Masyarakat Indonesia semakin peduli terhadap kandungan kolesterol dalam telur, terutama karena kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Namun, tidak semua orang merespons kolesterol dengan cara yang sama. Hanya sebagian orang, disebut hyper-responders, yang mengalami peningkatan kadar LDL (kolesterol jahat) setelah konsumsi telur berlebih.
Untuk mengatasi kekhawatiran ini, para peneliti mulai mengeksplorasi alternatif alami yang bisa meningkatkan kualitas telur tanpa menambah kolesterol. Salah satu bahan yang menarik perhatian adalah tepung daun kelor (Moringa oleifera). Kelor dikenal kaya akan beta-karoten, vitamin C, kalsium, protein, serta antioksidan alami seperti flavonoid dan fenolik. Kandungan ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga mendukung pertumbuhan embrio unggas saat digunakan sebagai pakan tambahan.
Penelitian terbaru yang dilakukan melalui analisis bibliometrik (menggunakan perangkat lunak VOSviewer) menunjukkan bahwa sejak tahun 2019 hingga 2024, minat terhadap pengaruh tepung daun kelor terhadap perkembangan embrio dan kualitas telur meningkat signifikan. Banyak studi mengaitkan Moringa dengan peningkatan warna kuning telur dan potensi penurunan kolesterol.
Meski demikian, daun kelor juga mengandung senyawa antinutrisi seperti tanin dan saponin yang dapat menghambat penyerapan protein dan enzim pencernaan pada unggas, yang tergolong hewan monogastrik. Ini berarti meskipun kandungan protein daun kelor tinggi—hingga 43% menurut beberapa penelitian—tidak semuanya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh unggas.
Namun, kelebihan daun kelor tak bisa diabaikan. Kandungan beta-karoten dalam kelor empat kali lebih tinggi dibanding wortel, menjadikannya sumber alami pewarna kuning telur yang baik. Selain itu, serat kasar dalam kelor juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam telur bebek.
Kesimpulannya, tepung daun kelor merupakan kandidat kuat sebagai bahan tambahan pakan unggas yang ramah lingkungan dan bergizi tinggi. Meski hasilnya belum konsisten secara statistik, tren menunjukkan bahwa moringa berpotensi meningkatkan nilai gizi telur. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk menemukan dosis dan durasi penggunaan yang optimal, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara maksimal tanpa mengganggu penyerapan nutrisi penting lainnya.
Penulis: Dr. Maslichah Mafruchati M.Si.,drh
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Open Veterinary Journal
E- ISSN: 0975-3573





