Universitas Airlangga Official Website

Metode Identifikasi Jenis Kelamin dengan Sinus Maksilar pada Radiografi Cephalometric Lateral

Identifikasi jenis kelamin merupakan aspek penting dalam ilmu forensik, antropologi, dan arkeologi, yang melibatkan penilaian serangkaian fitur dan karakteristik fisik untuk mengidentifikasi individu. Ilmu kedokteran gigi forensik merupakan salah satu bidang yang dapat mendukung proses penyelidikan kasus criminal dan identifikasi korban bencana massal melalui pemeriksaan gigi. Dalam identifikasi manusia, penentuan jenis kelamin penting, dengan tulang seperti panggul dan tengkorak terbukti menjadi sumber informasi berharga dalam kasus di mana tubuh mengalami skeletisasi atau terbakar.

Beberapa indeks pengukuran pada tubuh manusia dapat diperiksa untuk penentuan jenis kelamin, termasuk lingkar tengkorak, tulang mandibula, bentuk dan tinggi palatum, proses mastoid, ukuran gigi, pulpa gigi, dan sinus (misalnya, sinus frontal dan maksilar). Sebuah penelitian terkini yang dilakukan oleh Departemen Odontologi Forensik FKG Universitas Airlangga di Surabaya telah menghasilkan temuan menarik terkait identifikasi jenis kelamin menggunakan sinus maksilar. Penelitian ini membuka potensi baru dalam bidang forensik, antropologi, dan arkeologi.

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan berbagai indeks, termasuk ukuran tengkorak, tulang rahang, bentuk dan tinggi palatum, proses mastoid, ukuran gigi, pulp gigi, dan sinus (seperti sinus frontal dan maksilar). Sinus maksilar, yang merupakan sinus paranasal paling mencolok, menjadi fokus utama penelitian ini.

Radiografi sinus maksilar terbukti menjadi alat yang berharga dalam antropologi forensik. Meskipun terdapat berbagai teknologi seperti CT dan CBCT, lateral cephalogram tetap dianggap tinggi karena memberikan informasi arsitektural dan morfologis rinci tentang tengkorak dengan biaya yang efektif. Metode baru yang diperkenalkan oleh Khaitan et al. (2017) menggunakan Indeks Sinus Maksilar (MSI) dari lateral cephalometric radiographs, menunjukkan potensi dalam menentukan jenis kelamin.

Studi ini dilakukan pada populasi dewasa di Surabaya dengan melibatkan 130 subjek. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara tinggi dan lebar sinus maksilar pada pria dan wanita. Ditemukan bahwa tinggi sinus maksilar pada pria secara signifikan lebih besar dibandingkan wanita. Studi ini membuka peluang untuk pengembangan metode identifikasi jenis kelamin yang lebih akurat, terutama dalam situasi di mana tubuh mengalami pembusukan atau terbakar.

Walau demikian, penelitian ini memiliki batasan, termasuk ukuran sampel yang relatif kecil. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan melibatkan populasi yang lebih luas dan beragam. Selain itu, pengukuran sinus maksilar pada lateral cephalograms memiliki keterbatasan terkait pandangan dua dimensi yang dapat menghasilkan pengukuran yang tidak akurat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut dalam identifikasi jenis kelamin, khususnya dalam konteks forensik dan antropologi. Temuan ini membawa dampak positif dalam mengoptimalkan teknologi radiografi untuk mendukung investigasi kriminal dan studi antropologi di masa depan.

Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Diambil dari artikel jurnal berjudul: Cephalometric radiograph-based approach for sex determination using maxillary sinus index in Surabaya, Indonesia  Artikel dapat diakses pada tautan berikut: https://doi.org/10.52083/DHPM3206