Universitas Airlangga Official Website

Museum Sebagai Ruang Edukasi dan Inovasi, UNAIR Hadirkan Akademisi dan Kurator Seni

Penyampaian Materi oleh Dr Mikke pada seminar Unlock Museum: Jelajah Warisan Budaya Gaya Gen Z pada Jumat (7/11/2025). (Foto: Istimewa)
Penyampaian Materi oleh Dr Mikke pada seminar Unlock Museum: Jelajah Warisan Budaya Gaya Gen Z pada Jumat (7/11/2025). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar seminar bertajuk Unlock Museum: Jelajah Warisan Budaya Gaya Gen Z pada Jumat (7/11/2025). Kegiatan yang berlangsung daring melalui Zoom Meeting itu menghadirkan Dr Mikke Susanto MA. Ia adalah seorang akademisi sekaligus kurator dari Institusi Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya UNAIR, Dewi Meyrasyawati, SS MA M HUM menyampaikan apresiasi kepada para pemateri dan peserta. Ia menekankan pentingnya kegiatan yang dapat menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya, terutama di kalangan generasi muda. 

“Menarik sekali ketika kita mencoba mengajak para Gen Z untuk mencintai warisan budaya. Karena ternyata warisan budaya itu tidak harus yang jadul-jadul,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal bagi para generasi muda untuk terus mencintai dan memahami nilai historis serta estetis dari kebudayaan. “Semoga acara ini bisa berjalan lancar dan menjadi aktivitas yang luar biasa kepada para dosen dan mahasiswa,” tambahnya.

Dalam sesi utama, Dr Mikke Susanto MA mengungkapkan bahwa mendirikan museum bukan hal mudah, melainkan membutuhkan konsistensi, modal besar, dan komitmen jangka panjang. “Kota tanpa museum sama dengan kota tanpa sejarah,” ujarnya.

Ia menceritakan pengalamannya berpartisipasi dalam pembangunan Museum Istana Kepresidenan Republik Indonesia pada tahun 2009-2011. Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa mengelola museum bukan hanya soal koleksi, tetapi juga pengunjung. “Ada banyak hal yang harus diurus, bukan saja masalah koleksinya, tetapi juga pengunjungnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyinggung perkembangan studi museologi yang kini menjadi bagian dari program studi Tata Kelola Seni di ISI Yogyakarta. Melalui kegiatan penelitian dan pengabdian, mahasiswa diajak membantu museum-museum di Yogyakarta untuk mengatasi berbagai persoalan, termasuk keterlibatan pengunjung.

Dr Mikke menyoroti perubahan paradigma museum di tengah generasi digital. Menurutnya, Gen Z memiliki cara baru dalam memaknai museum secara lebih interaktif, visual, cepat, dan digital. “Museum kini bukan sekadar tempat menyimpan koleksi tapi ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujarnya.

Ia juga menampilkan berbagai potret revitalisasi museum di Indonesia, seperti Museum Nasional dan Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), yang bertransformasi melalui program kuratorial dan edukasi. Revitalisasi, katanya, tidak hanya fisik, melainkan perluasan fungsi sosial dan ekonomi. “Museum hari ini bisa mencari dana bukan hanya dari tiket, tapi juga dari kegiatan edukasi,” tuturnya.

Dr Mikke menambahkan, kehadiran komunitas menjadi kekuatan baru dalam menghidupkan museum. Kolaborasi, event tematik, hingga festival budaya menjadi bagian dari upaya mengembalikan museum ke tengah masyarakat 

“Hari ini kita bisa lihat museum menjadi destinasi gaya hidup, bukan hanya ruang kunjungan sejarah,” katanya.

Dalam paparannya, Dr Mikke juga membahas karakteristik Gen Z yang tumbuh dalam dunia digital dan visual. Ia menyebut generasi yang lahir antara 1990-an hingga 2010 ini memiliki cara sendiri dalam berinteraksi dengan budaya. “Bagi Gen Z, museum adalah ruang untuk membuka pegalaman dan membuat konten. Ketika fotografi dan videografi jadi mudah, pengalaman itu mereka bagikan dengan cara mereka sendiri,” ungkapnya.

Melalui seminar ini, Departemen Ilmu Sejarah UNAIR berupaya membuka ruang dialog antara dunia akademik, budaya, dan generasi muda, agar warisan budaya tidak hanya diingat, tetapi juga dihidupkan kembali dengan cara yang relevan di masa kini.

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Khefti Al Mawalia