Universitas Airlangga Official Website

Mikroplastik dalam Kerang Hijau dan Bahaya Terkait Kesehatan Manusia

Foto by KlikDokter

Pembuangan limbah dan sampah, terutama bahan plastik, ke lingkungan menghasilkan akumulasi akhirnya di perairan pesisir dan samudera. Plastik akhirnya terurai menjadi potongan-potongan kecil yang dikenal sebagai mikroplastik (MP) (partikel berdiameter kurang dari 5 mm), yang telah menjadi komponen utama sampah plastik laut. MP telah terdeteksi di hampir semua ekosistem laut di seluruh dunia, termasuk lautan terbuka, wilayah pesisir, dan muara. Prevalensi MP yang meluas menjadikan mereka berpotensi bahaya terhadap lingkungan, karena mudah diakses dan dikonsumsi oleh sebagian besar organisme laut, termasuk bivalvia seperti kerang. MP yang dikonsumsi berpotensi mengandung zat berbahaya, termasuk polutan organik dan logam, yang dapat terbioakumulasi dalam rantai makanan dan mengancam kesehatan manusia.

Indonesia merupakan penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah China. Data Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia (2023) menunjukkan bahwa sekitar 4,8 juta ton, atau 70% dari seluruh sampah plastik di Indonesia, tidak dikelola, dan diperkirakan 0,62 juta ton, atau 9% dari sampah plastik yang tidak dikelola ini, dibuang ke Indonesia. perairan dan lautan. Volume keseluruhan sampah plastik yang terapung adalah 7.400 hingga 10.304 butir/km2. Tingginya volume sampah plastik di perairan Indonesia berpotensi mencemari laut, karena sampah plastik dapat terurai menjadi MP.

Teluk Jakarta yang terletak di sebelah utara ibu kota Indonesia, Jakarta, merupakan muara dari tiga belas sungai yang mengalir melalui daerah padat penduduk dan industri di hulu. Masyarakat khususnya nelayan memanfaatkan Teluk Jakarta untuk kegiatan perikanan tangkap dan budidaya laut. Sampah plastik di teluk Jakarta mayoritas berasal dari sungai yang bermuara ke muara lalu ke laut. MP telah teridentifikasi pada berbagai biota laut, antara lain kepiting (Callinectes sapidus) di Teluk Corpus Christi, Texas; bulu babi (Diadema setosum) di perairan Makassar; dan banyak hewan laut.

Berbagai faktor berkontribusi pada fragmentasi yang mengarah pada produksi MP. Salah satu faktornya, seperti melemahnya ikatan polimer pada plastik, mengakibatkan terjadinya fragmentasi plastik menjadi partikel berukuran mulai dari 100 nanometer hingga 5 milimeter. Ini memungkinkan MP untuk dimakan oleh organisme laut. Selain itu, radiasi ultraviolet (UV), abrasi mekanis, dan degradasi mikrobiologis dapat menyebabkan plastik terurai.

MP memberikan dampak negatif terhadap berbagai aspek, termasuk lingkungan dan manusia. MP dapat mengurangi populasi dan laju fotosintesis mikroalga di lingkungan, menjadi pengangkut zat beracun, menjadi berbahaya karena zat kimia terkait yang dapat terdegradasi dari plastik, dan menyediakan tempat berkembang biak bagi mikroorganisme patogen seperti Vibrio. Dengan demikian, MP dapat membahayakan kesehatan manusia melalui bioakumulasi, terutama ketika manusia mengkonsumsi biota laut (makanan laut) yang mengandung MP.

Kerang hijau (Perna viridis) adalah pemakan filter yang termasuk dalam filum Mollusca, kelas Bivalvia. Fitur ini memiliki kemampuan untuk mengakumulasi partikel dan bahan organik dan anorganik, termasuk bakteri, racun, logam berat, dan MP. Kemampuan kerang hijau dalam mengakumulasi berbagai jenis polutan memungkinkannya menjadi bioindikator pencemaran lingkungan di laut. Banyak kerang termasuk kerang hijau yang dikonsumsi sebagai makanan laut oleh manusia. Oleh karena itu, asupan kerang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia akibat bioakumulasi senyawa berbahaya dalam suatu organisme.

Kerang hijau memiliki nilai ekonomi yang tinggi, cukup populer di Indonesia, dan merupakan makanan laut yang paling banyak dikonsumsi ketiga. Budidaya kerang hijau tersebar luas di berbagai lokasi, termasuk di Teluk Jakarta. Mengingat Teluk Jakarta merupakan muara dari banyak sungai, besar kemungkinan akan mengangkut MP sehingga dapat terakumulasi menjadi kerang hijau. Hal ini membuat penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui jumlah dan jenis MP yang ditemukan pada kerang hijau (P. viridis) di Teluk Jakarta, khususnya di wilayah Kamal Muara dimana nelayan setempat membudidayakan kerang hijau. Selain itu, dengan mengandalkan MP yang ditemukan di seluruh jaringan kerang hijau, kami mengevaluasi risiko kesehatan manusia yang terkait dengan konsumsi kerang hijau.

MP diidentifikasi di semua 120 kerang hijau, dengan serat > film > fragmen menjadi jenis yang paling umum. Kelimpahan serat adalah 19 item/g jaringan, sedangkan kelimpahan fragmen dan film berturut-turut adalah 14,5 item/g dan 15 item/g. Uji spektroskopi inframerah transformasi Fourier pada MP dari jaringan kerang hijau menunjukkan bahwa terdapat 12 jenis polimer MP yang berbeda. Perkiraan jumlah MP yang dikonsumsi manusia setiap tahun bervariasi dari 29.120 item MP/tahun hingga 218.400 item MP/tahun untuk berbagai kelompok umur. Berdasarkan jumlah rata-rata total MP yang ditemukan dalam jaringan kerang hijau dan jumlah kerang yang dikonsumsi per orang di Indonesia, diperkirakan orang mengonsumsi 775.180 MP melalui kerang setiap tahun.

Ditulis oleh: Agoes Soegianto

Paper telah dimuat dalam jurnal: Environmental Monitoring and Assessment (2023) 195:884 (Penerbit Springer-Nature)

Link: https://doi.org/10.1007/s10661-023-11535-9