ini, peran keluarga sangat besar,mereka menjadi jembatan utama antara pasien dan layanan kesehatan. Namun, bagaimana sebenarnya keluarga mengambil keputusan untuk mencari pengobatan bagi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa? Apakah mereka langsung mencari bantuan medis, atau justru menempuh jalan lain terlebih dahulu?. Itulah pertanyaan yang coba dijawab oleh penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Airlangga, bekerja sama dengan beberapa institusi pendidikan dan dua rumah sakit jiwa pemerintah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penelitian ini melibatkan 301 keluarga yang merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Para peneliti ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang membuat keluarga mau, atau justru enggan, mencari bantuan profesional di bidang kesehatan jiwa.

Penelitian ini memusatkan perhatian pada empat faktor utama: pengetahuan tentang kesehatan jiwa (literasi mental health), motivasi keluarga, stigma sosial, dan hubungan antara pengasuh dan pasien. Dari hasil analisis data, ditemukan bahwa literasi kesehatan jiwa adalah faktor yang paling kuat memengaruhi perilaku keluarga dalam mencari pengobatan. Artinya, semakin tinggi pengetahuan keluarga tentang gangguan jiwa, misalnya tahu gejala, cara pengobatan, dan manfaat terapi medis, maka semakin cepat mereka membawa pasien ke rumah sakit atau layanan profesional. Sebaliknya, keluarga dengan literasi yang rendah sering kali salah menafsirkan gejala gangguan jiwa. Banyak yang menganggap pasien hanya kerasukan, terkena sihir, atau sedang “dihukum” karena dosa. Pandangan seperti ini membuat mereka lebih dulu mencari bantuan ke pengobatan alternatif, dukun, atau pemuka agama. Akibatnya, pasien baru dibawa ke rumah sakit setelah kondisinya semakin parah. Faktor kedua yang berpengaruh besar adalah motivasi. Dalam penelitian ini, motivasi tidak hanya berasal dari keinginan pribadi untuk menolong anggota keluarga, tetapi juga dari dorongan lingkungan sekitar. Keluarga yang memiliki rasa kasih sayang, tanggung jawab moral, atau merasa mendapatkan dukungan dari tenaga kesehatan cenderung lebih gigih mencari pengobatan. Misalnya, ada orang tua yang tetap berusaha membawa anaknya kontrol ke rumah sakit setiap bulan meski jaraknya jauh dan biaya transportasi besar. Mereka percaya bahwa pengobatan medis bisa memberikan harapan kesembuhan. Di sisi lain, keluarga yang motivasinya rendah, karena kelelahan emosional, kurang dukungan, atau merasa tidak ada perubahan, sering kali menyerah di tengah jalan. Faktor ketiga adalah stigma. Banyak keluarga mengaku takut menjadi bahan omongan tetangga atau dijauhi masyarakat karena memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Tidak jarang mereka menyembunyikan pasien di rumah, bahkan membatasi interaksi dengan lingkungan sekitar. Stigma sosial ini membuat mereka ragu untuk datang ke rumah sakit jiwa, karena takut akan penilaian negatif orang lain. Menariknya, sebagian kecil keluarga justru mengaku bahwa stigma menjadi alasan mereka mencari pengobatan. Mereka ingin membuktikan bahwa pasien bisa sembuh, bisa kembali bekerja, dan diterima di masyarakat. Namun, jumlah kelompok ini masih sangat kecil dibanding mereka yang memilih diam karena malu. Faktor terakhir yang juga berpengaruh adalah hubungan antara pengasuh dan pasien. Penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang merawat anak dengan gangguan jiwa memiliki kecenderungan paling besar untuk mencari pengobatan medis. Rasa tanggung jawab dan ikatan emosional yang kuat membuat mereka tidak mudah menyerah. Sementara itu, kerabat lain seperti paman, bibi, atau saudara jauh cenderung lebih pasif, mungkin karena keterlibatan emosionalnya lebih rendah.

Secara keseluruhan, keempat faktor tersebut, literasi, motivasi, stigma, dan hubungan keluarga, menjelaskan sekitar 23 persen variasi perilaku keluarga dalam mencari pengobatan. Angka ini memang tidak besar, tapi cukup penting untuk menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap keluarga memainkan peran nyata dalam perjalanan perawatan pasien gangguan jiwa. Dari hasil ini, para peneliti menekankan pentingnya meningkatkan literasi kesehatan jiwa masyarakat. Banyak keluarga sebenarnya ingin membantu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Edukasi tentang tanda-tanda awal gangguan jiwa, pentingnya pengobatan berkelanjutan, dan cara berkomunikasi dengan pasien bisa menjadi langkah awal yang efektif. Perawat jiwa juga punya peran strategis dalam hal ini. Mereka bisa menjadi sumber informasi dan dukungan emosional bagi keluarga, menjembatani komunikasi antara keluarga dan tenaga medis, serta membantu menepis stigma yang masih kuat di masyarakat. Program seperti edukasi keluarga, kelompok dukungan, dan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan dapat memperkuat kepercayaan diri keluarga dalam menghadapi situasi ini. Selain itu, melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam kampanye literasi kesehatan jiwa juga bisa membantu mengubah pandangan masyarakat yang masih kental dengan nilai-nilai mistis.

Penelitian ini memberikan pesan penting: gangguan jiwa bukan aib, dan mencari pengobatan bukan hal yang memalukan. Keluarga justru menjadi garda terdepan dalam membantu pasien pulih dan beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Dengan meningkatnya pengetahuan, berkurangnya stigma, dan bertambahnya dukungan sosial, masyarakat Indonesia diharapkan semakin terbuka terhadap isu kesehatan jiwa. Perubahan ini tidak hanya membantu pasien, tetapi juga mengurangi beban emosional dan sosial yang selama ini dipikul oleh keluarga. Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa adalah urusan bersama, bukan hanya milik pasien, tetapi juga keluarga, tenaga kesehatan, dan seluruh lapisan masyarakat.