Universitas Airlangga Official Website

Mikroperdarahan Otak pada Alzheimer: Peran CAA dan Obat Pengencer Darah

Ilustrasi Alzheimer (Sumber: RS Pondok Indah)
Ilustrasi Alzheimer (Sumber: RS Pondok Indah)

Penyakit Alzheimer tidak hanya ditandai dengan penurunan daya ingat dan fungsi kognitif. Pada perjalanannya, penyakit ini juga dapat menyebabkan komplikasi yang melibatkan pembuluh darah otak, salah satunya adalah terjadinya perdarahan kecil atau yang dikenal sebagai mikroperdarahan serebral. Kasus pada seorang perempuan berusia 80 tahun dengan Alzheimer dan trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT) mengungkap bagaimana interaksi antara patologi Alzheimer, kondisi pembuluh darah otak, dan pengobatan pengencer darah dapat berkontribusi terhadap munculnya perdarahan mikroskopis ini.

Mikroperdarahan serebral adalah area perdarahan sangat kecil di jaringan otak, biasanya berdiameter hanya beberapa milimeter. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala yang langsung terasa, tetapi dapat dideteksi melalui pencitraan resonansi magnetik (MRI) otak. Meski kecil, keberadaan mikroperdarahan ini penting karena dapat menjadi penanda adanya masalah vaskular (pembuluh darah) di otak dan dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan otak yang lebih besar serta penurunan kognitif di kemudian hari. Faktor risikonya meliputi usia lanjut, hipertensi, diabetes, dan penyakit pembuluh darah kecil otak.

Salah satu mekanisme kunci yang menghubungkan Alzheimer dengan mikroperdarahan adalah kondisi yang disebut Cerebral Amyloid Angiopathy (CAA). Pada Alzheimer, terjadi akumulasi protein beta-amiloid (Aβ) tidak hanya sebagai plak di jaringan otak, tetapi juga di dinding pembuluh darah kecil dan menengah di otak serta selaput otak. Penumpukan protein ini membuat dinding pembuluh darah menjadi rapuh, rentan pecah, dan dapat menyumbat aliran darah.

Proses ini diperparah karena Aβ dapat berikatan dengan fibrin (protein pembekuan darah), membentuk gumpalan fibrin-Aβ yang sulit diurai. Gumpalan ini menyumbat mikrosirkulasi otak, mengurangi aliran darah dan suplai oksigen (hipoperfusi), serta mengganggu proses pembersihan Aβ dari otak. Akibatnya, Aβ semakin menumpuk, memicu peradangan saraf, disfungsi sinaps, dan kematian sel saraf. Kondisi inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan infark mikro (stroke kecil) dan mikroperdarahan di otak.

Pasien Alzheimer lanjut usia sering mengalami keterbatasan mobilitas akibat gangguan motorik atau kondisi penyerta seperti osteoartritis. Imobilisasi yang berkepanjangan merupakan faktor risiko utama untuk DVT, yaitu terbentuknya gumpalan darah di pembuluh vena dalam, biasanya di kaki. Untuk mencegah gumpalan meluas atau terbentuknya gumpalan baru, pasien DVT memerlukan terapi antikoagulan (obat pengencer darah).

Saat ini, Direct Oral Anticoagulants (DOACs) seperti penghambat faktor Xa (contoh: rivaroxaban) banyak digunakan karena kepraktisannya. Namun, obat-obat ini terutama dieliminasi melalui ginjal. Pada pasien lanjut usia dengan penurunan fungsi ginjal, seperti yang terlihat pada kasus ini (laju filtrasi glomerulus/eGFR 36 mL/menit/1.73m²), dapat terjadi penumpukan obat dalam darah. Kadar obat yang berlebihan ini meningkatkan risiko perdarahan, termasuk mikroperdarahan di otak.

Kasus ini menyoroti pentingnya pendekatan yang komprehensif dan individual dalam menangani pasien Alzheimer dengan komorbiditas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) Pemantauan ketat fungsi ginjal pada pasien lanjut usia yang menerima DOACs. Penyesuaian dosis mungkin diperlukan sesuai dengan laju filtrasi glomerulus, (2) Pertimbangan risiko-manfaat pemberian antikoagulan pada pasien Alzheimer dengan tanda-tanda CAA atau mikroperdarahan yang telah terdeteksi sebelumnya, (3) Upaya mempertahankan mobilitas sebanyak mungkin untuk mencegah DVT, sekaligus mengelola faktor risiko vaskular lain seperti tekanan darah dan gula darah.

Mikroperdarahan otak pada Alzheimer merupakan fenomena kompleks di mana proses degeneratif saraf, kelainan pembuluh darah, dan intervensi pengobatan saling berpotongan. Pemahaman yang mendalam tentang interaksi ini sangat penting untuk mengoptimalkan terapi, meminimalkan risiko, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penulis: Prof. Dr. Jusak Nugraha, dr, MS., Sp.PK, Subsp. P.I. (K), Subsp. I.K. (K), Subsp. N.R. (K)

Artikel ini bisa di akses pada link: https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/2388