UNAIR NEWS – Sebanyak 20 pemuda Banyuwangi mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Literasi Digital dan Kebijakan Publik yang berlangsung di Tamulang Co-working Space pada Minggu (11/08/2024). Acara ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 16.00, dengan Ketua Acara Putu Aditya Ferdian Ariawantara MKP yang menghadirkan dua pembicara ahli di bidang kebijakan publik dan literasi digital, yaitu Agie Nugroho Soegiono MPP dan Nurul Jamila Hariani MPA.
Acara ini dirancang dengan tujuan untuk membekali pemuda dengan keterampilan literasi digital sekaligus pemahaman yang mendalam tentang kebijakan publik di era digital. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, literasi digital menjadi keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki oleh pemuda, terutama untuk berperan aktif dalam proses perumusan kebijakan publik.
Ketua acara, Putu Aditya, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya literasi digital bagi pemuda di era modern. “Pemuda harus mampu menguasai teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung partisipasi aktif dalam pembangunan, terutama dalam proses kebijakan publik. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi para peserta untuk memahami bagaimana teknologi dapat mendukung dan mempercepat implementasi kebijakan yang lebih baik,” ujar Putu.
Acara berawal dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta tentang literasi digital dan kebijakan publik. Pre-test ini menjadi alat ukur awal sebelum peserta mendapatkan materi dan mengikuti workshop, yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil post-test di akhir acara.
Sesi Pertama: Pemahaman Dasar Literasi Digital
Pembicara pertama, Agie Nugroho Soegiono MPP, membuka sesi dengan membahas pentingnya literasi digital dalam konteks kebijakan publik. Dalam presentasinya, Agie menjelaskan bahwa pemuda di era digital memiliki peran penting dalam mempengaruhi kebijakan. Namun, hal ini hanya bisa dilakukan jika mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang literasi digital.
“Literasi digital tidak hanya tentang bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana informasi digital dapat diakses, digunakan, dievaluasi, dan diproduksi secara etis,” terang Agie. Ia juga menekankan bahwa dengan pemahaman yang baik tentang literasi digital, pemuda dapat memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya sebagai alat untuk menyuarakan pendapat dan berpartisipasi aktif dalam kebijakan publik.
Sesi Kedua: Kebijakan Publik di Era Digital
Sesi kedua diisi oleh Nurul Jamila Hariani MPA, yang menyampaikan materi tentang kebijakan publik di era digital. Nurul menjelaskan bahwa transformasi digital yang terjadi saat ini membuka peluang besar bagi masyarakat, terutama pemuda, untuk terlibat langsung dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan publik.
Menurut Nurul, platform digital seperti e-government dan media sosial memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pembuat kebijakan. “Saat ini, kebijakan publik tidak lagi bersifat top-down. Dengan adanya teknologi digital, proses kebijakan menjadi lebih partisipatif. Pemuda sebagai pengguna teknologi harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyuarakan aspirasi mereka,” jelasnya.
Nurul juga memberikan beberapa contoh kebijakan publik yang berhasil diimplementasikan melalui pemanfaatan teknologi digital, seperti program pelayanan publik berbasis aplikasi di beberapa kota besar di Indonesia. Dengan adanya aplikasi tersebut, masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan layanan dari pemerintah serta memberikan masukan untuk perbaikan layanan.
Workshop Pembuatan Konten Digital
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan workshop pembuatan konten digital. Workshop ini dirancang untuk memberi peserta keterampilan praktis dalam menghasilkan konten yang informatif dan bermanfaat seputar kebijakan publik. Peserta diajarkan bagaimana cara membuat video edukatif dan konten media sosial yang menarik untuk menyampaikan isu-isu kebijakan publik kepada audiens yang lebih luas.
Peserta dibimbing untuk menggunakan berbagai aplikasi yang mudah diakses, seperti Canva untuk desain visual dan aplikasi pengeditan video sederhana untuk membuat konten yang relevan dengan isu-isu kebijakan publik di Banyuwangi. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan workshop, terutama saat diberikan kesempatan untuk mencoba langsung membuat konten mereka sendiri.
Selama workshop, para pembicara memberikan panduan dan tips untuk membuat konten yang tidak hanya menarik dari segi visual tetapi juga memiliki dampak dalam menyampaikan pesan kebijakan publik. “Konten yang baik adalah konten yang bisa menyampaikan pesan dengan jelas dan mempengaruhi orang untuk peduli terhadap isu-isu yang diangkat,” kata Nurul kepada peserta.
Post-Test dan Penutupan
Sebelum acara berakhir, peserta kembali mengisi post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman mereka setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil dari pre-test dan post-test ini akan dijadikan evaluasi untuk mengetahui efektivitas materi yang telah diberikan. Putu Aditya dalam sesi penutupan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh peserta dan pembicara atas partisipasi aktif mereka dalam acara ini.
“Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta dapat memanfaatkan literasi digital untuk mendukung kebijakan publik yang lebih baik di Banyuwangi. Kalian adalah agen perubahan, dan dengan kemampuan literasi digital yang telah kalian pelajari, kami yakin kalian dapat berkontribusi lebih banyak lagi,” kata Putu menutup acara.
Dengan berakhirnya acara ini, diharapkan para pemuda Banyuwangi dapat terus mengembangkan keterampilan mereka dalam literasi digital dan semakin aktif dalam berpartisipasi di bidang kebijakan publik, baik di tingkat lokal maupun nasional. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang positif dalam membangun generasi muda yang paham teknologi dan kebijakan.
Penulis: Tim Pengmas





