UNAIR NEWS – Upaya penanganan dan pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terus dilakukan. Kali ini, sosialisasi diberikan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama Pemerintah Kabupaten Gresik kepada peternak, Selasa (17/5/2022).
Ketua Satgas Penanganan PMK FKH UNAIR, Prof Dr drh Fedik Abdul Rantam di awal penyampaian materi menyebut PMK atau dikenal sebagai Foot and Mouth Disease merupakan jenis penyakit yang disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Aphthovirus yakni Aphtae epizooticae.
Masa inkubasi dari penyakit ini adalah 1-14 hari dari sejak hewan tertular hingga timbul gejala penyakit. Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan. “Di air yang tergenang hingga 50 hari, rumput 74 hari, tanah 26 sampai 200 hari, feses kering 48 hari, feses basah 8 hari, cairan feses (manur) 34 sampai 43 hari, limfonodus, sumsum tulang, tetesan darah, jeroan bisa bertahan beberapa bulan,” ujar guru besar FKH UNAIR itu.
Penyebaran dan Penularan virus
Prof Fedik menjelaskan virus PMK dapat menyebar melalui wol, rambut, rumput atau Jerami. Selain itu, tambahnya, virus juga bisa menyebar secara aerosol atau melalui udara.
“Lumpur atau kotoran yang menempel pada alas kaki, pakaian, peralatan tembak atau ban kendaraan juga dapat menjadi sumber penularan virus,” jelas Prof Fedik.
Lebih lanjut, kontak langsung melalui susu, semen, air terkontaminasi, kendaraan, jarum suntik tenaga medis juga termasuk sumber penularan yang cepat.
Gejala Klinis
Peternak perlu tanggap dalam melihat kondisi ternaknya. Beberapa gejala klinis PMK yaitu demam tinggi bisa mencapai 410C selama 2-3 hari. Pada pemeriksaan fisik terjadi pembengkakan limfoglandula mandibularis, dan hipersalivasi atau air liur berlebihan.
“Kemudian adanya lepuh dan erosi sekitar mulut, moncong, hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku dan puting melepuh berisi cairan di antara jari kaki dan tumit, kelenjar susu dan terutama pada bibir, lidah, dan langit-langit mulut,” papar Prof Fedik.
Vesikel ini, sambungnya, sering muncul berkelompok membentuk lepuhan besar dan bengkak yang meletus dan meninggalkan bisul. Tidak mau makan, depresi, abortus, produksi susu menurun, lumpuh.
“Jika peternak menemukan gejala-gejala itu, sesegera mungkin melaporkan kepada petugas Kesehatan hewan atau dokter hewan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Suryadiningrat
Editor: Nuri Hermawan





