Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang signifikan yang sebagian besar berdampak pada wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk ini disebabkan oleh virus dengue, anggota genus Flavivirus dalam keluarga Flaviviridae, dan ditularkan terutama melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang terinfeksi. Dibandingkan dengan penyakit lain dan dampaknya, DBD memberikan beban yang sangat besar pada populasi manusia, sektor kesehatan, dan perekonomian di sebagian besar negara tropis di dunia. Kemunculan dan penyebaran virus demam berdarah juga dapat menimbulkan ancaman pandemi global.
Di Indonesia, DBD merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat dengan penyebaran yang sangat cepat dan berpotensi menyebabkan kematian. DBD pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1968 di kota Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dan kematian 24 orang, kemudian menyebar ke seluruh Indonesia dan menyerang segala usia terutama anak-anak. Pada tahun 2017, jumlah kasus DBD di Jawa Timur mencapai 7.254 orang di seluruh Jawa Timur, dengan jumlah kematian mencapai 104 warga.
Pemahaman dan prediksi dinamika penularan DBD sangat penting untuk merumuskan strategi intervensi yang efektif. Selama dua dekade terakhir, pemodelan matematika telah muncul sebagai alat yang ampuh untuk mempelajari penyebaran penyakit menular, termasuk DBD. Penelitian sebelumnya telah memberikan wawasan yang signifikan terhadap berbagai aspek epidemiologi demam berdarah. Dalam penelitian ini, kami mengembangkan model DBD dengan mempertimbangkan tingkat risiko penularan yang berbeda. Dengan memanfaatkan data kasus DBD kumulatif bulanan dari Jawa Timur pada tahun 2018, kami menerapkan algoritma genetika untuk memperkirakan parameter pada model BDB. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keakuratan prediksi model, namun juga memberikan wawasan baru mengenai dinamika penularan DBD. Dengan mengintegrasikan data regional dan teknik estimasi parameter tingkat lanjut, penelitian ini berupaya menawarkan kerangka kerja yang lebih tepat sasaran dan efektif untuk pengendalian DBD. Angka reproduksi dasar yang dihitung sebesar 1,0959 menegaskan status endemis DBD di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi strategi kesehatan masyarakat dan berkontribusi dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Jawa Timur dan daerah endemis serupa di masa depan.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/barekeng/article/view/17477/10699
Authors: F. F. Herdicho, N. A. Hakim, Fatmawati, C. Alfiniyah, J. O. Akanni
Title: Mathematical Model of Dengue Hemorrhagic Fever Spread with Different Levels of Transmission Risk.





