Universitas Airlangga Official Website

Mitigasi Perubahan Iklim, Dosen FKM UNAIR Ungkap Peran Bank Sampah Digital

Potret sesi penyampaian materi dalam kuliah tamu oleh Dr R Azizah SH M Kes. (Foto: Nafiesa Zahra)
Potret sesi penyampaian materi dalam kuliah tamu oleh Dr R Azizah SH M Kes. (Foto: Nafiesa Zahra)

UNAIR NEWSDepartemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Melalui kegiatan kuliah tamu bertajuk Waste to Wealth pada Sabtu (25/10/2025), FKM UNAIR menghadirkan kolaborasi lintas negara bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan World University Association for Community Development (WUACD). Hal itu juga memperkuat kontribusi UNAIR dalam mendukung SDGs 13 dan SDGs 17.

Kuliah tamu itu berlangsung secara hybrid di Bank Sampah Patuh Muamalat, Desa Larangan, Kabupaten Sidoarjo yang dihadiri oleh para akademisi, mahasiswa, serta penggiat lingkungan. Dosen FKM UNAIR, Dr R Azizah SH M Kes menyampaikan menuturkan bahwa FKM UNAIR telah melakukan pendampingan selama enam tahun di Bank Sampah Patuh Muamalat. Program itu menjadi bentuk nyata sinergi antara riset akademik dan pemberdayaan masyarakat.

“Salah satu hasil riset mahasiswa kami adalah alat pencacah sampah organik yang membantu warga mencacah sampah dari rumah tangga. Hasil cacahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam komposter untuk diolah menjadi pupuk,” jelasnya.

Peralatan tersebut, lanjutnya, berasal dari hasil penelitian mahasiswa S1 dan S2 yang didonasikan langsung untuk masyarakat. Upaya itu menjadi bukti konkret inovasi akademik UNAIR dapat diterjemahkan ke dalam solusi aplikatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Selain berorientasi ekonomi, program itu berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim. “Pengolahan sampah organik berperan penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca seperti CO₂ dan CH₄. Dengan mengelola sampah dari sumbernya, kita berkontribusi langsung menekan potensi pemanasan global,” terang Dr R Azizah.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti nilai ekonomi dari 62 jenis sampah anorganik yang kini dikelola masyarakat desa. Melalui sistem bank sampah, warga memperoleh penghasilan tambahan sekaligus ikut menjaga kebersihan lingkungan.

Sebagai bagian dari inovasi terbaru, Dr R Azizah memperkenalkan aplikasi Environ Earth, sistem digital yang mencatat jumlah sampah yang disetorkan masyarakat sekaligus menghitung estimasi kontribusi mereka dalam pengurangan emisi karbon.

“Aplikasi ini membantu warga memantau hasil setoran, nilai ekonomi sampah, dan dampak ekologis yang mereka hasilkan. Ini bagian dari konsep waste to wealth berbasis teknologi,” papar Dr R Azizah.

Kuliah tamu itu juga menjadi langkah awal menuju rencana konferensi internasional pengembangan komunitas yang akan digelar oleh FKM UNAIR dan WUACD. Dr. Azizah berharap kolaborasi lintas negara itu tidak berhenti pada diskusi, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif.

Waste to Wealth bukan hanya konsep ekonomi, tetapi juga wujud nyata dari kepedulian terhadap bumi dan kesehatan masyarakat. Harapannya, model ini bisa direplikasi di daerah lain di Indonesia,” tutupnya.(*)

Penulis: Nafiesa Zahra

Editor: Khefti Al Mawalia