Fenomena peningkatan kasus diabetes mellitus (DM) pada usia muda di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Salah satu faktor risiko yang berkontribusi besar adalah meningkatnya konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, terutama yang bercita rasa manis. Hasil Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 61,3% masyarakat mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari. Bahkan dikatakan bahwa 1 dari 3 remaja memiliki rata – rata konsumsi minuman manis 1 – 6 kali seminggu, jauh melebihi rekomendasi konsumsi gula yaitu <50 g per hari. Secara biologis, remaja memiliki sensitivitas rasa manis yang lebih rendah namun preferensi rasa manis yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa, sehingga menjadikan mereka lebih berisiko terhadap konsumsi gula berlebih.
Ambang rasa manis mencerminkan kemampuan individu untuk mendeteksi rasa manis pada konsentrasi tertentu. Tingginya ambang rasa manis menunjukkan penurunan sensitivitas terhadap rasa manis, yang dapat memicu peningkatan konsumsi gula. Konsumsi gula berlebih dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fungsi organ tubuh, termasuk peningkatan kadar glukosa darah puasa (GDP). Hal ini menyoroti pentingnya analisis ambang rasa manis dan GDP pada remaja untuk memahami hubungan sensitivitas rasa dengan risiko konsumsi gula berlebih.
Melihat hal ini, tim peneliti dari Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, melakukan studi observasional pada 97 remaja berusia 11–19 tahun di Surabaya. Pengumpulan data dilakukan mulai dari Bulan Mei hingga Agustus 2022 di Surabaya. Penelitian ini melibatkan pengukuran ambang rasa manis menggunakan larutan sukrosa dengan konsentrasi bertingkat yaitu 400g/L, 224,8g/L, 126,2g/L, 71g/L, 39,8g/L, 22,4g/L, 12,6g/L, dan 7,1g/L dengan metode three-alternative forced-choice (3-AFC) dengan cara strip test. Setiap larutan diaplikasikan ke lidah menggunakan cotton bud, dimulai dari konsentrasi terendah hingga tertinggi. Responden diberi waktu untuk mengidentifikasi sampel, dengan berkumur menggunakan air di antara pengujian. GDP diukur menggunakan glukometer setelah remaja menjalani puasa selama 10 jam. Hasil GDP dikategorikan normal jika <100 mg/dL dan tinggi jika ≥100 mg/dL. Data antropometri, seperti berat badan, tinggi badan, dan indeks massa tubuh (IMT), juga dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki ambang rasa manis yang normal. Namun, sebanyak 10 responden tercatat memiliki GDP ≥100 mg/dL. Analisis lebih lanjut tidak menemukan hubungan signifikan antara ambang rasa manis dengan GDP. Meskipun demikian, penelitian terdahulu menemukan bahwa sensitivitas dan preferensi rasa remaja memainkan peran penting dalam pola makan mereka. Oleh karena itu, mengelola ambang rasa manis melalui penyediaan makanan sehat dapat menjadi strategi efektif untuk mencegah diabetes pada remaja. Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya memperluas kajian pada faktor-faktor seperti pola konsumsi gula dan karbohidrat, status gizi, tingkat stres, preferensi makanan, dan pengaruh sosial budaya yang dapat memengaruhi risiko DM. Selain itu, penggunaan pemeriksaan darah kapiler serta populasi yang homogen menjadi keterbatasan penelitian, sehingga membatasi generalisasi hasil ke populasi remaja secara umum.
Tingginya kadar GDP yang ditemukan pada remaja menunjukkan pentingnya edukasi dini terkait deteksi ambang rasa, konsumsi gula, dan pengenalan makanan rendah gula. Intervensi berbasis sekolah yang melibatkan pembatasan konsumsi gula serta promosi pola makan sehat dapat menjadi langkah strategis. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pendidik, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan makan sehat pada remaja sangat diperlukan. Selain itu, kebijakan kesehatan yang mengatur konsumsi gula pada anak dan remaja juga perlu dikembangkan untuk menekan prevalensi DM di masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi kebijakan kesehatan dan edukasi yang lebih baik untuk mencegah DM pada generasi muda di Indonesia.
Penulis: Afifah Nurma Sari, S.Gz dan Farapti, dr., M.Gizi
Informasi lebih lengkap dari penelitian dapat diakses pada:
Rosalinda, S., Farapti, F., Sari, A. N., & Shanthi, D. (2024). Sweet Threshold and Fasting Blood Glucose Levels in Adolescents at Surabaya Indonesia: Ambang Rasa Manis dan Kadar Glukosa Darah Puasa Pada Remaja di Surabaya Indonesia. Amerta Nutrition, 8(4), 625–631. https://doi.org/10.20473/amnt.v8i4.2024.625-631
Baca juga: Problematika Peggunakan Aplikasi Kepatuhan Minum Obat oleh Pasien Diabetes Mellitus





