Dalam melakukan uji klinis invasif, penggunaan hewan percobaan kecil di laboratorium seperti tikus sangat penting untuk mencapai tujuan tersebut. Intubasi endotrakeal pada tikus cukup sulit dilakukan karena ukuran dan struktur saluran napas sangat kecil dan halus serta belum ada instrumen khusus yang dirancang untuk intubasi pada tikus. Di ddalam makalah, para peneliti menjelaskan teknik yang dapat digunakan untuk melakukan intubasi endotrakeal pada tikus.
Tindakan percobaan dan protokol telah disetujui oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya. Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus wistar jantan dewasa dengan berat badan 250-350 gram. Semua tikus yang digunakan dalam penelitian ini adalah subjek penelitian lain mengenai hipotermia pada tikus yang dianestesi. Peralatan intubasi yang digunakan adalah otoskopi yang tersedia secara komersial yang memiliki sumber cahaya dan kamera yang dapat ditampilkan pada layar ponsel. Sumber tenaga pada otoskopi ini diperoleh dari telepon genggam yang juga berfungsi sebagai layar untuk menampilkan gambar. Sebagai alat untuk membuka lidah, digunakan kapas untuk menggulung lidah tikus ke arah luar.
Prosedur intubasi diawali dengan pemberian anestesi pada tikus menggunakan Ketamine (50 mg/kg berat badan) dan Xylazine (5 mg/kg berat badan) melalui injeksi intramuskular ke otot paha. Setelah tikus dibius dan lemas, elektroda monitor EKG dipasang di dada dan paha, serta saturasi oksigen perifer di bagian ekor. Sebagai fiksasi, gigi seri atas tikus diberi perlakuan menggunakan karet pada dasar intubasi. Operator intubasi membuka mulut tikus dengan tangan kanannya dan menjulurkan lidahnya menggunakan kapas. Pita suara dibasahi dengan anestesi lokal lidokain 2% menggunakan ujung kapas. Setelah pita suara dibius karena takut pita suara terbuka, tabung endotrakeal dimasukkan menggunakan konveyor. Penempatan selang yang benar dipastikan dengan auskultasi menggunakan stetoskop neonatal dan pergerakan dada tikus simetris dan berirama. Tabung endotrakeal dipasang di mulut tikus dengan menggunakan karet gelang. Penelitian ini menggunakan ventilator hewan kecil sebagai sumber oksigenasi dan ventilasi. Anestesi gas diberikan menggunakan alat penguap isofluran.
Dalam penelitian ini, 32 ekor tikus diintubasi. Prosedur intubasi dapat dilakukan dengan sederhana dan cepat. Perlu latihan dan pembiasaan, dua orang dokter anestesi yang melakukan prosedur intubasi memerlukan 2-3 kali percobaan pada tikus sebelum mencapai kemampuan mengintubasi tikus dengan lancar. Delapan belas tikus lainnya tidak diekstubasi hidup-hidup karena ini adalah bagian dari pengobatan pada penelitian lain.
Dalam penelitian ini, penulis memaparkan penggunaan peralatan intubasi pada tikus yang dapat dengan mudah diperoleh dan dimodifikasi. Dengan menggunakan teknik ini, umumnya prosedur intubasi dapat dilakukan oleh satu operator, terkadang memerlukan bantuan satu asisten untuk memperbaiki lidah atau bantuan untuk mendapatkan instrumen.
Teknik yang digunakan dalam penelitian kami telah dijelaskan sebelumnya pada penelitian Clary pada tahun 2003. Clary menggunakan teknik yang mirip dengan intubasi pada manusia dimana operatornya tidak kidal, ruang lingkup dioperasikan menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menggunakan cotton buds. dan memasukkan tabung endotrakeal yang sebelumnya dipasang pada stylet.
Komplikasi yang penulis temukan pada penelitian ini adalah spasme dan bradikardia. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi terjadinya komplikasi adalah kemampuan operator yang belum terasah dengan baik sehingga membuat upaya intubasi harus dilakukan beberapa kali dan anestesi yang terlalu dangkal sehingga menyebabkan kejang pada saluran napas tikus. Cedera pada tingkat mikroskopis setelah intubasi oral pada tikus dijelaskan oleh Jahshan pada tahun 2018 yang menemukan bahwa kerusakan epitel dan silia pada saluran napas ditemukan pada semua tikus. yang diintubasi terutama dengan penggunaan ETT selama lebih dari 6 jam. Latar belakang operatornya adalah seorang ahli anestesi yang terbiasa melakukan intubasi pada manusia, dimana terdapat kesamaan struktur pada saluran nafas manusia dan tikus sehingga memudahkan learning curve. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Intubasi pada tikus yang dijelaskan dalam penelitian ini menggunakan peralatan yang murah dan mudah diperoleh, mudah dipelajari serta memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-TI., Subsp. TI (K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2023-16-10-62
Airlangga PS, Rehatta NM, Soetjipto, Rahardjo E, Widjiati, Wiguna Y. Simple Method Laryngoscope on Rat Intubation. Res J Pharm Technol. 2023;16(10):4886–90.





