UNAIR NEWS –Belajar di negeri orang memang menjadi pengalaman yang berharga. Namun dibutuhkan persiapan yang matang bagi tiap pelajar yang akan mengikuti study abroad dan program pendek di luar negeri. Tak terkecuali dengan mahasiswa UNAIR, bagi mereka yang akan mengikuti program perkuliahan di luar negeri akan dipersiapkan untuk menjadi UNAIR SATRIA (UNAIR Student Ambassador for International Program).
Hingga saat ini, tercatat kurang lebih 148 mahasiswa akan mengikuti program kegiatan internasional. Seluruh mahasiswa tersebut akan mendapatkan pembekalan menjadi UNAIR SATRIA. Kali ini, Selasa (27/12), kurang lebih 15 mahasiswa mengikuti pembekalan UNAIR SATRIA, di Ruang Sidang B Kantor Manajemen Kampus C UNAIR. 15 mahasiswa tersebut mengikuti program internasional ke berbagai negara, mulai dari Ceko, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea, hingga Amerika.
Melalui UNAIR SATRIA, mahasiswa UNAIR yang mengikuti kegiatan internasional, utamanya study abroad dan program pendek di luar negeri akan lebih siap dan dapat menjadi ‘ambassador’ dari UNAIR selama program berjalan.
“Ini (UNAIR SATRIA, red) merupakan program UNAIR, untuk pendampingan mahasiswa ke luar negeri. Program ini melalui IOP (Internasional of Partnership, red), karena kita yang punya channel kepada para partner kita yang menawarkan program study exchange,” jelas Administrator Outbond Mobility IOP Astria Okta Herdiani.
Dalam pembekalan tersebut, Astria memberikan pendampingan terkait persiapan mahasiswa yang akan berangkat ke luar negeri. Ia juga menunjukkan berbagai kendala yang akan dihadapi, dari pengalaman para mahasiswa yang sudah pernah study exchange sebelumnya.
“Yang paling essensial itu isu kesehatan. Di Indonesia kesehatannya normal, namun sampai sana ternyata ada masalah. Kan suasananya juga berbeda dari negara kita,” jelasnya.
Selain isu kesehatan, Astria mengungkapkan bahwa mahasiswa study abroad juga sering kesulitan dengan akademiknya. “Seperti dulu itu ada mahasiswa studi di Korea yang kelasnya bentrok. Dia mau ikut kelas A, tapi sama dosennya kelas B gak bisa dilobi, mungkin terkendala komunikasi. Jadi kita bantu mereka dengan cara menghubungi unit mereka, sampai mahasiswa ini bisa mengikuti mata kuliah yang diminati,” ceritanya.
“Selain itu, juga ada masalah studi, karena tiap universitas punya sistemnya masing-masing. Ada mahasiswa yang study exchange ke Jepang dan mengambil 20 sks, ternyata itu tugasnya sudah banyak sekali, jadi dia susah kalau mau ikut UKM-nya di sana. Kalau di Indonesia biasanya mampu mengambil 24 sks, tapi di sana beda,” imbuhnya.
Pembekalan dilakukan tidak hanya sebelum keberangkatan saja, namun juga pendampingan ketika program berlangsung hingga sepulang dari luar negeri. “Setelah pulang, kita nanti minta testimoni mereka, itu kita posting di media sosial atau buat mahasiswa yang mengikuti program exchange ke depannya. Jadi kita mendampingi baik pre, during maupun after studinya,” pungkas Astria.(*)
Penulis : Dilan Salsabila
Editor : Nuri Hermawan





