UNAIR NEWS – Allah menurunkan Alqur’an itu untuk memberikan pedoman, aturan, dan petunjuk kepada manusia tentang segala hal dalam hidup dan mengelola dunia ini, sehingga manusia tinggal menyesuaikan aturan itu dalam bidang pekerjaan masing-masing. Dalam petunjuk-NYA sudah pula disebutkan tanggungjwab kita, yaitu bukan hanya kepada pribadi tetapi juga kepada Sang Pemberi Amanah.
”Sebagai manusia, untuk itu mari kita berusaha menjadi khalifah terbaik di hadapan Allah,” demikian diserukan Ustadz Rifhan Halili dalam ceramahnya pada pengajian bulanan Universitas Airlangga yang dilaksanakan di Ruang Exellence With Morality Fakultas Psikologi, kampus B UNAIR, Rabu (22/3). Dalam tausiah bertema “Strategi Meningkatkan Kualitas Kerja dan Kualitas Hidup dengan Berpedoman pada Alqur’an dan Hadits” ini dihadiri 258 sivitas akademika UNAIR.
Karena Allah sudah memberikan pedoman, aturan, dan petunjuk hidup, maka Allah pula mengawasi umat yang telah diberi amanah tersebut. Ini cara Allah agar bagaimana manusia menjalankan petunjuk-NYA. Untuk itu, kata Ustadz Rifhan, Allah mengawasi manusia melalui empat lapisan.
Lapisan pertama, Allah mengawasi secara langsung. Lapisan kedua, Allah mengawasi dengan mengutus malaikat-malaikat-NYA. Lapis ketiga, Allah mengawasi dengan mengirim semua yang terlihat kepada kita (manusia). Wujud nyata itu adalah semua anggota tubuh kita, seperti yang termaktub dalam Surat Yasin ayat 65: “Al yauma nahtimu `alaa afwaahihim wa tukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun” bahwa “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”
”Jadi semua anggota tubuh kita nanti itu akan bersaksi kepada Allah. Sekarang ini anggota tubuh kita masih merekam segala yang kita lakukan,” lanjut Ustadz Rifhan.
Lapisan yang keempat, Allah mengawasi dengan menyediakan sesuatu yang tampak jelas di depan kita: yaitu alam semesta. Sehingga kelak di hari pertimbangan, lingkungan di sekitar kita, tanah yang kita pijak, air yang kita pakai, tanaman di sekitar kita, semua memberi kesaksian tentang kita kepada Allah. Ini sesuai Firman Allah dalam Surat Az Zalzalah.
Kerja Sebagai Ibadah
Dalam kaitan dengan tema yang dikedepankan, Ustadz Rifhan mengajak kita untuk senantiasa mampu menggerakkan tubuh ini sebagai gerakan ibadah, termasuk ketika digunakan untuk bekerja menjalankan pekerjaan masing-masing. Baik itu dalam ibadah mahdhah (karena Allah dengan syariatnya) maupun ibadah ghairu mahdhah yaitu segala amalan yang diizinkan oleh Allah, misalnya belajar mencari ilmu, berdzikir, bekerja, tolong-menolong, dan berbuat baik lainnya.
”Berangkat bekerja, ke kantor, sebaiknya diniatkan untuk ibadah, karena melaksanakan pekerjaan dan berguna bagi orang lain serta mencari nafkah. Yang berdagang hendaknya juga tidak curang. Jadi mulai kita bangun tidur, melaksanakan aktivitas, akan makan, akan masuk kamar mandi, sampai kembali akan tidur lagi, pun ada doa-doa yang sudah diberikan,” katanya.
Dengan semua gerak kita niatkan sebagai ibadah kepada Allah, maka hendaknya kita juga bisa memberikan yang terbaik. Kata Allah, manusia merupakan mahkluk yang terbaik di muka bumi, sehingga sudah seharusnya kepada Sang Pencipta kita juga memberikan yang terbaik.
”Itulah sebabnya, untuk menggapai sukses di akherat kelak, maka syaratnya harus sukses terlebih dahulu saat masih di dunia. Ibadahnya seperti apa, perilaku dan tabiatnya bagaimana, jadi sukses sebagai yang terbaik,” kata Ustadz Rifhan Halili. (*)





