UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan Museum Digital UNAIR sebagai inovasi pengelolaan arsip sejarah yang dikemas secara modern dan interaktif. Berlokasi di di ASEEC Tower lantai dua, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR, museum ini memadukan arsip fisik dan teknologi digital untuk menghadirkan pengalaman edukatif bagi civitas akademika maupun masyarakat umum.
Pengalaman Interaktif Menikmati Sejarah dengan Teknologi
Visualisasi dalam Museum Digital UNAIR memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang memungkinkan interaksi langsung antara pengunjung dan konten arsip. Melalui pengalaman ini, pengunjung akan menyusuri enam ruang utama museum yang tersusun secara tematis. Salah satu ruang yang menjadi sorotan adalah Ruang Pendidikan NIAS dan Universitas Airlangga. Ruangan ini merepresentasikan perjalanan Universitas Airlangga dengan memanfaatkan teknologi sensor kamera yang mampu melacak keberadaan dan pergerakan pengunjung. Melalui sistem tersebut, konten visual dan audio secara otomatis hadir saat pengunjung berada di titik tertentu.
Dalam wawancara bersama UNAIR News, Koordinator Pengelola Arsip Statis UNAIR, Dedy Triono ST MMT menjelaskan bahwa teknologi tersebut ia kembangkan untuk mengubah citra museum yang selama ini identik dengan arsip fisik.
“Museum digital menggunakan teknologi AI berbasis kamera dengan fitur sensor. Pergerakan manusia akan terdeteksi dan sistem akan memicu tampilan visual maupun audio secara otomatis. Melalui inovasi ini, kami ingin arsip tidak hanya disimpan, tetapi juga bisa dipahami masyarakat dengan cara lebih menarik,” ujar Dedy.

Jejak Kepemimpinan Rektor UNAIR
Museum Digital UNAIR telah melakukan soft opening pada 10 November, yang bertepatan dengan hari ulang tahun Universitas Airlangga. Museum ini juga menampilkan ruang kepemimpinan rektor dari masa ke masa. Ruangan ini merekam jejak 13 rektor UNAIR melalui foto, dokumen penting, serta benda peninggalan yang menjadi saksi perkembangan universitas.
Koordinator Pengelola Arsip Inaktif UNAIR, Dwi Retno Pujiati SIP menyampaikan bahwa arsip yang ada merupakan arsip yang telah melalui proses verifikasi. “Sebagian besar arsip yang kami tampilkan, khususnya di ruang rektor dari masa ke masa, merupakan arsip asli.”
Pengunjung bisa melihat langsung perbedaan kop surat, tanda tangan basah, dan stempel di setiap periode. Digital itu penting, tetapi kami tetap ingin pengunjung mengetahui wujud asli arsip agar pemahaman menjadi lebih utuh dan kontekstual,” jelas Dwi.
Sebelumnya, Museum Digital UNAIR telah menerima kunjungan perdana dari Jejaring Museum Perguruan Tinggi Indonesia (JMPTI) sebelum resmi pembukaan publik. Seiring berjalannya waktu, museum ini mulai banyak mendapat kunjungan oleh mahasiswa serta masyarakat umum. Kehadiran Museum ini sebagai bagian dari upaya pengenalan sejarah Universitas Airlangga. Melalui penyajian arsip secara interaktif, museum ini dapat menjadi sarana edukasi yang memperluas pemahaman publik terhadap perjalanan dan kontribusi UNAIR dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





